Gigi Berlubang Memicu Kista

Gigi Berlubang Memicu Kista

  Jumat, 7 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Gigi memiliki peranan penting dalam hidup manusia. Merawat kesehatannya pun sangat dianjurkan terutama untuk menghindari kerusakan. Waspadai juga gigi yang berlubang dan sering terjadinya pembengkakan gusi. Sebab, kondisi tersebut bisa memicu kista pada gigi. 

Oleh : Marsita Riandini

Ada berbagai reaksi yang ditimbulkan seseorang, jika mengalami kerusakaan pada giginya. Masalah pada gigi ini diantaranya karies, gigi berlubang, hingga infeksi. Bila tak ditangani dengan baik akan mendorong terjadinya gangguan yang lebih serius, mulai dari pembengkakan yang terus menerus terjadi hingga memicu kista. Bahkan, dapat menyebabkan kanker mulut. Lantas apa yang harus dilakukan?

Dokter gigi RR Ratri Dini Prasiwi mengatakan bahwa gigi yang mengalami karies dan infeksinya menjalar ke ujung akar tanpa dirawat dalam waktu lama dapat menjadi kista. “Gigi yang rusak, jika dibiarkan tidak dicabut, tidak juga di tambal, parahnya lagi tidak dijaga kebersihannya dapat memicu terjadinya kista,” ujar Kepala Puskesmas Pal III ini kepada For Her. 

Sebelum terjadinya kista, biasanya didahului dengan pembentukan abses yakni penumpukan pus (nanah) pada satu daerah tubuh lalu menjadi granuloma yang merupakan respon jaringan terhadap infeksi. 

Granuloma adalah pembengkakan sel yang terbentuk sebagai pertahanan terhadap infeksi pada jaringan di ujung akar gigi. Jika granuloma itu terinfeksi, inilah yang kemudian bisa menjadi kista. “Kista yang terinfeksi selanjutnya bisa jadi tumor. Kista lebih besar dari granuloma. Bentuknya juga seperti kantung dan berada di bawah akar gigi. Yang membedakan adalah pada kista, kantungnya lebih tebal,” ujarnya. 

Tidak semua abses menjadi granuloma dan berlanjut menjadi kista. Karena tergantung pada daya tahan tubuh dan virulensi bakteri. “Awalnya itu gigi berlubang, sakit, bengkak. Karena takut ke dokter, beli obat sendiri. Sembuh, bengkak lagi, sembuh, bengkak lagi. Lama-lama bisa memicu granuloma, lalu kista,”  ulasnya. 

Terkadang,  gejala yang ditimbulkan itu seperti sakit gigi biasa. Bahkan tidak terjadi pembengkakan pada gusi sebab terletak di bawah akar gigi. 

“Tidak harus muncul dan bengkak. Keadaan inilah yang disebut dengan radang akut. Inilah yang kadang harus hati-hati. Ada yang sudah mengalami granuloma maupun kista. Lalu mencabut giginya dan mengalami  pendarahaan. Apalagi bisa terjadi setelah gigi dicabut, benjolan itu tidak terambil. Akhirnya dilakukan kuretasi di sekitarnya untuk mengangkat kista tersebut,” paparnya.

Agar tidak salah dalam mendiagnosa antara granuloma dan kista, dapat dilakukan dengan cara  pemeriksaan radiografis (foto rontgen). Tindakan rontgen berguna untuk mengetahui tingkat bahaya yang terjadi pada pasien. 

“Inilah pentingnya melakukan rontgen sebelum melakukan pencabutan gigi. Hal ini untuk menghindari efek yang lebih serius terutama jika benar ada kista pada ujung akar gigi pasien,” terangnya. 

Namun kista ini tidak timbul seketika. Itu sebabnya sebelum terjadinya hal-hal yang mengkhawatirkan, seseorang harus merawat giginya. Siwi menyarankan dilakukannya pemeriksaan gigi secara rutin ke dokter agar dapat dilakukan penanganan terhadap gigi yang rusak. 

“Jika ada gigi yang berlubang, bisa diatasi apakah ditambal atau dicabut untuk mencegah tidak bertambah busuk dan kuman tidak akan menjalar hingga ke bawah, ke akar, serta ke tulang gigi,” pungkasnya. **

Berita Terkait