Gerhana Matahari Total di Mempawah Salat Khusuf, Masjid Penuh

Gerhana Matahari Total di Mempawah Salat Khusuf, Masjid Penuh

  Kamis, 10 March 2016 10:02
SALAT KHUSUF: Jamaah memenuhi masjid alfalah mempawah mengikuti pelaksanaan shalat khusuf. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH- Meski Kabupaten Mempawah bukan menjadi daerah yang mengalami fenomena Gerhana Matahari Total (GMT), namun ratusan masyarakat muslim tetap menggelar salat khusuf berjamaah, Rabu (9/3) pagi. Para jemaah tampak memenuhi sejumlah masjid dilingkungan tempat tinggalnya. 

Salah satu lokasi salat gerhana yakni Masjid Agung Alfalah Mempawah. Ratusan jemaah laki-laki maupun perempuan antusias mengikuti pelaksanaan salat. Dipimpin oleh Ustaz Atto Illah yang bertindak sebagai imam sekaligus memberikan khutbah, shalat gerhana berlangsung kurang lebih 30 menit.

“Alhamdulillah, bisa melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah. Sebab, tidak setiap saat kita bisa melaksanakannya. Fenomena alam gerhana matahari sangat jarang terjadi. Terkahir pada tahn 1983 lalu,” ucap Ketua Muslimat NU Kabupaten Mempawah, Hj Julina.

Menurut keyakinan wanita yang akrab disapa Umy itu, fenomena gerhana matahari sebagai wujud tanda kebesaran Allah SWT sebagai pencipta alam semesta. Karenanya, munculnya fenomena tersebut selayaknya disambut dengan melaksanakan ibadah-ibadah sebagaimana dilakukan Rasullullah SAW. 

“Pada zaman Nabi Muhammad pun, pernah mengalami fenomena gerhana matahari ini. Ketika itu, beliau mengira akan terjadi kiamat. Makanya, beliau pergi ke masjid dan melaksanakan shalat khusuf. Nah, ini yang kita sedang laksanakan sekarang melakukan shalat berjamaah,” paparnya. 

Jemaah lainnya, Azansyah mengaku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menyaksikan fenomena alam langka itu. Meski pun gerhana matahari yang terjadi di langit Kota Mempawah tidak mencapai seratus persen seperti beberapa wilayah lainnya di Indonesia.

“Setelah melaksanakan shalat, sempat melihat beberapa menit proses gerhana matahari. Walau pun tidak bisa melihat dengan jelas. Sebab, kita hanya melihat dengan mata telanjang tanpa dibantu peralatan,” tuturnya. 

Bapak dua anak ini pun mengaku menyaksikan gerhana matahari di Kota Mempawah bukan pengalaman pertama baginya. Sebab, pada fenomena gerhana matahari tahun 1983 silam dirinya juga pernah melihat secara langsung. 
“Waktu itu umur saya lima tahun. Karena belum ada kacamata khusus gerhana, maka saya dan teman-teman memanfaatkan cartridge rool film untuk melindungi mata dari paparan sinar gerhana,” kenangnya. 

Usai melaksanakan shalat khusuf, ratusan jemaah tampak memenuhi halaman Masjid Agung Alfalah Mempawah. Meski tidak menggunakan alat bantu, jemaah tampak memperhatikan posisi matahari yang tertutup awan gelap di langit Mempawah.

Wilayah Mempawah sendiri memang diprediksi tidak masuk dalam lintasan Gerhana Matahari Total (GMT). Meski begitu, warga masih bisa menyaksikan bayangan gerhana walau tidak secara utuh seratus persen. (wah) 

Berita Terkait