Gotong Royong Buat Naga, Libatkan Berbagai Etnis, Desa Teluk Melano Persiapkan Tiga Replika Naga

Gotong Royong Buat Naga, Libatkan Berbagai Etnis, Desa Teluk Melano Persiapkan Tiga Replika Naga

  Rabu, 10 February 2016 10:25
NAGA IMLEK: Supriyanto, salah satu warga Desa Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir, saat melakukan pengecetan pada bagian ekor naga. Dalam pembuatan naga ternyata tidak hanya dilakukan warga Tionghoa, tapi juga oleh berbagai etnis lainnya. DANANG PARSETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Selain dengan pemasangan lampion, perayaan Tahun Baru Imlek tentunya tidak lepas dari pagelaran atraksi naga. Seperti halnya yang dilakukan warga Tionghoa di Desa Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir, di mana mereka telah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Mereka membuat replika naga demi memeriahkan acara tahunan tersebut. Uniknya, dalam pembuatan replika hewan legendaris tersebut, turut melibatkan berbagai etnis seperti Melayu, Jawa, Madura, Dayak, Batak, dan lainnya, yang membaur menjadi satu. DANANG PARSETYO, Teluk Melano

HARI telah berganti malam, Kamis (4/2), tidak seperti biasanya kesibukan warga Desa Teluk Melano sedikit sibuk dari hari sebelumnya. Ternyata kesibukan tersebut untuk mempersiapkan parade naga yang akan digelar dalam perayaan Imlek kali ini, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memeriahkan kegiatan tersebut. Mengenai hal ini, terlihat unik di mana sejumlah pengerjaan naga dilakukan bukan hanya oleh warga etnis Tionghoa, melainkan dari warga lain yang dengan suka rela untuk membantu dalam persiapan Imlek, dalam parade naga.

Kali ini desa tersebut berencana akan menurunkan tiga ekor naga dalam parade perayaan Imlek. Dimulai dari yang memiliki panjang 20 meter hingga 60 meter. Replika-replika tersebut akan melakukan parade serta aksi akrobatik bukan hanya di Teluk Melano. Mereka bahkan berencana memboyong ketiga naga tersebut ke Kabupaten Ketapang.Mengenai hal ini, dikatakan Supriyanto (47) yang turut membantu pengecetan dalam proses pembuatan naga, jika dirinya memang benar-benar ingin membantu dalam pembuatan naga. Hal ini sendiri telah dilakukannya sejak beberapa tahun lalu.

“Iya, saya memang benar-benar ingin membantu. Karena dengan hal ini, menurut saya, akan menambah keakraban antaretnis. Walau saya (dari etnis) Jawa, tapi saya memang ingin membantu dalam proses pembuatan naga ini. Dan saya di sini berkerja pada bagian pengecetan naga,” terang lelaki asal Jawa Tengah tersebut kepada wartawan, Kamis (4/2) malam.Menurut dia, untuk pengecatan letak kesulitannya hanya sebatas kekurang bahan baku saja. Seperti cat serta bahan lain, di mana mereka harus mendatangkan langsung dari luar Kabupaten Kayong Utara. “Saya kesulitan pada bahan cat saja dalam pengerjaannya. Dan di sini pun saya juga berkerja sendiri jika untuk pengecatanya,” ucapnya.

Selain itu, salah satu warga etnis Batak, Tobok Situmeang, juga turut membuat cetakan kepala bagian naga. Dia menuturkan untuk satu kepala naga dalam proses pembuatanya memakan waktu hingga dua bulan. Namun itu dikerjakannya secara bersama sama.  “Kalu saya di sini membantu membuat bagian kepala nega yang terbuat dari fiber. Dalam berkerja, saya juga tidak sendirian, dan turut dibantu dengan rekan-rekan lainnya,” terang waraga Desa Teluk Melano tersebut.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Teluk Melano Margoro menuturkan jika seluruh proses pembuatan naga ini dilakukan warga desa yang dipimpinnya secara bergotong royong. Tidak hanya dilakukan oleh warga etnis Tionghoa, diakui dia, juga dilakukan warga lainnya yang ikut melibatkan diri. “Hal-hal inilah, seharusnya dapat menjadi contoh bagi desa lainnya. Agar  dapat terus menumbuhkankembangkan rasa kebersamaan. Yang selama ini kerap menjadi sebuah alasan dari sejumlah konflik yang terjadi di berbagai pelosok negeri,” tutup Kades. (*)

 

Berita Terkait