Gubernur Minta Hujan Buatan

Gubernur Minta Hujan Buatan

  Sabtu, 20 Agustus 2016 10:57
grafis.PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Cuaca panas tanpa hujan yang terjadi dalam sepekan terakhir membuat titik panas (hotspot) di wilayah Kalbar meningkat secara signifikan. Demi menanggulangi hal tersebut, Gubernur Kalbar Cornelis telah menetapkan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta meminta BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) membuat hujan buatan.

Seperti diketahui, satelit Modis dari NASA mendeteksi 158 hotspot di Kalbar pada, Jumat (19/8) pagi. Sehari sebelumnya, pada Kamis (18/8), jumlah hotspot di Kalbar terdeteksi sebanyak 106 titik. Artinya selang satu hari saja sudah ada penambahan sebanyak 52 titik panas.

Sebelumnya Cornelis telah menetapkan siaga darurat Karhutla yang belaku mulai 1 Juni hingga 1 September 2016. Untuk mengatasi hotspot yang semakin meluas, maka Cornelis telah mengajukan surat permintaan kepada BNPB agar dibantu helikopter untuk water bombing, hujan buatan dan helikopter patroli, Selasa (16/8).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, BNPB telah menyiapkan dua helikopter water bombing. Sementara ini perizinan terbang yang diajukan ke Kementerian Perhubungan masih diproses.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menyiapkan pesawat terbang Cassa TNI AU dan bahan semai (garam) untuk hujan buatan. Diperkirakan hujan buatan baru dapat dilakukan minggu depan.

"Keterbatasan pesawat terbang menyebabkan operasi hujan buatan seringkali terkendala. Untuk meng-cover wilayah Kalimantan diperlukan pesawat Hercules C-130 yang mampu menjelajah luas dan membawa bahan semai delapan ton untuk hujan buatan," jelasnya.

Sementara itu, jumlah hotspot di seluruh wilayah Indonesia selalu fluktuatif setiap harinya. Dari satelit Modis terpantau sebanyak 339 hotspot pada, Jumat (19/8) pagi yaitu sebanyak 218 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang (30%-79%) dan 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan tinggi (80%-100%).

Dari sebaran 218 hotspot untuk tingkat kepercayaan sedang terjadi di Kalbar sebanyak 96 titik api, sementara sisanya berada di daerah Kalimantan lain, hingga Pulau Sumatera, Sulawesi dan Jawa. Sedangkan dari 121 hotspot untuk tingkat kepercayaan tinggi tersebar di Kalbar sebanyak 62 titik api, sisanya berada di daerah Kalimantan lain, hingga Sumatera, Sulawesi dan Jawa.

Sejauh ini daerah yang paling berpotensi mengirim kebut asap ke negara tetangga adalah Provinsi Riau, hingga kini di sana masih terjadi kebakaran hutan di beberapa tempat. Pantauan satelit menunjukkan sebaran asap atau gas CO2 menyebar hingga Selat Malaka. "Namun demikian belum mempengaruhi kualitas udara di Malaysia dan Singapore. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Malaysia dan Singapore masih baik," jelasnya.

Untuk itu upaya pencegahan dan pemadaman karhutla terus dilakukan oleh ribuan personel satgas terpadu dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, relawan dan karyawan perusahaan perkebunan. Bulan September adalah puncak kemarau dan menjadi periode kritis kebakaran hutan dan lahan. Umumnya pada periode September adalah paling banyak hotspot di Kalimantan dan Sumatera. "Oleh karena itu penanganan terus diintensifkan," pungkasnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak, Aswin Thaufik menambahkan, untuk Kota Pontianak, Jumat (19/8) kemarin, sedikitnya telah terjadi kebakaran lahan di enam lokasi berbeda. Pertama di bekas kebakaran sebelumnya, di Kompleks Pemda, Jalan Parit Haji Husin (Paris) II, Pontianak Tenggara. "Sejak jam 07.00 pagi hingga 11.00 siang sudah kami padamkan," ungkapnya, Jumat (19/8) sore.

Kemudian siang hingga sore ada tiga lokasi lagi yang dipadamkan yaitu di Gang Al Muhsin, Jalan Purnama dan di Jalan Parit Demang, Pontianak Selatan serta di Jalan Kebangkitan Nasional, Pontianak Utara. "Yang di utara ini yang paling besar luas lahannya sekitar tiga hektare, baru saja selesai dipadamkan," ucapnya.

Ada dua lagi lokasi yang dipadamkan mulai sore hingga malam hari yaitu di ujung Jalan Parit H Husin II dan di Taman Sungai Raya II, Pontianak Tenggara. "Di Parit H Husin II lokasinya memang agak sulit karena jarak sumber air terdekat mencapai 600 meter, lalu yang di Taman Sungai Raya II warga kompleks juga turun menebas lahan untuk dibasahi, karena api sudah mendekati kompleks," jelasnya.

Menurutnya sejauh ini penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, karena kelalaian warga yang sengaja membakar. Dari kasus yang terjadi di Kota Pontianak sudah ada beberapa tersangka yang diamankan dan sebagian lagi masih diselidiki.

Aswin pun mengimbau agar warga tidak melakukan pembakaran dengan sengaja. Sebab ketika musim kemarau seperti ini sebaran api susah terkendali.

"Apalagi jika di lahan gambut. Meski di bagian atas sudah dipadamkan, bagian bawah masih bisa merembet dan membakar wilayah lain. Karena itu kami bekerja sama dengan TNI dan Polri sudah dipesankan oleh bapak wali kota untuk menindak tegas para pelaku," tutupnya.(bar)

Berita Terkait