Gunakan Bubuk Kopi Ciptakan Lukisan Indah

Gunakan Bubuk Kopi Ciptakan Lukisan Indah

  Jumat, 14 Oktober 2016 09:30
KARYA LUKIS: Yudi Purbaya, bersama karya lukisnya menggunakan media bubuk kopi. (ARIEF NUGROHO/PONTIANAK POST)

Berita Terkait

Anda tentu pernah mendengar ampas kopi dijadikan sebagai media karya lukis? Ya, selain memiliki aroma harum dan nikmat saat disedu, kopi ternyata bisa digunakan untuk menciptakan karya seni yang indah, seperti lukisan. Yudi Purbaya salah satunya. Pelukis asal Kota Pontianak ini sedang asyik bercumbu dengan karya lukisnya menggunakan media kopi.

ARIEF NUGROHO, Pontianak

KOPI dan budaya ngopi bukanlah barang antik bagi sebagian besar warga Kota Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya. Warung kopi di kota ini bahkan disebut sebagai etalase kehidupan sosial masyarakatnya. Betapa tidak, setiap saat dan waktu kita bisa menjumpai orang duduk santai, mengobrol sambil mimun segelas kopi, tak perduli apa status sosial mereka, yang penting ngopi.

Karakter warna yang dimiliki bubuk kopi setelah bercampur dengan air itu lah kemudian dimanfaatkan oleh usia 44 tahun itu. Sejak dua tahun terakhir, sudah banyak karya lukisan dengan media kopi yang dipanjang di rumah bahkan di beberapa tempat lainnya. Mulai dari realis hingga impresionis. Salah satunya adalah lukisan berjudul 'Pontianak Tempo Doeloe' yang terpajang di Warung Kopi Wak Somet yang terletak di Jalan Karimata, Kota Pontianak. 

Pada lukisan itu, Yudi mencoba menyajikan kembali suasana kota Pontianak pada era sebelum kemerdekaan. Goresan kuas pada kanvas dan warna coklat yang begitu khas dari bubuk kopi memberikan susana baru, namun tidak meninggalkan suasana klasiknya.

"Ini bagian dari proses. Karena kita dituntut untuk kreatif," katanya kepada Pontianak Post, Rabu (12/10). Menurut Yudi, ide ini muncul bermula dari kegemarannya minum kopi. Mulai dari sekedar corat-coret di atas kertas menggunakan ampas kopi, kemudian berlanjut hingga menciptakan sebuah karya. 

Namun begitu, melukis dengan media kopi tidak sesederhana yang difikirkan. 'Cat kopi' lebih sulit ditangani untuk melukis dibanding cat biasa. Pigmen dari kopi lebih lengket menempel pada kuas. Kendala teknis yang dihadapi pelukis juga lebih besar pada saat mengendalikan garis, nada warna (color tones) dan aliran cairan kopi pada permukaan bidang pelukisan. Pendek kata, melukis dengan kopi sangat menuntut kesabaran, ketelatenan dan keberanian bereksperimen.

Proses penciptaan lukisan 'kopi pada kanvas' jelas lebih sulit daripada membikin lukisan 'kopi pada kertas'. Melukis dengan kopi pada kanvas bukan saja membutuhkan teknik khusus, tapi juga peralatan yang spesial. Kuas biasa, misalnya, tidak memadai. Untuk menghasilkan efek visual yang sempurna, ia harus memutar otak agar pas dan cocok untuk menangani tekstur spesifik kopi pada kanvas.

Kepekaan dan kemahiran artistik yang tinggi juga sangat diperlukan dalam melukis dengan kopi. Pasalnya, citra yang telanjur terbentuk pada kanvas tidak bisa direvisi atau dihapus. Dan yang amat penting diantisipasi adalah soal daya-tahan atau keawetan lukisan. Setelah lukisan selesai digarap, tekstur kopi harus tetap melekat kuat pada kanvas, tidak boleh terkelupas atau rontok. Sebagai pigmen alami yang peka terhadap faktor kondisi alam, misalnya kelembaban udara, kopi juga perlu penanganan ekstra supaya lukisan nantinya tidak berjamur, pudar atau berubah warna.

Problem pasca-produksi tersebut akhirnya terpecahkan, yakni dengan mencampurkan bahan sintetis(akrilik), lem,  serbuk semen hingga disemprot menggunakan clear pada lukisan medium-kopi. Namun demikian, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun demikian, Yudi mengaku tidak juga meninggalkan cat sebagai media lukisannya. 

"Ternyata semakin lama semakin menarik. Tidak hanya kopinya, tapi juga aroma yang dikeluarkan dari kopi itu sendiri," katanya. Ia bersyukur, dalam kurun waktu dua tahun ini, karya lukisan miliknya yang menggunakan bubuk kopi bisa bertahan hingga sekarang. Menurut Yudi, proses melukis menggunakan media 'cat kopi', yang pertama adalah menyiapkan bidang lukis, kanvas atau media lain. Selanjutnya menyiapkan bahan-bahan, seperti bubuk kopi, air, lem, kuas dan peralatan lainnya. "Bubuk kopi, lem dan air tidak bisa langsung dicampur jadi satu. Karena kita harus menentukan degradasi warnanya, mau pekat atau tidak," jelasnya.

Menurutnya, melukis dengan media kopi sangat mengasyikan. Ia merasa tidak terbebani dengan warna kopi yang monoton. Untuk membuat satu karya lukisan, kata Yudi, dirinya membutuhkan waktu satu atau dua hari, tergantung besar kecilnya ukuran. 

Meskipun bukan lulusan seni rupa, Yudi mengaku mulai melukis sejak Sekolah Dasar (SD). Bahkan pada usia kelas 4 SD, ia pernah mengikuti pameran yang diselenggarakan di gedung pameran tertutup arena remaja.

"Waktu itu saya lukisan yang saya pamerkan adalah rumah Belanda dengan kandang ayam serta vas bunga. Tapi sayangnya lukisan itu telah hilang," kata laki-laki lulusan Fakultas Kehutanan Untan angkatan 91 itu. 

Namun sayangnya, kata dia, untuk menjadi pelukis di Pontianak tidak bisa total karena perlu energi ekstra. Untuk membuat sebuah karya, si pelukis harus mencari pekerjaan lain. Menurut Yudi, bahkan hingga saat ini apresiasi untuk pelukis sangat kurang.

"Saya berkarya untuk diri sendiri dan mencoba menghargai karya diri sendiri, dengan seperti itu kita bisa dihargai orang lain. Dihargai bukan berarti dalam bentuk materi ya, tapi bagaimana kita sebagai pelukis bisa diakui. terlebih, karya kita dipajang atau disimpan orang lain," katanya.

Yudi bukan satu-satunya pelukis yang menggunakan bubuk kopi sebagai media lukisnya. Di negara lain, bahkan dunia metode ini sudah lama digunakan oleh pelaku seni, khususnya lukis. 

Diantaranya Angel Sarkela-Saur & Andrew Saur. Lebih dari satu dekade pionir dari seni melukis dengan kopi ini telah berkarya menghasilkan banyak karya seni. Lukisan-lukisan dari kopi yang mereka buat biasanya terbuat dari minuman kopi sampai biji kopi. 

Angel dan Andrew juga telah membuat pameran tentang lukisan-lukisan kopi mereka. Tak hanya itu, objek lukisan kopi mereka bukanlah objek-objek sederhana. Objek lukisannya beragam mulai dari fine-art hingga portrait. 

Hingga kini Angel & Andrew Saur telah berkeliling dunia baik dalam rangka pameran ataupun pembicara mengenai seni lukis dengan kopi yang telah diusungnya.

Seniman lain adalah Hong Yi. Hong Yi adalah salah satu seniman yang memilih kopi sebagai media karya seninya. Tak hanya menggunakan kopi sebagai alat lukis pengganti cat, Hong Yi juga menggunakan media cangkir sebagai kuas di atas kanvas. 

Hong Yi menggunakan bagian bawah cangkir tersebut untuk menciptakan lukisan dengan mengatur dan menatanya menjadi wujud dan bentuk-bentuk tertentu. Ajaib memang. Salah satu karyanya yang paling popular adalah portrait song writer asal Taiwan, Jay Chou.

Selanjutnya Sunshine Plata. Jika seniman lain menggunakan kopi dan minuman kopi dalam karya-karya mereka, maka seniman asal Filipina ini menggunakan kopi instan untuk membuat lukisannya. Karyanya bertema rural landscapes dan adegan-adegan magic penuh khayal. Tak hanya menggunakan kopi instan, Sunshine Plata juga memastikan kanvas yang dia gunakan takkan menghilangkan aroma kopi. Jadi lukisannya selain indah dan bisa dinikmati, juga menyimpan aroma kopi yang sedap sepanjang waktu.

Kemudian Karen Eland. Karen Eland menggunakan espresso untuk menghasilkan karya-karya seninya. Pemilihan espresso dinilai karena warnanya lebih gelap dan teksturnya lebih kental dari kopi hitam lain. Karya-karya Karen Eland telah banyak dipublikasikan bahkan dia pernah membuat ulang lukisan terkenal dunia yaitu The Last Supper and Starry Night, tentunya tetap menggunakan espresso sebagai catnya. (**)

Berita Terkait