Grand Bazaar Tak Seramai sebelum Kudeta

Grand Bazaar Tak Seramai sebelum Kudeta

  Senin, 10 Oktober 2016 09:16
DI ANTARA DUA BENUA: Jembatan Bhosporus yang menghubungkan Istanbul Asia dan Istanbul Eropa.

Berita Terkait

Selama 90 hari sejak kudeta yang gagal 15 Juli lalu, Turki berada dalam keadaan darurat. Di beberapa tempat, ketegangan sangat terasa. Berikut laporan CANDRA WAHYUDI yang baru pulang dari Istanbul.

--

Salim tidak akan pernah melupakan detik-detik terjadinya kudeta. Malam itu dia berada dalam perjalanan pulang dari Marmara ke Istanbul. Salim dan keluarga selesai berlibur di wilayah pantai nan eksotis di selatan Turki tersebut. 

Perjalanan dengan mobil selama delapan jam itu berjalan mulus. Tapi, semuanya berubah saat hendak memasuki Istanbul. Mobil Salim tertahan di akses menuju Jembatan Bosphorus. Jembatan yang menghubungkan Benua Asia dan Eropa tersebut diblokade tentara. Tank dan kendaraan militer bersiaga. Arus kendaraan dari Istanbul Asia tidak bisa masuk ke wilayah Istanbul Eropa. 

Salim bingung. Tidak tahu apa yang terjadi. Namun, bapak dua anak itu tidak kekurangan akal. Sejurus kemudian, dia memutar balik mobilnya meninggalkan jembatan. Salim memutuskan menyeberangi Bosphorus dengan kapal. Begitu sampai di seberang, dia langsung memacu mobil menuju rumah. 

Dari radio mobil, Salim mendapatkan kabar mengejutkan. Kudeta. Blokade Jembatan Bosphorus, pergerakan tentara, serta raungan jet tempur dan helikopter pada malam itu adalah bagian dari aksi kudeta militer. ”Saya masih tidak percaya,” katanya.

Sesampai di rumah, Salim langsung menyalakan televisi. Kali ini dia baru menyadari bahwa kudeta benar-benar terjadi. Tayangan televisi menampilkan aksi tentara yang memblokade Jembatan Bosphorus. Juga pergerakan kendaraan militer di Ankara, ibu kota Turki. Ada juga serangan helikopter ke gedung parlemen.

Salim terus memantau situasi dari layar kaca. Beberapa saat kemudian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan muncul di televisi. Tidak secara langsung. Tapi lewat aplikasi FaceTime dari telepon pintar sang pembawa acara. Erdogan membenarkan telah terjadi kudeta. Dia lantas mengajak rakyat Turki turun ke jalan, melawan para tentara pemberontak. 

Ajakan sang presiden terbukti ampuh. Rakyat Turki langsung keluar rumah. Utamanya di Ankara dan Istanbul, dua kota terbesar Turki. Salim pun tidak mau ketinggalan. ”Saya ambil wudu dan kemudian keluar rumah,” katanya. Dia bergabung dengan ribuan warga lainnya. Tanpa ada komando, mereka bergerak menuju pusat kota. Ada juga yang nekat menantang para tentara pemberontak. Menghadang laju tank dan kendaraan militer.

Salim memilih menuju bandara. Dia ingin menjemput Erdogan yang malam itu tiba dari Marmara. Suasana saat itu sungguh heroik. Salim mengungkapkan, di sepanjang jalan warga mengumandangkan takbir dan mengelu-elukan Erdogan. ”Saya sampai merinding,” ungkap pria yang mengaku penggemar klub sepak bola Besiktas tersebut.

Gelombang rakyat yang turun ke jalan semakin masif. Hal itu membuat tentara pemberontak semakin terdesak. Selain itu, jumlah mereka tidak banyak. Hanya sebagian kecil dari militer Turki. Karena itu, hanya dalam hitungan beberapa jam, situasi kembali terkendali. Pemerintah Turki menegaskan bahwa kudeta telah gagal.

Tokoh pergerakan Turki Fethullah Gulen disebut-sebut sebagai dalang kudeta. Versi pemerintah, Gulen-lah dalang aksi makar yang menewaskan sekitar 200 orang tersebut. Hal yang sama diyakini Salim. Juga mayoritas rakyat Turki.

Ketika saya  menyebut nama Gulen, Salim terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah tegang. Setelah menghela napas, dia menyebut kata-kata kasar untuk Gulen. ”Siapa lagi kalau bukan dia (Gulen, Red),” cetusnya. 

Menurut Salim, kelompok Gulen adalah teroris. Dia mengaku punya saudara yang ikut dalam kelompok Gulen. Dan dia sangat menyayangkan hal tersebut. Terlebih, Gulen kini tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Salim menduga aksi kudeta yang digagas Gulen mendapat sokongan negara asing. ”Mereka tidak ingin Turki menjadi negara yang kuat. Mereka ingin menghabisi Turki,” serunya.

Kudeta malam itu memang terkesan nanggung. Kekuatan militer para pemberontak sangat kecil. Memang sempat ada kendaraan berat dan bahkan pesawat tempur yang dikerahkan. Namun, kekuatan kubu pemberontak tidak sebanding dengan militer yang pro pemerintah. Selain mendapat perlawanan hebat dari rakyat, aksi makar itu tidak mendapatkan sokongan politik. 

Menurut M. Sya’roni Rofii, kandidat doktor ilmu politik Marmara University, pemerintahan Turki sekarang sangat kuat. Tidak hanya secara politik, tapi juga dukungan dari rakyat yang sangat besar. Upaya kudeta yang diyakini diinisiatori kubu Gulen tidak cukup kuat untuk mendongkel Erdogan. Selain disokong rakyat, dalam kasus kudeta, Erdogan dibela kelompok oposisi. ”Biasanya oposisi sangat kritis terhadap pemerintah. Tapi, menyikapi kudeta ini, oposisi justru berada di kubu Erdogan,” kata Sya’roni. 

Pria asal Mataram, NTB, yang sudah lima tahun tinggal di Istanbul itu menjelaskan, Erdogan berhasil membakar semangat rakyat Turki untuk bersama-sama melawan pemberontak. Erdogan di mata rakyat Turki adalah sosok yang sangat dicintai. Hal tersebut tidak lepas dari kepiawaian dia sebagai pemimpin. Sebelum menjadi presiden pada 2014, Erdogan adalah perdana menteri sebelas tahun. Dia juga sangat dikagumi warga Istanbul karena pernah menjadi wali kota pada periode 1994–1998.

”Rakyat Turki sangat memuja Erdogan,” kata Sya’roni. Karena itu, ketika Erdogan mengarahkan tudingan kepada Gulen sebagai dalang kudeta, pendukungnya langsung mengamini.

Begitu kudeta berhasil digagalkan, pemerintah Turki langsung melakukan gerakan ”bersih-bersih”. Ribuan orang ditangkap. Ada politisi, wartawan, tentara, akademisi, hingga tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap berafiliasi dengan Gulen. Mereka ditahan tanpa proses peradilan. 

Sya’roni mengatakan, langkah ”bersih-bersih” itu belum berakhir. Turki juga memperketat arus keluar masuk orang di negeri tersebut. Selain itu, pengamanan di dalam negeri diperketat. Terutama di kota-kota besar seperti Istanbul dan Ankara. Istanbul memang bukan ibu kota Turki. Tapi, justru kota itulah pusat pergerakan bisnis Turki. Istanbul adalah kota terbesar dengan penduduk mencapai 15 juta jiwa. 

Pascakudeta, kehadiran tentara dan polisi di tempat-tempat strategis di Istanbul menjadi pemandangan wajar. Pasukan keamanan bersenjata ada di mana-mana. Bandara, tempat fasilitas umum, destinasi wisata, dan lokasi ibadah. Jumat (30/9), misalnya, beberapa polisi bersenjata menjaga Masjid Dolmabahce saat pelaksanaan ibadah salat. Petugas bersenjata juga berjaga di pintu masuk Istana Kesultanan Turki yang menjadi jujukan wisatawan.

Seperti klaim pemerintah Turki, Sya’roni mengatakan, sulit tidak mengarahkan tudingan kudeta kepada kelompok Gulen. Meski tinggal nun jauh di Negeri Paman Sam, Gulen memiliki jaringan yang kuat di dalam negeri Turki. Tidak hanya di pemerintahan dan militer, tapi juga menyasar kampus, media, serta bidang-bidang lain. 

Bahkan, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang sempat dikaitkan dengan pergerakan Gulen. Dua mahasiswa Indonesia bahkan sempat ditahan. Mereka mendapatkan beasiswa dari Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association alias Pasiad, organisasi non pemerintah Turki yang diduga terkait dengan pergerakan Gulen. ”KBRI memberikan perlindungan untuk mahasiswa Indonesia yang belajar di sini,” kata Sya’roni.

Seiring dengan berjalannya waktu, situasi di Turki mulai normal. Aktivitas warga kembali berjalan seperti biasa. Meski begitu, dampak kudeta belum benar-benar hilang. Kunjungan wisatawan ke Turki dilaporkan menurun. Hal itu dirasakan Salim. Sebagai pemilik stan di Grand Bazaar, pasar tertua di Turki dan salah satu yang terbesar di dunia, dia merasakan penurunan jumlah pengunjung.

Dalam situasi normal, Grand Bazaar dikunjungi ratusan ribu orang. Bahkan sampai 400 ribu. Ada catatan bahwa pengunjung Grand Bazaar dalam setahun mencapai 91 juta! Pasar yang berdiri sejak abad ke-15 itu diklaim sebagai mal pertama di dunia. Keistimewaan Grand Bazaar adalah jumlah stannya yang mencapai 4 ribu. Ada 61 ruas jalan di dalam pasar yang kerap membuat pengunjung tersesat. 

”Kami memang sempat tutup sehari setelah kudeta, tapi setelah itu buka lagi. Belakangan pengunjung memang berkurang,” katanya. ”Tidak apa-apa. Kami harus sabar. Setelah ini pasti ramai lagi,” tutur Salim. (*)

Berita Terkait