Gidot Menang Tipis, Juliarti Tertinggal Jauh

Gidot Menang Tipis, Juliarti Tertinggal Jauh

  Jumat, 11 December 2015 09:09
KLAIM UNGGUL : Tim Andi Djamiruddin - Chanisius Kuan mengklaim mereka unggul dalam pilkada di Ketapang, kemarin (10/12) AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK-Komisi pemilihan umum tujuh daerah yang melangsungkan pilkada akan menggelar pleno penghitungan suara pada 16 hingga 18 Desember. Akan tetapi sekarang, perkembangan hasil pilkada di Sambas, Bengkayang, Ketapang, Sekadau, Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu dapat dipantau melalui website KPU. Bahkan ada yang sudah diketahui siapa yang bakal menjadi kepala daerah.

Dari tujuh kabupaten tersebut, Bengkayang paling cepat menyelesaikan rekapitulasi formulir C-1. Rekapitulasi langsung diunggah di website KPU. Belum pukul 21.00 tadi malam, hasil penghitungan C-1 di Bengkayang menyebutkan pasangan Suryadman Gidot-Agustinus Naon meraup 55.200 suara atau 50,53 persen. Pasangan lainnya, Sebastianus Darwis-Rurakhmad memperoleh 54.047 suara atau 49,47 persen.

Perhitungan formulir C-1 di Bengkayang dari hari pencoblosan terus berdinamika. Kedua pasang calon saling salib peroleh suara. Gidot-Naon sempat tertinggal. Kecamatan terakhir yang datanya masuk, yakni Siding menentukan kemenangan Gidot-Naon. Di kecamatan itu pasangan nomor urut 2 itu meraih 2.253, sedangkan Darwis-Rurakhmad mendapat 772 suara.

Sekadau juga termasuk daerah yang cepat merekap formulir C-1. Pada waktu yang sama KPU Sekadau merampungkan perekapannya. Rupinus-Aloysius mengungguli pasangan lainnya dengan 46.089 suara atau setara dengan 42,79 persen. Pasangan Simson-Paulus Subarno menguntitnya dengan 40.316 suara atau 37,42 persen. Pasangan Yansen Akun Effendy-Saharudin mengumpulkan 13.097 suara atau 12,16 persen. Selanjutnya Pensong-Christian Amon mendapat 8.216 suara atau 7,63 persen.

Daerah yang selanjutnya hampir merampungkan rekapitulasi C-1 adalah Melawi. Hingga pukul 22.00, kabupaten itu merekap 96,33 persen formulir C-1. Hasil sementara itu menunjukkan Panji-Dadi SunaryaUsfa Yursa mengungguli petahana dengan meraih 71.140 suara atau 56,09 persen. Sementara Firman Muntaco-John Murkanto Ajan meraup 55.702 suara atau 43.91 persen.

Untuk pilkada Sintang, formulir C-1 yang berhasil direkap hingga hampir tengah malam belum 60 persen. Sementara Jarot Winarno – Askiman unggul dengan 58.132 suara atau 47,10 persen. Kemudian Ignasius Juan - Senen Maryono mengumpulkan 32.988 suara atau 26,73 persen. Selanjutnya Agrianus -  Muhammad Chomain Wahab meraih 32.312 suara atau 26,18 persen.

            Tarik-menarik perolehan suara juga terjadi pada pilkada Ketapang. Meskipun belum sampai 50 persen rekapitulasi C-1, selisih antara nomor urut 2 dan 3 tipis. Andi Djamiruddin - Chanisius Kuan mendapatkan 33.267 suara atau 32,90 persen, Boyman Harun - Gurdani Achmad meraih 32.613 suara atau 32,25 persen. Pasangan lainnya Martin Rantan- Suprapto mengumpulkan 24.231 suara atau 23,96 persen, kemudian Darmansyah - Uti Rushan mendapatkan 11.006 suara atau 10,88 persen.

            Sambas lain lagi, perolehan suara petahana jauh di bawah pasangan nomor urut 2 Atbah Romin Suhaili – Hairiah yang meraih 53.269 suara atau 53,97 persen. Petahana,  Juliarti Djuhardi Alwi – Hasanusi hanya baru mengumpulkan 34.679 suara atau 35,14 persen. Sementara pasangan Tony Kurniadi - Eka Nurhayati mendapatkan 10.749 suara atau 10,89 persen.

            Dua pasangan calon pada pilkada Kapuas Hulu juga kejar-mengejar perolehan suara. Pada rekapitulasi C-1 KPU sementara A M Nasir - Antonius L Ain Pamero meraih 27.847 suara atau 53,88 persen, sedangkan Fransiskus Diaan - Andi Aswad mengumpulkan 23.833 suara atau 46,12 persen.

Anggota KPU Kalbar, Viryan Aziz mengatakan data yang diunggah di website KPU dapat dipertanggung jawabkan. Penghitungan suara itu diunggah oleh masing-masing KPU. Datanya dari formulir C-1. “Formulir C-1 itu hasil penghitungan di TPS (tempat pemungutan suara),” ungkapnya, kemarin.

KPU tidak hanya mengunggah angka, tetapi ada juga lembaran C-1 yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat. Dengan adanya lembaran yang diunggah tersebut KPU ingin memastikan data tersebut bukan sekadar angka. “Yang diunggah itu apa adanya.”

Menurut Viryan apa yang diunggah KPU melalui website tidak akan jauh berbeda dengan hasil pleno di masing-masing KPU nanti. Bukan berarti formulir C-1 tidak dapat keliru. Jika pun ada kekeliruan pada formulir C-1 dapat dilakukan koreksi di tingkat panitia pemungutan kecamatan (PPK). “Tidak menutup kemungkinan ada yang keliru pada C-1,” ujarnya.

Bekas ketua KPU Kota Pontianak itu mengungkapkan biasanya kekeliruan pada C-1 bukan pada jumlah suara. Beberapa kasus yang terjadi menunjukkan kekeliruan lebih sering terjadi pada daftar pemilih dan data lainnya selain angka. “Karena saksi lebih fokus pada hasil suara data lain biasanya tidak diperhatikan, makanya kadang keliru,” ucapnya.Kalau terjadi koreksi di PPK dan hasilnya tidak memuaskan pihak-pihak terkait, KPU memberi solusi untuk membuka C-1 plano. “Itu hasil rekap teli.”

Kalahnya petahan pada beberapa daerah dilihat sebagai fenomena menarik oleh akademisi Universitas Tanjungpura, Jumadi. Mestinya petahan memiliki kesempatan yang lebih besar dan memulai lebih awal untuk menyosialisasikan diri sehingga peluangnya untuk menang besar. “Meskipun begitu bukan berarti petahan harus menang.”

Walaupun menarik, Jumadi menilai dalam pemilihan kepala daerah secara langsung menjadi hal yang biasa petahan tidak menang. Semuanya kembali pada figur pribadi dan lawan, dan hasil kerja selama memimpin. Masyarakat menilainya kemudian menetapkan pilihan.

Paling penting menurut Jumadi adalah menjaga Kalbar tetap kondusif. Dia mengingatkan agar pasangan calon yang merasa menang tidak larut dengan euforia.
Kepada masyarakat Jumadi meminta untuk merenggangkan syaraf agar tidak tegang. Proses pemilihan yang menjadi bagian masyarakat sudah dilalui dengan baik, kemudian saatnya beraktivitas seperti biasa sambil menunggu hasil resmi dari KPU. “Klaim masing-masing tim itu biasa. Sah-sah saja asalkan rasional,” ucapnya.(hen)

 

Berita Terkait