Genjot Produksi Vaksin Difteri

Genjot Produksi Vaksin Difteri

  Senin, 15 January 2018 10:00
Menkes Nila Moeloek

Berita Terkait

Biofarma Jadwal Ulang Ekspor

JAKARTA – Biofarma akan menambah kapasitas produksi vaksin difteri. Semula, kapasitas produksi hanya 15 juta vial per tahun dan kini menjadi 19,5 juta vial. Kemenkes yakin penambahan produksi vaksin akan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.

Menkes Nila Moeloek menuturkan, vaksin difteri yang diproduksi Biofarma akan mencukupi kebutuhan outbreak response immunization (ORI) dan imunisasi rutin. ”Cukup untuk penanggulangan KLB difteri. Sebanyak 19,5 juta vial pada 2018 tersedia untuk Indonesia,” tutur Menkes Sabtu malam (13/1).

Salah satu upaya yang digencarkan dalam penanggulangan KLB difteri adalah melakukan ORI di daerah kasus. Tujuannya, meningkatkan kekebalan masyarakat dengan menutup immunity gap. Dengan begitu, diharapkan mata rantai penularan terputus.

Menkes menyatakan, kualitas dan keamanan produk Biofarma telah diakui Badan Kesehatan Dunia (WHO). Selain itu, vaksin produksi Biofarma tidak hanya digunakan di Indonesia. Sudah 130 negara mengimpor vaksin tersebut. Bahkan, 57 negara di antaranya termasuk negara Islam. Salah satunya Arab Saudi. ”Jelas sekali membuat vaksin itu sangat tidak sembarangan,” ujarnya.

Dirut Biofarma Juliman menyatakan, kualitas dan keamanan semua vaksin yang diproduksi untuk program ORI, program imunisasi nasional, serta ekspor terjamin. ”Seluruhnya telah melewati serangkaian pengujian ketat untuk mendapatkan release (izin edar, Red) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Bahkan, untuk dapat mengekspor vaksin, produk Biofarma harus diaudit WHO,” sahut Juliman.

Juliman menambahkan, Biofarma berkomitmen memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Dengan begitu, permintaan ekspor telah dinegosiasikan untuk dijadwal ulang setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Pengalihan pasokan ekspor hanya diperuntukkan vaksin yang mengandung difteri. ”Sedangkan vaksin lain seperti campak, polio, dan sebagainya masih tetap kami penuhi untuk kebutuhan ekspor,” ungkapnya. 

Sementara itu, status KLB difteri di Balikpapan belum dicabut hingga Sabtu (13/1). Satu per satu pasien suspect difteri masih mendatangi RSUD Dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) di Batu Ampar, Balikpapan. Hingga kemarin, masih ada lima pasien yang dirawat. ”Total, sudah 24 pasien dengan laporan difteri sejak November. Tujuh dinyatakan positif. Lima masih menjalani perawatan hingga hari ini (kemarin, Red),” ucap Wakil Direktur Pelayanan RSKD Achmad Zuhro Ma'ruf kemarin.

Status tujuh pasien tersebut sudah ditegaskan saat masuk dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil positif. Karena KLB, pihaknya melapor ke Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Dinas kesehatan lantas menindaklanjuti dengan menangani keluarga dan orang-orang yang pernah kontak dengan penderita. (lyn/JPG/c11/oki)

Berita Terkait