GURU DAN MINDSET MEMBANGUN NALAR-KRITIS

GURU DAN MINDSET MEMBANGUN NALAR-KRITIS

  Minggu, 17 April 2016 10:44   1

SETELAH  penulis mengikuti tes uji kompetensi guru (UKG) TAHUN 2015 dan hasilnya baru dipublikasikan tahun 2016 ini, hasilnya cukup memuaskan bagi penulis. Tetapi, pada tataran lain masih ada juga beberapa peserta UKG yang nilainya masih dibawah standar passing grade pemerintah. Hal inilah yang menjadi potret nyata kualitas guru kita. Pertanyaannya, apakah kompetensi guru di Indonesia sudah baik? Meskipun bagi penulis, di beberapa daerah ada guru yang menonjol dan berprestasi, rerata kualitas guru di Tanah Air masih menyedihkan. Belum lagi, jika hal itu diikuti dengan pengamatan langsung di tingkat sekolah melalui serangkaian pelatihan, sangat terlihat bahwa para guru kebanyakan ialah `pegawai’ sekolah yang kurang memahami filosofi dasar mengajar dan hanya melihat profesi guru sebagai pekerjaan semata.

Kondisi semacam ini, bagi penulis yang notabene seorang guru, tentu saja tak bisa dibiarkan jika kualitas pendidikan kita ingin bergerak maju. Kebutuhan pelatihan guru yang berpangkal pada kebutuhan dasar pengajaran berkarakter harus dilakukan melalui serangkaian strategi yang tepat, sesuai, dan aplikatif di tingkat sekolah. Ada banyak sekolah, negeri dan swasta, yang memiliki tradisi pelatihan yang membangun revolusi mental guru melalui program pengembangan kapasitas yang siklus dan keberlanjutannya dilakukan sendiri oleh pihak sekolah.

Tiga komponen

Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Sumarna Surapranata mengatakan bahwa pelatihan guru merupakan suatu kebutuhan dominan yang harus dilakukan sekolah, minimal sekali dalam sebulan. Materi pelatihan ditentukan berdasarkan peta evaluasi kemampuan guru yang mencakup kecakapan profesi, pedagogis, kepribadian, dan sosial yang diperoleh secara periodik melalui laporan konselor, kepala sekolah, dewan guru, dan evaluasi siswa. Data itu kemudian diolah tim pengembang kurikulum untuk menentukan desain kebutuhan pelatihan guru yang sesuai dengan peta kemampuan guru.

Penulis berpendapat, ada tiga komponen utama yang sedari awal harus dipahami guru ketika akan mengajar. Pertama, ialah menggali kemampuan profesi dan kepribadian guru melalui pengenalan gaya belajar siswa (learning style). Pengetahuan dan pemahaman guru terhadap gaya belajar siswa di banyak sekolah sangat memprihatinkan-untuk tidak menyebutnya sama sekali tak dipahami secara baik. Apalagi, ketika diakses melalui serangkaian tes, sangat terlihat kemampuan guru mengaplikasikan gaya belajar siswa sebagai basis membangun strategi belajar yang tepat bagi anak-anak terlihat masih sangat miskin dan kurang inovatif.

Mengenali keberbakatan anak melalui peta gaya belajar menurut penulis merupakan pengetahuan dasar yang harus dipahami guru, termasuk bagaimana cara memetakan gaya belajar itu dari hari ke hari. Dalam pelatihan, keterampilan membuat instrumen kesiapan belajar siswa (assessment for learning) merupakan suatu keharusan untuk meningkatkan daya nalar dan kritis guru terhadap kondisi siswa secara utuh. Pendampingan terhadap kemampuan guru ini menjadi domain wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kepala sekolah untuk selalu memantau dan mengevaluasinya.

Komponen kedua yang menurut penulis juga penting untuk dilatihkan secara terus-menerus ialah memetakan kemampuan gaya mengajar (teaching style) guru berdasarkan tradisi belajar yang telah diperolehnya selama di perguruan tinggi. Ada banyak guru yang paham definisi kognitif, afektif, dan psikomotorik, tapi ketika gaya mengajar ini dibenturkan dengan gaya belajar siswa, hampir semua guru merasa kesulitan karena di perguruan tinggi gaya mengajar hanya dipelajari dalam konteks pengetahuan semata tanpa ada keterkaitan dengan proses mengamati gaya belajar siswa. Dibutuhkan instrumen yang baik untuk mengajari guru agar memahami secara sekaligus antara gaya belajar dan gaya mengajar.

Penulis menemukan begitu banyak guru yang mengetahui gaya kognisi, afeksi, dan psikomotorik dalam balutan rumus A1, C2, P2 dan seterusnya.

Namun, ketika digunakan dalam praktik belajar mengajar di kelas, itu sama sekali tak terlihat dampaknya terhadap siswa. Pemahaman gaya mengajar dengan cara ini malah membawa guru terperosok jauh ke tradisi nalar statis yang sangat formalistis. Selain kemampuan profesi dan kepribadian tak terasah, pengenalan gaya mengajar secara salah dan serampangan jelas akan membawa guru pada rutinitas mengajar yang sangat kaku dan miskin inovasi.

Komponen ketiga yang juga penting untuk membangun tradisi nalar kritis guru ialah mengenalkan mereka secara aplikatif teori belajar (learning theories) yang sesuai dengan gaya mengajar mereka dan gaya belajar siswa. Pada tahap ini, jika dilakukan simulasi secara kreatif melalui sebuah skema perputaran antara gaya belajar siswa, gaya mengajar guru, dan pemahaman terhadap teori belajar yang pas, dapat dipastikan kemampuan nalar kritis siswa akan meningkat. Dalam waktu yang bersamaan, hal ini jelas akan berdampak juga pada kemampuan nalar kritis siswa. Meskipun ada begitu banyak teori belajar, jika diskemakan dan dipertautkan dengan gaya belajar dan mengajar, menurut pengalaman penulis mengajar, itu justru akan meningkatkan kemampuan instingtif guru untuk cermat dalam memilih teori belajar yang sesuai.

       Bagi penulis, mempertautkan gaya belajar, gaya mengajar, dan teori belajar dalam satu tarikan napas program pelatihan guru di tingkat sekolah jelas akan meningkatkan tradisi nalar kritis guru. Di dalam pelatihan, guru menjadi terbiasa dan familier untuk membuat mind-map ketiga komponen itu dalam rangkaian persiapan mengajar. Misalnya, ketika guru menyadari lebih banyak siswa mereka yang memiliki gaya belajar auditoris, mereka bisa bereksperimen menggunakan gaya mengajar yang mengandalkan aspek kognisi dengan pendekatan teori belajar behavioristik. Ketika dituangkan ke mind-map, terlihat ada begitu banyak inisiatif dan inovasi yang memungkinkan untuk dilakukan guru dalam proses belajar-mengajar di kelas.

       Akhir kata penulis, tak ada yang lebih menyenangkan selain menyaksikan para guru selalu memiliki beragam cara, strategi dan pendekatan, hingga metode dan media belajar yang juga beragam ketika mengajar di kelas. Mereka tak lagi mengandalkan rumus-rumus membuat lesson-plan atau RPP yang biasanya sangat kaku dan hanya berlaku untuk diri mereka sendiri, tetapi abai melibatkan gaya belajar siswa-siswa mereka yang sangat beragam dan dinamis.***

(Guru/Pendidik SMP & SMA Santo Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AGUSTINUS, S.S.

Saya adalah seorang pendidik yang tinggal di Kota Pontianak. Mengajar adalah bagian hobi dalam kehidupan saya karena dengan mengajar, saya bisa berkontribusi bagi dunia pendidikan di Kalimantan Barat. Ikut aktif juga di Sanggar Kesenian, dan menulis adalah bagian aktivitas penting dalam kehidupan saya sebagai guru. Dengan menulis, saya bisa menuangkan ide serta gagasan-gagasan yang ada di pikiran saya. Menulis layaknya mengajar Indonesia.