Guru, Revolusi Mental, Pendidikan Karakter

Guru, Revolusi Mental, Pendidikan Karakter

  Rabu, 2 December 2015 07:46   2,183

Oleh: Syamsul Kurniawan

PEMERINTAHAN sekarang di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan M. Jusuf Kalla mengampanyekan pentingnya Revolusi Mental. Revolusi Mental menjadi sesuatu hal yang urgen pada saat sekarang, karena ada keyakinan bahwa pembangunan nasional tidak akan pernah sukses manakala hanya mengandalkan perombakan kelembagaan atau institusional, sementara mental manusianya tidak mengalami perombakan. Karenanya revolusi mental mengandaikan perubahan mindset, pola pikir bahkan paradigma yang selanjutnya mengarah pada perubahan budaya politik dalam rangka membangun bangsa.
Tanggal 25 November 2015 lalu, jamak kita memperingati hari guru nasional. Momentum ini hendaknya menjadi momentum refleksi bagi para guru. Hari ini pendidikan tak ubahnya seperti komoditi saja dan serba tunduk pada hukum pasar yaitu supply and demand). Sementara itu, siswa yang masuk dalam sekolah, pemikirannya terpenjarakan oleh doktrin-doktrin modern dan neoliberal, yang menghendaki kesuksesan hidup ala kaum neolib. Jadilah sekolah menjadi semacam pabrik yang mana guru-gurunya bekerja untuk melahirkan siswa-siswa yang cenderung pragmatis yang kelak menuruti gaya hidup borjuis-kapitalis.
Para siswa diberikan kompetensi yang sekiranya dibutuhkan oleh dunia industri, yang dalam hal ini seperti yang penulis katakana pendidikan diarahkan tunduk pada kemauan pasar. Jadilah sekolah sebagai lembaga yang mensuplai tenaga kerja untuk dunia industri. Pendidikan dengan demikian tidak lagi sebagaimana ideal konsep pendidikan sebagai lembaga pencerahan dan pembangun peradaban, menciptakan peradaban manusia, tapi sekadar mengikuti jalan peradaban yang dibangun oleh para kaum kapitalis-borjuis di atas puing-puing humanisme, bersenjatakan legitimasi ilmu pengetahuan yang mereka kendalikan.
Pendidikan karakter dikesampingkan. Dalam pemikiran sebagian guru di sekolah, yang penting anak cerdas (secara kognitif) di banyak mata pelajaran, soal baik atau tidaknya perilaku anak didik itu (cerdas secara afektif) tidak dipersoalkan. Inilah penyebab kenapa pendidikan karakter atau dalam bahasa kampanye pemerintahan sekarang “Revolusi Mental” menurut penulis akan sulit direalisasikan. Jika menghendaki adanya revolusi mental, sudah barang tentu mindset guru-guru di sekolahlah yang harus dirubah. Hal ini tentu menjadi tugas berat yang harus diemban, apalagi sistem pendidikan nasional yang menghendaki adanya pendidikan karakter, namun dalam pola-pola yang dikembangkan di lapangan hemat penulis masih jauh dari semangat pendidikan karakter.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu: pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kedua, kemandirian dan tanggungjawab; ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; keempat, hormat dan santun; kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; keenam, percaya diri dan pekerja keras; ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; kedelapan, baik dan rendah hati, dan; kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Jika sembilan pilar karakter ini sukses diinternalisasikan oleh para guru di sekolah penulis yakin harapan pemerintah sekarang untuk melakukan revolusi mental bukanlah sebuah mimpi. Hanya jauh panggang dari api, para guru sepertinya terkondisikan untuk menyibukkan diri dengan tetek bengek administrasi sebagai syarat sertifikasi yang ingin ia dapatkan, ketimbang fokus dan serius serta melakukan berbagai inovasi dalam pembelajaran.
Di tengah krisis karakter yang menimpa bangsa saat ini, revolusi mental memang adalah sebuah hal penting dikerjakan. Namun kerja itu bukan sehari dua hari jadi. Revolusi mental hanya mungkin terwujud jika ada komitmen bersama memperbaiki keadaan pendidikan nasional pada hari ini. Pendidikan nasional harus tetap konsisten dalam kerjanya memperbaiki karakter bangsa. Masa depan bangsa ini amat bergantung dari konsistensi pendidikan karakter yang sedang dijalankan bangsa ini. Sejalan dengan ini Martin Luther King, mengatakan; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Harapannya, kampanye tentang revolusi mental atau pendidikan karakter tidak lagi-lagi berakhir sebatas retorika. Untuk itu, komitmen bersama para guru dalam menghadirkan pendidikan karakter di kelas dalam proses pembelajaran amat diperlukan. Kita tentu tidak menghendaki masa depan Indonesia masih diwarnai oleh berbagai bentuk krisis karakter seperti maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik dan perilaku keseharian. Pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius hemat penulis menjadi sangat mendesak untuk diterapkan. ***

*)Dosen Fakultas Tarbiyah dan
Ilmu Keguruan IAIN Pontianak