Gerilya di Penjara, Yang Menolak Dikafirkan

Gerilya di Penjara, Yang Menolak Dikafirkan

  Kamis, 21 January 2016 08:46

Berita Terkait

Bom di kawasan Sarinah mengentak banyak orang. Bagaimana tidak, seluruh pelakunya adalah residivis narapidana terorisme. Ternyata, sebelum kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) lahir, di penjara tempat dibuinya para teroris sudah beredar pemahaman ISIS. Bahkan, para penganutnya berusaha merekrut para narapidana terorisme. Berikut pengakuan para mantan pentolan teroris yang enggan bergabung dengan ISIS. Ilham Wancoko, Jakarta

Pada 21 Oktober 2015, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah Abu Tholut bebas dari Penjara Kedungpane, Semarang. Kala itu, dia langsung menunjukkan sikap menolak ISIS. Dalam pikirannya, dia menyimpulkan bahwa ISIS merupakan kelompok khawarij, kelompok yang mudah mengafirkan orang lain.

Tholut dipenjara sejak 2010. Dia divonis delapan tahun penjara pada 2011. Oktober lalu, dia bebas karena permohonan pembebasan bersyarat (PB)-nya disetujui setelah menjalani 2/3 masa hukuman. Anehnya, ISIS baru muncul pada 2013 yang pada tahun yang sama mulai terdengar di Indonesia.

Bagaimana Tholut bisa mengenal ISIS saat di penjara? Ditemui di sebuah tempat makan di Pondok Cabe, mantan kombatan perang Afghanistan itu mengaku, ISIS sebenarnya berkembang di dalam penjara. Bahkan, dengan sangat agresif, ISIS berusaha menguasai seisi penjara, khususnya para terpidana kasus terorisme.

’’Di dalam penjara, terpidana kasus terorisme terbelah menjadi dua, pendukung ISIS dan anti-ISIS,’’ ungkapnya dengan roman muka serius.

Di dalam penjara, ungkap Tholut, suatu kali ada seorang kawan senasib yang mendatangi selnya. Ternyata, kawan yang juga terpidana kasus terorisme itu mengajak Tholut bergabung dengan ISIS. Saat itu Tholut bertanya panjang lebar soal ISIS kepada kawannya tersebut.

Setelah dijelaskan mendalam, Tholut ternyata belum juga puas. Mantan ketua mantiqi III Jamaah Islamiyah wilayah Kalimantan, Sulawesi, Sabah, dan Filipina Selatan itu memang bukan orang sembarangan. Tholut ingin mempelajari secara tuntas berbagai gerakan ISIS sebelum membuat keputusan bergabung atau tidak. ’’Ya, saya harus mempelajari semua terkait dengan kelompok berbendera hitam itu,’’ tuturnya.

Dia pun berupaya mencari informasi resmi soal ISIS. Akhirnya, dengan bantuan kawannya yang sudah berbaiat dengan ISIS, berbagai informasi soal ISIS dipasok masuk ke penjara khusus untuk konsumsi Tholut. ’’Ya, mereka memberikan berbagai berita dari situs resmi ISIS dan lainnya,’’ paparnya.

Setelah beberapa waktu, Tholut mendapatkan dokumen soal ISIS yang begitu tebal. Dokumen itu memuat berbagai manuver ISIS, hukuman yang diterapkan, kondisi masyarakatnya, hingga pidato pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi. ’’Saat itu saya mulai mempelajarinya di dalam penjara. Tebal dokumennya hampir 30 cm,’’ ujar lelaki berjenggot putih tersebut.

Kepada kelompok pendukung ISIS, Tholut tidak ingin gegabah. Dia meminta kelompok tersebut memberikan data asli yang berbahasa Arab, bukan data yang berbahasa Indonesia. ’’Saya minta yang bahasa Arab agar tidak ragu karena kesalahan penerjemahan. Setelah data tersebut didapatkan, semua dicocokkan,’’ ungkapnya.

Saat itu, pendukung ISIS di dalam penjara merasa akan mendapat kawan baru. Namun, siapa sangka, ternyata ada grup lain yang juga mencoba berkomunikasi dengan Tholut. ’’Jadi, ada kelompok yang menolak ISIS yang meminta saya menolak ISIS,’’ tuturnya.

Bukannya menolak kelompok anti-ISIS, Tholut justru memanfaatkan mereka. Kepada kelompok tersebut, Tholut meminta berbagai data mengapa ISIS harus ditolak. ’’Ya, akhirnya mereka memasok juga data dan analisis soal manuver ISIS yang tidak Islami. Semua data itu didapat dari keluarga yang berkunjung ke Syria,’’ ungkapnya.

Tidak hanya berdasar data itu, Tholut juga mempelajari perilaku setiap kelompok di dalam penjara. Perilaku yang begitu mencolok terlihat pada kelompok pro-ISIS. ’’Kepada sesama narapidana kasus terorisme, mereka juga bersikap berbeda,’’ ujarnya.

Kelompok pro-ISIS kerap tidak mau salat berjamaah di masjid penjara. Hal tersebut tentu membuat Tholut curiga. Akhirnya, dia mencari informasi mengapa tidak ada anggota kelompok itu yang salat berjamaah di masjid. ’’Saya dengar, mereka ternyata menganggap yang tidak mau bergabung itu kafir. Karena itu, haram hukumnya salat berjamaah dengan orang yang tidak bergabung,’’ paparnya.

Keganjilan tersebut kemudian menjadi pertimbangan Tholut untuk membuat keputusan. Akhirnya, setelah beberapa bulan mempelajari ISIS, dia menegaskan bahwa dirinya menolak bergabung dengan ISIS. Saat itulah kondisi lapas semakin panas dan terbelah.

Sebab, Tholut adalah sosok yang akan sangat menguntungkan ISIS bila bergabung. Tholut merupakan alumnus Afghanistan yang telah berperang selama delapan tahun. Dia memiliki berbagai kemampuan militer, mulai meracik bom hingga menggunakan senjata berat. Dia juga menguasai strategi berperang. ’’Saya menolak karena melihat ciri-ciri khawarij dalam ISIS,’’ tegasnya.

Tholut menuturkan, ISIS sangat mudah mengafirkan seseorang atau kelompok yang tidak bergabung dengan mereka. Bahkan kendati orang atau kelompok itu adalah muslim. ’’Ciri kaum khawarij ini adalah mudah mengafirkan muslimin,’’ jelas lelaki kelahiran Kudus tersebut.

Selain itu, ISIS ternyata bukan kelompok yang muncul dari daerah Syria dan Iraq. Padahal, jihad di suatu daerah itu seharusnya muncul dari masyarakat tersebut. ’’Ini masyarakat Syria dan Iraq sendiri merasa tidak kenal ISIS. Itu juga bukan bagian dari masyarakat kedua negara. Saya justru yakin ISIS ini bentukan intelijen,’’ tegasnya.

Apalagi ternyata banyak anggota yang pemahamannya sangat dangkal. Salah satu contohnya, ancaman seorang anggota ISIS bernama Abu Jandal al Indonesi. Tholut menyebutkan, dalam video di YouTube, Jandal mengancam dan menantang semua pejabat negara, mulai Kapolri hingga panglima TNI.

’’Dia juga seakan-akan mengajak Indonesia berperang ke wilayah ISIS. Perbuatan itu sangat tidak masuk akal untuk seorang martir dalam peperangan. Itu hanya soal kebencian, sama sekali bukan jihad,’’ ujar lelaki yang berwajah keras tersebut.

Karena sosok Tholut yang terlalu kuat, kelompok napi pro-ISIS sama sekali tidak berani bergerak di depannya. Namun, Tholut berkali-kali mendapat informasi bahwa para pendukung ISIS sudah mengecapnya kafir. ’’Ya, kalau di depan saya, mereka tidak berani. Tetapi, di belakang saya, mereka telah mengafirkan saya. Saya mengetahui itu semua,’’ tuturnya.

ISIS tidak hanya berkembang di Lapas Kedungpane. Di Lapas Cipinang, ISIS juga tumbuh subur. Hal itu sudah dirasakan Muhamad Jibriel Abdul Rahman, 32. Jibriel sempat dipenjara selama tiga tahun dua bulan di Lapas Cipinang.

Tidak tanggung-tanggung, dia sempat dipenjara bersama Afif, salah seorang pelaku pengeboman di kawasan Sarinah yang tewas beberapa waktu lalu. Pada saat yang sama, Jibriel juga dipenjara bersama Amman Abdurrahman, pentolan Tauhid Wal Jihad dan Jamaah Anshor Khilafah Nusantara (JAKN), kelompok yang diduga menjadi perancang bom Sarinah.

Ditemui Senin (18/1) di sekitar Pondok Indah Mal, Jibriel menceritakan kehidupan terpidana kasus terorisme di Cipinang. Dia menuturkan, dirinya dipenjara sejak 2011 selama tiga tahun dua bulan. ’’Saat itu memang belum ada ISIS. Namun, telah berkembang pemahaman yang sama dengan ISIS di penjara itu,’’ tuturnya.

Pusat perkembangan pemahaman yang sama dengan ISIS itu berasal dari Ustad Amman Abdurrahman. Karakter utama kelompok yang dipimpin Amman tersebut adalah mudah menjustifikasi seseorang sebagai kafir dan darahnya halal. ’’Napi dan sipir itu juga dikafirkan mereka,’’ ungkapnya.

Dia menuturkan, Amman berkali-kali berupaya berkomunikasi dengan dirinya. Kadang di kamar sel Amman atau di luar. ’’Yang pasti, saya menemukan banyak ketidakkonsistenan dari Amman. Baik dalam pemikiran Islam maupun keseharian. Misalnya, Amman tidak membolehkan muridnya berlatih dengan barbel karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi, kebanyakan muridnya tetap berlatih dengan barbel dan tidak ditegur sang ustad,’’ katanya.

Selain itu, Amman kerap meminta muridnya tidak salat di musala penjara. Dia menganggap muslim tidak boleh salat bersama orang kafir. ’’Padahal, kami sesama muslim, tapi tetap dikafirkan,’’ ujar alumnus University of Islamic Studies, Pakistan, tersebut.Dia menyatakan, saat ISIS mulai tenar pada awal 2013, saat itu pula Amman bergabung dengan kelompok tersebut. ’’Menurut saya, ini seperti dua pemahaman yang sama dan tinggal bergabung saat keduanya bertemu. Sama-sama ekstrem dan sama-sama mengerikan,’’ tegasnya.Dengan begitu, bisa dipastikan para murid Amman juga langsung bergabung dengan ISIS tanpa perlu mempertanyakan gerakan tersebut. Yang lebih menjengkelkan, kebanyakan murid Amman merupakan aktivis bau kencur.’’Murid-murid senior Amman pada kabur karena kerap melihat ustadnya tidak konsisten. Akhirnya, muridnya tinggal anak-anak baru yang tidak tahu apa-apa,’’ ungkapnya. (*/c5/end)

Berita Terkait