Guru Garis Depan

Guru Garis Depan

  Selasa, 27 Oktober 2015 13:42

Oleh: Ahmad Rizal Khadapi,SH

Menurut kajian McKinsey Global Institue,  Indonesia (2012)  menempati peringkat ke-16 perekonomian dunia dan memiliki 55 juta tenaga terampil (skilled worker).  McKinsey memperkirakan, pada 2030 Indonesia akan menjadi negara terbesar ketujuh di dunia. Tapi itu masih sekedar prakiraan, bisa saja meleset, kalau kebutuhan skiled worker tidak terpenuhi pada tahun itu. Lebih jauh, Prof.  Rhenald Kasali  berpendapat untuk sampai kesana Indonesia membutuhkan 113 juta skilled worker.

Saat ini sekitar 17 persen dari lulusan perguruan tinggi Indonesia masih menganggur. Keterampilan nyata yang dibutuhkan di dunia kerja tidak mereka dapatkan di bangku kuliah. Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN  (MEA) Desember 2015 nanti, kita tentu patut khawatir melihat daya saing  seperti ini.

Data terbaru Forum Ekonomi Dunia, Indeks daya saing global Indonesia (2015-2016) menurun menjadi urutan ke 37 dari 140 negara dibandingkan tahun lalu urutan ke 34 dari 144 negara. Di ASEAN Indonesia berada di urutan keempat, dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berdasarkan data Bank Dunia, Pendapatan Domestik Bruto (PDB) perkapita Indonesia tahun 2014 sebesar 3. 492 dolar AS masih kalah dari beberapa negara ASEAN lain. Indonesia berada di urutan ke lima.

Berdasarkan data tersebut, kita tentu bertanya apa yang sedang atau telah dipersiapkan oleh pemerintah untuk mengantisipasi kalahnya kita dari negara lain dalam sisi daya saing pembangunan nasional. Sebagian besar mengatakan, selain mempersiapkan pembangunan infrastruktur, hal paling utama yang mesti disiapkan adalah pembangungan manusia Indonesia.

Melihat kondisi pendidikan kita saat ini, yang masih berorientasi pada sisi formalitas. Kita sungguh khawatir akan nasib dan masa depan bangsa. Menurut Prof. Rhenald Kasali, sistem pendidikan dan sosial kita saat ini masih mengidolakan gelar. Jadi sistem pendidikan yang seperti ini masih mengedepankan formalitas belaka, oleh sebab itu  harus segera dirubah. Yaitu dengan sistem pendidikan yang tidak hanya membuat manusia Indonesia  menjadi tenaga terdidik tapi juga betul-betul terampil (Skill Worker).

Karena  itu mulai dari saat ini,  pemerintah perlu menyiapkan tenaga pendidik yang lebih matang. Menurut  Nurzaman selaku Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud dari 3,15 juta guru yang ada, 90 persen sudah mendapat sertifikasi. Lalu apakah dengan demikian sudah akan bisa menjamin mutu pendidikan Indonesia meningkat, yang kemudian berkorelasi positif dengan terbentuknya manusia Indonesia yang terdidik,  terampil, dan memiliki skill worker.

Sebagai catatan kita bersama, sertifikasi guru saat ini masih sebatas belum sebagai sarana peningkatan profesionalitas kerja, tapi sekedar menjadi jalan untuk mensejahterakan guru. Sehingga  dalam hal belum menjadi indikator peningkatan kualitas guru.

Wacana yang mengemuka kemudian adalah membentuk guru garis depan.  Tahun ini pemerintah telah mengalokasikan 3,500 kuota Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk program Guru Garis Depan. Guru ini akan ditempatkan di 150 kabupaten pada 27 provinsi. Dari hal ini tentu kita berharap, bahwa meningkatkan manusia Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan global bisa menjadi salah satu jalan. karena Guru Garis Depan ini adalah para Alumni SM3T (Serjana Mendidik di daerah Terpencil, Terluar, dan Tertinggal) yang berjumlah 12.860 orang.

Lebih dari itu pemerintah seharusnya menjadikan peningkatan kualitas manusia Indonesia yang terididik dan trampil sebagai sekala prioritas utama.  Maraknya pembangunan infrastruktur harus di seimbangkan dengan pembangunan manusia Indonesia. Agar dimasa depan yang menikamati hasil pembangunan infrastruktur tidak hanya para investor atau pemilik modal notabene mayoritas asing, tapi juga dinikmati oleh para tenaga terdidik Indonesia yang terampil dan mempunyai skill mumpuni sebagai pengusaha dan pebisnis masa depan berbasis rasa nasionalisme.

*) Guru SD Terpencil, SGI DD-7