Gunung Kelam

Gunung Kelam

Minggu, 6 December 2015 08:08   1

GUNUNG Kelam merupakan salah satu penyumbang kekhasan Kalimantan Barat yang terletak di Kecamatan Kelam Permai, 20 km dari Kota Sintang. Gunung Kelam berada di antara Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai ‘Bukit Kelam’. Bagi mereka yang cukup ‘fit’, pendakian ke puncak Gunung Kelam memerlukan waktu 4-5 jam (naik) dan 3-4 jam (turun) (Wikipedia). Warga masyarakat setempat menyatakan ada beberapa orang yang mampu mencapai puncak gunung ini dalam waktu 45 menit (http://www.gunungbagging.com/kelam/, Dann Quin, Juli 2013).

Dann Quin, 2013, menceritakan dengan detail perjalanan pendakiannya. Pendakian dimulai dari ‘Taman Pesona Wisata Bukit Kelam’ pada ketinggian sekitar 25m di atas permukaan laut. Dimulai dari ‘kaki’ tangga semen yang bertulisan ‘Puncak’. Tangga semen ini sampai ke sebuah kolam pada ketinggian 140 meter. Dari posisi ini, dilanjutkan dengan memanjati sejumlah tangga besi/logam yang menempel kokoh pada tebing. Di posisi paling puncak GPS yang dibawanya menunjuk pada angka 940m.

Sebelum sampai di puncak, pada ketinggian 843 m ada simpangan, ke kiri menuju ‘Batu Berdiri’ dan ke kanan ke ‘Helipad’. Kalau ingin pergi  ke puncak gunung mesti mengikuti arah “Helipad’. Dan, dilanjutkan dengan mendaki lagi sekitar 20-30 menit lagi.Sesungguhnya helipadnya sudah tidak terlihat lagi. Tetapi di sekitar posisi ini ada bangunan semen baru bertulisan ‘TNI’. Di sekitar ini  ada beberapa antene lama/bekas. Inilah posisi tertinggi dari Gunung Kelam (GPS: 940m). Jika ingin ke Batu Berdiri diperlukan waktu sekitar 90 menit lagi dari puncak ini.

Dalam tulisannya yang berjudul “A Preliminary Conservation Assessment of Nepenthes clipeata (Nepenthaceae)” Ch'ien C. Lee, (seorang fotogafer alam dari, Kuching) menyatakan, “Gunung Kelam in fact comprises a single igneous granitic dome, approximately 800m in height”. Bukit Kelam merupakan batu terbesar di dunia. (Toni, 7 Januari 2015, WARTA SINTANG).  Kemiringannya sekitar 15-40 derajat. (Emanuel Edi Saputra,  http://travel.kompas.com/read/2014/12/12/18).

Senen Maryono, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sintang pernah mengatakan bahwa Gunung Kelam itu merupakan batu terbesar kedua di dunia setelah Ayers Rock yang berada di Australia. Mungkin, justru Gunung Kelam-lah lebih tinggi, dalam ukuran sebuah batu yang utuh, daripada Ayers Rock. Karena, ketinggian dataran di sekitar Gunung Kelam hanya sekitar 2-25 meter dari permukaan air laut. Sehingga, tinggi batu yang sebenarnya sekitar 915 meter. Sebaliknya, dataran di sekitar Ayers Rock berada sekitar 250 m di atas permukaan air laut, dan tinggi batunya 348 meter dari tanah di sekitarnya. Panjang Ayers Rock 3.6 kilo meter, lebar 1,9 kilo meter dan panjang kelilingnya 9,4 kilo meter. (uluru-australia.com/about-uluru/uluru-facts/).

Gunung Kelam ditemukan dikujungi oleh orang Barat pertama kali pada tahun 1894. Seorang botanis  Jerman,  Johannes Gottfried Hallier kala itu berburu Nepenthes clipeata (Kantong Semar spesies clipeata) di bukit ini. Ia 5 kali mendaki gunung ini hingga sampai di puncak  (30 Januari-13 Februari). Dalam Wikipedia disajikan dengan rinci catatan pendakiannya. Ia sangat terkesan ‘Mount K'lamm is a unique mountain of grand beauty’, tulisanya.

Seperti di setiap masyarakat adat yang lain, keberadaan Bukit Kelam juga disertai kisah-kisah legenda. Dikisahkan konon ada dua nelayan yang gagah perkasa yang masih-masing menguasai salah satu alur sungai yang mengalir di wilayah Sintang. Bujang Beji dan kelompoknya menguasai Sungai Kapuas.  Tumenggung Marubai dan kelompoknya menguasai Sungai Melawi. Suatu waktu Tumenggung Marubai mendapat ikan lebih banyak dari pendapatan Bujang Beji. Timbullah rasa iri hati dan dendam. Bujang Beji berniat menutup aliran Sungai Melawi dengan batu. Seperti cerita legenda pada umumnya, setiap tindak kejahatan tentu gagal. Batu yang dibawanya dari perhuluan jatuh di daratan antara ke dua sungai itu. Inilah Bunung Kelam.

F. de Keyserl dan Johanna Noya-Sinay (1992) mempublikasikan tulisannya dengan judul ‘History of geoscientific investigations in West Kalirnantan, Indonesia di BMR Journal of Australian Geology & Geophysics. 13. 251 - 273 Q Comrnonweallh of Australla. Mereka mencatat data geologis pertama tentang Kalimantan Barat adalah dibuat oleh C. Schwaner tahun 1816-1850.   Pada tahun 1853-1857 R. Everwijn sebanyak delapan kali melakukan investigasi geologi di Kalimantan Barat yang didekisasikan dalam rangka pembukaan Departemen Pertambangan. Ia memeriksa keberadaan mineral serta menyusun peta awal tambang di Kalimantan Barat.  Sejak itu, secara berkelajutan dan bergelombang investigasi geologis  dilakukan . Wilayah timur Kalimantan Barat dijelajahi oleh van Schelle, Wing Easton, (1879). Gelombang penelitian berikutnya terjadi 1923-1932 memetakan tambang di seluruh Kalimantan Barat. Kegiatan ini terhenti ketika terjadi Perang Dunia ke pertama dan kedua dilanjutkan dengan perebutan kemerdekaan Indonesia. Sekitar tahun 1967, dimulai investigasi yang baru oleh tenaga-tenaga asing. Sekitar 1972, para geologis Australia merambah Kalimantan Barat diikuti oleh para geolog dari negara maju yang lain.

Namun demikian, sejauh yang dapat dilacak fakta geologis batu raksasa Bukit Kelam belum tersedia hingga kini. Karena itu, keberadaan Bukit Kelam ini bisa menjadi tantangan bagi geolog Kalimantan Barat, terutama di Universitas Tanjungpura. Semoga!**

Leo Sutrisno