Gerakan Pemuda di Era Digital dalam Memaknai Kemerdekaan

Gerakan Pemuda di Era Digital dalam Memaknai Kemerdekaan

  Minggu, 21 Agustus 2016 10:21   1

Oleh: Prima Yuliantoro

PENTINGNYA generasi muda saat ini untuk memaknai perjuangan para pahlawan terdahulu ialah untuk mengambil semangat dalam sebuah gerakan nyata. Tentu para pemuda lah yang akan mewarisi semangat itu. Karena pemuda memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa dan negara. Pemuda memiliki kekuatan dan kemauan yang tinggi dalam mencapai sesuatu. Untuk itulah Negara membutuhkan pemuda yang siap berjuang demi terwujudnya kemerdekaan Republik Indonesia.

Gerakan Pemuda di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak berdirinya Budi Utomo. Kita juga mengenal gerakan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa dan Jong Celebes serta perkumpulan Pemuda daerah lainnya. Hingga sampailah pada peristiwa Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang di inisiasi oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Tidak hanya sampai disitu, gerakan pemuda juga berlanjut pada persitiwa penculikan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1945 untuk mendesak agar proklamasi segera dilakukan. Sebelum kemerdekaan, pas kemerdekaan dan setelah kemerdekaan pun gerakan pemuda di seluruh Indonesia terus berjalan. Yaitu, era reformasi yang menjatuhkan orde baru Presiden Soeharto pun di inisiaisi oleh perjuangan para pemuda Indonesia yang saat itu dikenal dengan sebutan mahasiswa.

Sejak era reformasi lahir, gerakan Pemuda yang kita kenal seperti KAMMI, HMI, PMII, GMNI, GMKI dan yang lainnya adalah bukti bahwa gerakan pemuda akan terus berlanjut. Kini, gerakan pemuda di Indonesia bertransformasi menjadi sebuah gerakan yang multifungsi. Menjawab tantangan zaman yang serba teknologi. Komunitas-komunitas kreatif para pemuda di perkotaan dan di pedesaan semakin banyak yang lahir. Ada yang bergerak di bidang sosial, budaya, kerajinan, olahraga, games, dan gerakan yang memungkinkan ide-ide itu tumbuh bersama memikirkan nasib masyarakat sekitar. Gerakan perkumpulan remaja-remaja, pelajar, hingga perkumpulan ibu rumah tangga pun kini turut hadir meramaikan industri pergerakan di Indonesia.

Penggunaan smartphone yang ikut campur dalam memobilisasi sebuah gerakan semakin pesat dan jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan gerakan sebelum kemerdekaan yang berjuang dengan sebatang bambu. Gerakan pemuda seperti sumbangan yang diberikan tidak lengkap rasanya  jika tidak di foto dan di share di akun media sosial milik gerakan tersebut. Sebuah bantuan dari relawan pemuda yang ikut membantu dalam sebuah bencana tidak afdhol rasanya jika tidak ada yang mengambil gambar atau video lalu di share. Semakin banyak yang nge-like, maka semakin dianggap bagus gerakan tersebut. Terlepas dari kebermanfaatan yang diberikan, sebuah gerakan ala media sosial kini banyak diminati dan digemari oleh kaum muda saat ini agar dianggap baik dan bermanfaat terhadap masyarakat.

Transformasi gerakan tersebut berubah menjadi gerakan era “digitalisasi” ke “kontribusi” tanpa ada gerakan “perlawanan”. Dulu, gerakan “perlawanan” dianggap paling penting diluar gerakan “kontribusi” dan tanpa “digitalisasi”. Mereka berhasil mencatat sejarah besar untuk negeri. Gerakan “perlawanan” kini dianggap miring oleh sebagian besar masyarakat. Banyak kerugian yang dihasilkan daripada kebermanfaatan. Demo yang hanya membakar ban di tengah jalan atau aksi yang memacetkan setiap ruas jalan. Berteriak panas-panasan di gedung DPRD, gubernur, bahkan Istana dianggap tak berguna. Dibandingkan gerakan pemuda yang ber-selfie ria dalam memberantas kemiskinan atau berfoto ria saat memberikan bantuan sosial, yang dianggap lebih efektif oleh sebagian besar masyarakat kini.

Padahal, kedua gerakan ini sangat dibutuhkan dalam menyeimbangkan pembangunan bangsa di era digital. Tak perlu saling mencemooh dan menjelekkan gerakan satu sama lain. Masyarakat harus yakin dan percaya bahwa gerakan vertikal (perlawanan terhadap pemerintah) dan horizontal (membantu sesama masyarakat)” sama-sama penting dalam mewujudkan negeri yang lebih baik. Semangat kemerdekaan terdahulu harus diwarisi secara turun temurun kepada generasi penerus bangsa. Cara boleh beda, tetapi cita harus tetap sama. 71 tahun Indonesia merdeka menjadi moment penting dalam memperkuat persatuan antar gerakan pemuda di Indonesia. Memaknai kemerdekaan tak cukup hanya sebatas prestasi individu, tetapi karya untuk kebermanfaatan negara sendiri adalah upaya dalam memajukan NKRI. (**)  

Penulis:  Koordinator Wilayah Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah BEM Seluruh Indonesia