Gratiskan Pendidikan Bagi Anak Tak Mampu

Gratiskan Pendidikan Bagi Anak Tak Mampu

  Selasa, 20 September 2016 10:04

Berita Terkait

 
Suningsih berasal dari desa transmigrasi di Kubu Raya. Sejak remaja ia memiliki keinginan yang besar, yakni mendirikan taman kanak-kanak di desanya. Kini, perempuan berusia 47 tahun ini berhasil mendirikan dua taman kanak-kanak dan satu sekolah dasar di tempat tinggalnya. Ia pun menggratiskan biaya pendidikan bagi anak dari keluarga tak mampu.

 

Oleh: Chairunnisya

 

Suningsih tak pernah lupa awal perjuangannya mendirikan taman kanak-kanak di Desa Sidomulyo yang dulu bernama Sidorejo. Ketika itu tahun 2004. Di desa tersebut belum ada taman kanak-kanak.

“Saat itu juga belum ada program PAUDNI (Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal),” ujar Suningsih.

Dengan modal keberanian, Suningsih membuat pengumuman tak resmi di warung kakaknya. Ia akan membuka taman kanak-kanak pada hari Senin pukul 15.00. Ternyata pada hari dan jam yang ditentukan, sebanyak 45 anak berkumpul di rumah orangtuanya.

“Saya terkejut, kok ternyata banyak. Padahal saat itu saya tak punya gedung dan belajarnya menumpang di ruang tamu orangtua saya,” kata Suningsih.

Hari pertama belajar itu, Suningsih pun menangis. Para orangtua yang hadir juga menangis. Ia begitu terharu melihat kepercayaan para orangtua.

“Saya tanyakan, kok orangtua menangis juga. Ternyata mereka menangis karena melihat saya menangis,” ungkap Suningsih sambil tertawa.

Akhirnya pada hari pertama itu, mereka belajar hanya menggunakan tikar. Suningsih menggunakan papan triplek yang ada sebagai papan tulis. Ia mengajar seorang diri karena tak yakin bisa menggaji guru.

“Tetapi abang saya, Pak Warimin dan suami saya sangat mendukung. Mereka terus memberikan dukungan,” ujar istri dari AKP Sugiono ini.

Sebenarnya keinginan mendirikan taman kanak-kanak ini terbersit di benak Suningsih sejak remaja. Perempuan kelahiran 3 April ini berasal dari Kampung Sidomulyo yang dulu bernama Sidorejo, Kubu Raya.  “Orangtua saya mengikuti program transmigrasi pertama di sana. Saya lahir di sana,” katanya.

Ketika kecil, Suningsih bercita-cita menjadi polwan. Setelah lulus SMP, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Sekolah tersebut menjadi pilihan dengan pertimbangan, jika tak lulus polwan, Suningsih bisa menjadi guru.

Ia pun mengambil jurusan Sekolah Luar Biasa (SLB). Tetapi ternyata jurusan tersebut harus melanjutkan ke Surabaya sehingga dihapuskan. Suningsih pun pindah ke jurusan taman kanak-kanak.

Ketika duduk dibangku kelas 2 SPG, muncul keinginan mendirikan taman kanak-kanak di desa kelahirannya. “Saya ingin paling tidak ada TK di desa saya” jelas Suningsih.

Ketika lulus SPG pada 1989, Suningsih mengajar di TK milik perusahaan Alas Kusuma di Kumpai, Kubu Raya. Taman kanak-kanak di sana baru dibuka dan tenaga pengajarnya hanya dua orang, yakni Suningsih dan seorang teman. Selang dua tahun, ia pun diangkat menjadi kepala sekolah.

Pada 1998, setelah melewati perjalanan panjang, Suningsih lolos menjadi CPNS. Ia ditempatkan di taman kanak-kanak negeri di Sintang. Setelah tiga tahun di sana, ia mengajukan mutasi karena mengikuti sang suami.

“Pada 1 Januari 2001, saya di mutasi di TK Wisuda di Kubu Raya. Kemudian dipercaya menjadi kepala sekolah,” kata Suningsih.

Pada 2004, ia pun mendirikan TK Perintis 1 di Desa Sidomulyo. Paginya Suningsih mengajar di TK Wisuda, dan sore harinya mengajar di TK yang didirikannya itu. Setelah dua bulan berjalan, ia berhasil membangun gedung di atas tanahnya. Bangunan TK Perintis 1 terletak tak jauh dari rumah orangtuanya.

“Begitu satu lokal jadi, kami langsung pindah. Alhamdulillah selesai (terbangun) empat lokal,” ungkapnya.

Setelah berjalan setahun, warga di sana memintanya mendirikan sekolah dasar. Ini dikarenakan jarak tempuh ke SD negeri terdekat cukup jauh. Bahkan kadang anak-anak naik ojek yang satu motor berisi lima anak. Akhirnya Suningsih pun mengkonfirmasi pendirian SD itu masyarakat ke Dinas Pendidikan. Pihak dinas pun melakukan survei, dan akhirnya pada 2005 berdiri SD Perintis.

“Jadi TK Perintis 1 dan SD Perintis itu satu atap di Kuala 2, Rasau Jaya,” tuturnya.

Seiring berjalan waktu, yayasan yang menaungi TK Wisuda tempat Suningsih mengajar menyatakan tak mampu operasional lagi. Kemudian pihak Dinas Pendidikan mendatanginya.

“Mereka katakan, ibarat kapal mau tenggelam, tolong selamatkan. Tetapi saya ragu, nanti dikira orang saya tamak. Saya tak mau. Tetapi pihak dinas terus meyakinkan,” ujar Suningsih.

Akhirnya pada 2006, berdirilah TK Perintis 2. Awalnya hanya menggunakan garasi yang disekat-sekat. Tetapi akhirnya kini mampu memiliki gedung sendiri.

“Tenaga pengajar di Lembaga Perintis Bangsa ini sebanyak 90 persen adalah sarjana. Totalnya ada 25 tenaga pengajar. Kedepannya kami akan melanjutkan pada SMP Perintis,” ujar Ketua IGTKI Kubu Raya ini.

Sejak awal mendirikan sekolah, Suningsih memiliki visi misi yang menginginkan semua anak dari berbagai lapisan masyarakat baik kurang mampu maupun mampu dapat menikmati pendidikan PAUD. Ia pun menerapkan subsidi silang. Anak yang tak memiliki orangtua dan anak tak mampu akan  diberi pendidikan gratis. Mereka dibebaskan dari uang sekolah. Bahkan, juga ada ada program seragam gratis.

Setiap pertemuan bersama orangtua murid, Suningsih selalu bertanya apakah ada anak tak mampu di lingkungan sekitar. Jika ada, ia meminta agar anak tersebut diajak ikut PAUD dan digratiskan.

Suningsih berharap kedepannya tak ada lagi anak usia dini yang tak ikut PAUD. “Ini sangat penting karena merupakan masa emas. Inilah dasar untuk generasi kedepan,” jelasnya. **

Berita Terkait