Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan

Green School Bali, Sekolah Alam yang Unik dan Ramah Lingkungan

  Minggu, 16 Oktober 2016 09:49
Di tengah Hutan: Kompleks Green School di Badung yang hijau dan artistik. Siswa kerasan karena belajar di alam terbuka. green schol bali for Pontianak Post

Berita Terkait

Bikin Penasaran Ban Ki-moon dan David Copperfield

Sekolah terkadang bisa menjadi tempat yang membosankan bagi siswa. Tapi, dengan segala keunikannya, bersekolah di Green School Bali dijamin tidak membosankan. Apa yang membuat sekolah itu berbeda? 

DINARSA KURNIAWAN, Bali

JOHN Hardy memutuskan untuk menjelajahi Bali pada awal 2006. Dia menunggang motornya untuk berkeliling ke pelosok Pulau Dewata dengan tujuan memenuhi ambisinya membangun sekolah. Namun, karena yang akan dibangun berbeda dengan sekolah kebanyakan, dia mencari lokasi yang tidak biasa. 

Pria yang membangun bisnis perhiasan di Bali sejak 1975 itu ingin memenuhi ambisi besar tersebut sebelum pensiun sebagai desainer perhiasan. Setelah berkeliling beberapa lama, dia akhirnya menemukan tanah lapang dengan kontur naik turun di Sibang Kaja, Abiansemal, Badung. 

John pun tertarik dengan tanah yang berimpitan dengan Sungai Ayung itu, lalu memutuskan untuk membelinya. Di atas tanah seluas 4,55 hektare tersebut, John dan istrinya, Cynthia Hardy, mendirikan Green School Bali (GSB) yang fenomenal. Untuk mewujudkan ambisi itu, John rela menjual sebagian saham di brand perhiasan yang didirikannya tersebut. 

Perjuangan John Hardy itu dikisahkan oleh Leslie Medema, kepala GSB, saat ditemui di kantornya yang berbentuk saung bambu tanpa pintu pada Jumat (7/10). ”Well, awalnya juga ada kekecewaan dari John tentang pendidikan yang diterima anaknya saat itu,” ungkap perempuan dari Dakota Selatan, Amerika Serikat, tersebut dengan bahasa Inggris bercampur Indonesia. 

John dan Cynthia lalu menerjemahkan ide itu menjadi sebuah sekolah yang menghargai keberlangsungan (sustainability), terintegrasi dengan masyarakat, mengajarkan entrepreneurship, dan tanpa sekat. Konsep suami istri dari Kanada yang menetap di Bali sejak 30 tahun lalu itulah yang terlihat di GSB sekarang.

Saat menginjakkan kaki di GSB, saya berpikir bahwa sekolah-sekolah alam yang bertebaran di berbagai kota besar di Indonesia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sekolah alam di Bali itu. Di sekolah tersebut, para siswa tidak sekadar masuk ke sekolah alam. No, ini beyond sekolah alam. 

Di GSB, para siswa benar-benar menyatu dengan alam sekitar. Mereka menimba ilmu di sekolah yang didirikan di tengah hutan. Benar-benar hutan. Bahkan, saat berjalan menyusuri jalan setapak di sekolah beralas tanah itu, Anda akan disambut nyaringnya suara tonggeret. 

Pepohonan dan bambu tumbuh di mana-mana. Semua bangunan sekolah juga dibuat dengan material alami. ”Kami ingin anak-anak belajar dari alam dan lingkungan sekitar. Mereka yang menentukan apa yang ingin mereka pelajari,” urai Leslie. 

GSB resmi dibuka pada 1 September 2008 dengan 97 murid dari grade 1 sampai 8. Kini yang dibuka GSB mulai pre-kindergarten (kelompok bermain) sampai high school (SMA). Jenjang SMA baru dibuka empat tahun lalu. Jumlah siswanya meningkat sangat pesat bila dibandingkan dengan kali pertama sekolah itu dibuka. Saat ini ada 384 siswa yang berasal dari 33 negara. 

Nah, murid sebanyak itu diajar oleh 64 guru yang berasal dari 15 negara. Dua guru di antaranya bergelar doktor. Sebanyak 20 pengajar lain bergelar master dan 42 guru sisanya sarjana. ”Sebagai kepala sekolah, ini adalah blessing sekaligus challenge, punya banyak murid dan guru dari berbagai negara,” ungkap perempuan berambut pirang bergelombang itu, lantas tertawa.

Lalu, di antara para murid, 31 anak Indonesia mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di GSB. Ada juga 272 siswa dari Indonesia yang mengikuti after school class. Mereka adalah para siswa dari sekolah-sekolah di kawasan Sibang Kaja. 

Selain menyatu dengan alam, GSB melebur dengan budaya dan komunitas sekitar sekolah. Penghargaan terhadap komunitas lokal dan budaya setempat juga tampak dari adanya pura di area sekolah. Bukan hanya itu, seluruh warga sekolah juga mengikuti perayaan hari-hari besar Hindu. Misalnya Saraswati, Galungan, Nyepi, atau Kuningan. 

”Saraswati biasanya paling ramai. Bisa sampai 500 orang. Mereka merayakan di sekolah bersama warga sekitar,” jelas Leslie.

Ikon sekolah itu diberi nama Heart of the School. Wujudnya berupa tiga rumah panggung bertingkat yang berimpitan. Bangunan yang memiliki luas 4.500 meter persegi tersebut memang layak menjadi jantung sekolah yang berjarak 20 km dari Denpasar itu. 

Tidak ada semen, apalagi beton, di sekujur bangunan bertingkat tiga tersebut. Seluruh bangunan terbuat dari bambu. Bangunan bambu raksasa yang disebut sebagai konstruksi bambu terbesar di Asia itu tidak sekadar terletak di tengah-tengah GSB. Tapi juga menjadi jantung dari kegiatan siswa dan guru di sekolah tersebut. 

Pengunjung pasti dibuat terperangah oleh bangunan itu. Bangunan yang secara total menggunakan 2.500 tiang bambu tersebut didesain Elora Hardy, putri John. Bambu dipilih karena tumbuhan dengan nama Latin Bambusa sp itu melimpah di lokasi sekolah tersebut  

”Hampir seluruh bangunan di sini memang dibuat dari bambu,” papar Leslie. 

Hanya ada satu bangunan yang dibuat dari kayu, yaitu ruang yoga. Bangunan di tepi Sungai Ayung menggunakan kayu bekas kapal sebagai material. 

Satu lagi yang menjadikan bangunan-bangunan di sekolah itu unik, yakni tidak ada pintu alias semua serba terbuka. Filosofinya, sang pendiri berharap para siswa tumbuh di lingkungan yang bebas tanpa sekat. Seperti juga ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari oleh siapa saja. 

Faktor keramahan lingkungan serta energi yang bisa diperbarui memang menjadi isu sentral di sekolah tersebut. Karena itu, tidak heran para siswa didorong untuk menanam sayur-mayur secara organik. Mereka juga menanam padi yang nanti dimakan bersama di kantin sekolah. 

Listrik untuk memenuhi kebutuhan sekolah diusahakan secara mandiri dengan membangun solar panel dan microhydro power (pembangkit listrik tenaga air/PLTA mini) yang ditempatkan di tepi Sungai Ayung. Bukan hanya itu, bus sekolah yang digunakan untuk antar-jemput murid juga berbahan bakar ramah lingkungan. Bus yang diberi nama Bio Bus itu menggunakan bahan bakar biofuel dari minyak bekas menggoreng. 

”Bus itu awalnya juga berasal dari proyek siswa,” ucap Leslie, yang sebelum menjadi kepala sekolah pernah mengajar mata pelajaran sejarah, pidato (speech), dan life skill itu.

Dengan segala keunikan yang dimiliki, sejumlah penghargaan pun berhasil diraih sekolah tersebut. Di antaranya, GSB pernah dinobatkan sebagai Greenest School on Earth (sekolah paling hijau di bumi) pada 2012. Award itu diinisiatori oleh Center for Green Schools at the US Green Building Council.  

Keunikan bangunan-bangunan bambu itulah yang mengantarkan GSB menjadi salah satu finalis Aga Khan Award for Architecture pada 2010, penghargaan arsitektur yang diberikan sejak 1977. 

Bangunan eco-friendly plus hutan yang menjadi lokasi sekolah itu tentu memaksa para siswa yang awalnya masuk sekolah konvensional di kota untuk beradaptasi. Namun, menurut Leslie, proses adaptasi siswa tidak membutuhkan waktu lama. Sebab, pada dasarnya, alam yang penuh petualangan itulah yang disukai anak-anak. Anak-anak bebas berlarian menerabas hutan. Juga berenang di sungai ataupun berendam di kolam lumpur.  

”Ya, terkadang mereka jatuh, lecet-lecet, atau menangis. Namun, bukankah itu inti dari hidup? Terkadang kita jatuh dan harus kembali bangkit,” ucap Leslie. 

Perempuan yang sudah enam tahun tinggal di Bali tersebut mengatakan, karena lingkungan yang sangat fisik itulah, anak-anak didiknya rata-rata selalu fit dan jarang sakit. Itu ditunjang dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti sepak bola, basket, sampai yang spesifik seperti trail running. 

Murid-murid memang menjadi pusat perhatian para guru dan staf sekolah. Walau begitu, tidak berarti peran orang tua dilepaskan begitu saja dalam pendidikan anak. Sebaliknya, orang tua sangat dilibatkan. Misalnya, secara berkala ada pertemuan guru dengan murid. Kegiatan-kegiatan bagi orang tua pun banyak di sekolah itu. Di antaranya, kelas yoga dan kelas belajar bahasa Indonesia. Orang tua murid juga dibebaskan untuk nongkrong di wilayah sekolah. 

Salah satu orang tua murid di sekolah itu adalah model dan presenter Nadya Hutagalung. Presenter Asia’s Next Top Model (cycle 1) itu menyekolahkan dua anaknya di sana. Namun, pihak sekolah tidak memberi tahu identitas dua di antara tiga anak Nadya yang disekolahkan di GSB.

Dengan segala keunikannya, GSB menjadi tempat rujukan untuk belajar tentang berbagai hal. Di antaranya, Dirjen PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kemendikbud yang berkunjung pada awal Oktober dan para mahasiswa jurusan arsitektur dari sejumlah universitas.

Tidak hanya menarik minat dari dalam negeri, reputasi sekolah yang sudah mendunia juga menarik minat para tokoh internasional untuk bertandang ke sana. Di antaranya, aktivis lingkungan Alexandra Cousteau. Ada pula sejumlah public figure dunia seperti aktris Daryl Hannah plus model superkondang kreator acara America’s Next Top Model Tyra Banks. 

”Tapi, Tyra Banks tidak sedang mencari model di sini,” seru Leslie, lalu terbahak. 

Dari dunia fashion, ada nama Donna Karan, pemilik brand fashion terkenal DKNY. Dia pernah datang ke GSB. Ada juga magician yang sangat terkenal, David Copperfield. Satu nama tenar lain yang pernah menginjakkan kaki di kompleks GSB adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon. 

Pejabat dari Korea Selatan itu berkunjung pada 28 Agustus 2014. ”Ini adalah sekolah yang paling unik dan impresif yang pernah saya kunjungi,” ungkap pria 72 tahun itu seperti dikutip dari website GSB. 

Nah, untuk mengetahui kehidupan sekolah dan berbagai bangunan yang terdapat di dalamnya, pengunjung dari kalangan masyarakat umum bisa mengikuti tur yang dibuka institusi pendidikan tersebut. Jadwal tur setiap weekday mulai pukul 09.00 sampai 10.00. Sedangkan jadwal tur weekend mulai pukul 10.30 sampai 11.30. 

Tur tersebut mampu menarik minat pengunjung. Misalnya yang terlihat saat Jawa Pos mengikuti tur pada Jumat (7/10). Ketika itu ada 20 orang dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Selandia Baru, Italia, Nepal, dan Indonesia yang menjadi peserta tur. 

Berbekal headset yang menempel di telinga, para partisipan tur mendengarkan penjelasan dari Kate Druhan yang memandu tur sembari menjelajahi pelosok sekolah. ”Fee untuk mengikuti tur itu, salah satunya, digunakan sebagai sumber pendanaan bagi para siswa yang medapatkan beasiswa,” terang perempuan dari Australia yang juga ketua komite sekolah tersebut. (*/c11/ari) 

Berita Terkait