Gunakan THR dengan Bijaksana

Gunakan THR dengan Bijaksana

  Sabtu, 25 June 2016 09:29
Ilustrasi

Berita Terkait

Perputaran uang di bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri meningkat tajam. Tingkat pengeluaran masyarakat sangat tinggi lantaran banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Terlebih bagi para karyawan dan pegawai, tunjangan hari raya membuat hasrat berbelanja kian menjadi.

Aristono, Pontianak

SUASANA pusat-pusat perbelanjaan modern di Pontianak belakangan ini tampak padat oleh manusia. Plang-plang bertuliskan diskon dan promo menarik lainnya terpampang di berbagai sudut.

Kendati Lebaran masih lebih dari sepekan lagi, masyarakat mulai memborong barang-barang untuk menyambut hari besar umat Islam yang dirayakan besar-besaran tersebut. Hal tersebut tidak lepas dari mulai dibagikannya tunjangan hari raya (THR) bagi para karyawan di Pontianak. Beberapa instansi pemerintah juga sudah mulai mencairkan gaji ke-13 dan ke-14 (THR) untuk para pegawainya.

Ketua Konfederasi Wilayah Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Kalimantan Barat, Suherman mengatakan banyak perusahaan yang sudah membagikan THR karyawannya sejak dua pekan sebelum hari H. Menurutnya hal tersebut layak diapresiasi, supaya masyarakat memiliki persiapan panjang dalam merencanakan dan membelanjakan uangnya untuk kebutuhan Lebaran.

“Kendati dalam aturan, maksimal tujuh hari sebelum Lebaran, harusnya memang sebelum itu sudah dibagikan. Karena sudah menjadi kecenderungan, bahwa pada sepekan sebelum Lebaran, harga-harga terutama makanan dan pakaian naik. Akibatnya nilai THR yang diterima berkurang karena termakan inflasi tersebut,” ucapnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Apabila jangka wakti penerimaan THR agak panjang, lanjut dia, para karyawan juga bisa segera menyusun daftar belanja yang disesuaikan dengan THR yang diterimanya. Pasalnya, biasanya orang akan panik dalam membelanjakan uangnya jika terlalu mepet dengan Lebaran. “Akibatnya banyak barang yang tidak dibutuhkan ikut dibeli. Orang jadi kurang cermat berbelanja. Ujung-ujungnya barang yang harusnya penting, malah tidak terbeli. Akhirnya ngutang,” jelas dia.

Hal senada diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Pontanak, Andreas Acui Simanjaya. Dia mengimbau kepada jajaran pengusaha yang tergabung dalam organsasi tersebut untuk membagikan THR karyawan sejak jauh-jauh hari. “Jangan terlalu jauh harinya, namanya THR ya untuk Lebaran. Bulan dua pekan sebelumnya saya rasa waktu yang pas. Walaupun memang aturannya maksimal H-7. Ini supaya ada persiapan bagi karyawan kita,” papar dia.

Sementara Dosen Ekonomi Universitas Tanjungpura, Helma Malini menyarankan kepada masyarakat untuk menggunakan THR untuk kebutuhan Lebaran saja, sehingga tidak mengganggu pengeluaran bulanan yang bersumber dari gaji. “Bedakanlah gaji dengan THR. Artinya, tidak semua gaji harus dihabiskan untuk kebutuhan lebaran. Tetap lakukan perhitungan dan perencanaan yang baik, agar uang habis sesuai dengan kebutuhan.”

Walaupun deikian, lanjut dia, THR tak bisa dibelanjakan sekehendak hati. Tetap lakukan perhitungan dan perencanaan yang baik, agar uang habis sesuai dengan kebutuhan. “Jelang lebaran, kebutuhan masyarakat meningkat. Apalagi saat ini, lebaran itu berdekatan dengan anak masuk sekolah. Tentu biaya yang dibutuhkan juga besar. Itulah sebabnya penting mengelola uang THR dengan bijak,” ucapnya.

Setali tiga uang, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untan Eddy Suratman menyarakan masyarakat untuk menahan diri dalam berkonsumsi. “Daya beli masyarakat menurun. Alangkah baiknya kalau menahan diri sedikit dulu,” kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis ini. Dia juga mengkritik budaya gengsi dari sebagain masyarakat dalam berkonsumsi.

“Tidak harus baju baru, kendaraan baru, perabotan baru. Kembali makna Idulfitri sesungguhnya. Jangan dipaksakan, maka takutnya orang memenuhi kebutuhannya dengan utang. Kalau sudah utang ini harus waspada,” ucapnya.

Berdasarkan data historis, pada periode Ramadan dan Idulfitri kebutuhan uang di masyarakat baik tunai maupun non tunai mengalami peningkatan, dipengaruhi oleh meningkatnya kegiatan transaksi di masyarakat. Kepala Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Dwi Suslamanto mengatakan kebutuhan uang tunai selama Ramadan dan Idulfitri akan tembus Rp2,1 triliun. “Kebutuhan uang tunai (outflow) periode Ramadhan dan Idul Fitri 1437 H sebesar Rp 2,1 triliun,” tuturnya.

Proyeksi ini sendiri naik sekitar 24,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Adapun realisasi outflow pada tahun sebelumnya adalah sebesar Rp 1,69 triliun. “Proyeksi kenaikan outflow tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pembayaran THR, gaji ke-13 dan ke-14 bagi PNS/TNI/Polri, jumlah hari libur yang lebih banyak dibandingkan tahun 2015, pelaksanaan libur Ramadhan yang bertepatan dengan periode liburan sekolah, serta penambahan titik dan frekuensi penukaran baik oleh Bank Indonesia maupun Perbankan,” pungkasnya. (**)

Berita Terkait