GURU “MANA ADA”

GURU “MANA ADA”

  Minggu, 22 May 2016 10:20   948

Oleh P. Adrianus Asisi*

GURU memiliki peranan yang teramat strategis pada dunia pendidikan. Dikatakan demikian karena melalui gurulah, pebelajar memeroleh pengetahuan. Meski arti secara harafiah dalam bahasa Sansekerta, guru artinya “berat”, tetapi guru adalah seseorang untuk mengajarkan ilmu. Dalam Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai pendidik profesional dengan tugas 7M, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi pebelajar.

Guru merupakan sumber belajar diri kita dalam memeroleh pengetahuan. Dua pengertian guru, arti sempit yaitu seorang pendidikan yang berada di sekolah formal, informal dan nonformal. Arti luas, bahwa guru adalah seseorang atau sesuatu yang bisa menjadi sumber untuk belajar, tak terbatas pada manusia atau makhluk hidup, tapi dapat berupa benda tak hidup.  

Wikipedia menyampaikan pengertian guru dalam pengertian khusus menurut agama dan negara. Guru merupakan simbol tempat suci, pembagi ilmu (Agama Hindu). Guru adalah orang yang memandu muridnya menuju kebenaran (Agama Buddha). Guru adalah orang yang berilmu (islampos. com). Pandangan Agama Katolik dalam dokumen Garvissimum Educationis menuliskan lima (5) pandangan mengenai guru (seorang ahli dalam bidang pengajaran dan pendidikan,  pengorganisasi alumni, imam, penanggung jawab utama pendidikan formal, pelaku perubahan dan menciptakan generasi berkarakter).

Menurut Nosa Ndrurunias, Guru PAK adalah pendidik yang memiliki kualitas integritas (tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin) berusaha mengembangkan sikap, watak, nilai moral dan mampu mengembangkan potensi anak didik menuju kedewasaan rohani yang beriman dan taat kepada Tuhan Yesus.  Lanjut, dalam Wikipedia menurut Orang India, Cina, Mesir, dan Israel menerima pengajaran dari guru yang merupakan seorang imam atau nabi, sehingga seorang guru sangat dihormati dan terkenal di masyarakat serta menganggap guru sebagai pembimbing untuk mendapat keselamatan dan dihormati bahkan lebih dari orang tua mereka. Sedangkan, dalam pandangan orang Indonesia yang berakar dari istilah Jawa bahwa guru adalah orang yang digugu dan ditiru.

Diskusi warung kopi di ruang guru kami, ada ungkapan yaitu ‘Mana Ada’. Sebagai refleksi dari dua kata itu, penulis menuliskan 2 kata menjadi idiom yang cocok menjadi karakter seorang guru, sehingga judul di atas menjadi Guru MANA ADA. Seperti apakah guru MANA ADA tersebut? Berikut ulasannya.

Pertama, Menarik. Guru harus menarik bagi siswa/i. Kita tahu semua, bahwa seluruh guru di Indonesia menarik perhatian bahkan hati para siswa/i. Faktanya guru menarik hati siswa/i, siswa/i suka belajar dengan gurunya tersebut. Bahkan, ada beberapa siswa/i tak sabar menunggu hari esok untuk menemui gurunya di kelas dalam pembelajaran.

Kedua, Adil. Guru memang dituntut adil terhadap siswa/i. Guru adalah guru yang melakukan apa saja dalam tugasnya secara objektif. Guru demikian adalah guru demokratis, tidak memihak siswa/i tertentu, misalnya hanya perhatian dengan siswa/i yang pintar. Sehingga, guru yang adil adalah merata sikap dan tanggung jawabnya. Adil terhadap siswa dan waktu beraktivitas. Adil akan mengharumkan nama Tuhan dalam tindakan nyatanya.

Ketiga, Naungan. Naungan berarti pelindung. Guru adalah pelindung bagi siswa/inya baik secara badaniah, jiwa maupun karakternya. Karena itu, guru bertanggung jawab terhadap penumbuhan karakter siswa/inya. Guru, pelindung bagi jiwa-jiwa muda, generasi peradaban, karena di tangan mereka pertaruhan nama Indonesia ke depannya. Ajarilah dalam naungan guru, siswa/i hal-hal yang baik, berkarakter ke Indonesiaan. Munculkan kreatifitas dan etos belajar mereka dalam menyongsong Indonesia Emas.

Keempat, Amanah. Dalam etos kerja, Jean Sinamo menyebut kerja adalah amanah, demikian juga guru adalah profesi amanah. Profesi guru adalah panggilan hati, tidak semua orang dapat menekuni profesi ini. Semua orang dapat menjadi guru, tetapi tidak semua orang bisa mengabdi sebagai guru.

Kelima, Anugerah. Guru adalah anugerah terindah dari Tuhan yang telah memilih pribadi-pribadi cerdik cendikia pemuda Indonesia untuk menjadi guru. Patut disyukuri oleh kita semua bahwa ada generasi penerus yang meneruskan profesi guru, seiring pergantian waktu ada saja generasi muda yang menggeluti profesi ini. Mungkin ada hubungannya dengan anak beranak. Semenjak masih ada anak dalam keluarga maka profesi ini tidak akan hilang.

Keenam, Digugu (panutan). Perlu menjadi catatan penting kita semua bahwa guru adalah panutan. Kita semua adalah guru, ketika di lampu merah menyala kita adalah guru. Ketika memiliki sampah di tangan, kita menunjukkan diri sebagai guru bagi orang lain dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam hal perilaku, kita menjadi contoh cerdas seksual dengan akal budi, tidak main seruduk, ada lobang – hantam jak, menjijikkan. Cerdaslah kita sebagi panutan. Mari menyalakan lilin kita sendiri, dari pada kita mengutuki kegelapan.

Ketujuh, Andalan. Menjadi guru yang dapat diandalkan, karena menjadi orang yang digugu dan ditiru. Guru harus terdepan dalam hal menjadi contoh perilaku dan pribadi yang baik. Guru adalah andalan berbagai bidang. Bersedia menjadi di depan dalam hal kepemimpinan, manajemen waktu, bersikap baik dan berperilaku baik, santu, setia dan taat, terutama taat dengan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, setia mendukung NKRI.

Itulah ketujuh kata idiom yang menyertai guru (orang yang digugu dan ditiru) MANA ADA, yaitu guru yang Menarik, Adil, Naungan, Amanah, Anugerah, Digugu dan Andalan. Guru MANA ADA diharapkan menjadikan pendidikan Indonesia dan hasil pendidikan tersebut makin terdepan, berkarakater timur ke Indonesiaan dalam menyejajarkan diri dengan bangsa lain di dunia ini. Mudah-mudahan!

*) Penulis, Guru SMP/SMA Santo Fransiskus Asisi, Kota Pontianak, Kalimantan Barat