Generasi Muda dan Micin (MSG) ?

Generasi Muda dan Micin (MSG) ?

  Kamis, 7 December 2017 10:00
Didik Haryadi, S.Gz., M.Si // Ahli Gizi // Dosen Poltekkes Pontianak

Berita Terkait

Belakangan, istilah generasi micin banyak digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat nggak bisa dimengerti saat ini, terutama di media sosial. Apapun perbincangannya, pasti yang dibawa-bawa micin. Namun, benarkah micin memiliki pengaruh yang besar bagi kecerdasan dan perilaku seseorang?

Menjawab pertanyaan diatas, ahli gizi Didik Haryadi, S.Gz., M.Si., mengatakan mengonsumsi micin pada masakan setiap hari nggak ada sangkut pautnya dengan perubahan kecerdasan dan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda saat ini. Sehingga, nggak ada alasan seseorang menyebut generasi saat ini sebagai generasi micin. 

“Micin sendiri adalah monosodium glutamat (MSG), dihasilkan dari gula tebu yang difermentasikan,” ujarnya. 

Micin atau MSG sendiri berperan sebagai penambah rasa gurih pada masakan. Perlu diketahui, awalnya micin berasal dari bahan dasar rumput laut. Seiring berkembangnya zaman dan penemuan, masyarakat lebih memilih menggunakan gula tebu sebagai media utama, yang difermentasi dengan media berupa enzim, sehingga menghasilkan bulir kristal berwarna putih.

Dalam ilmu organoleptik, pada lidah terdapat empat bagian yang bertindak dalam mengecap rasa, dimulai dari manis, asin, asam, dan pahit. Hadirnya micin atau MSG menambah varian baru, yakni rasa gurih (umami) saat dimasak secara bersmaan. Selain itu,  rasa gurih (umami) ini dihasilkan dari micin atau MSG yang mengikat empat varian rasa dan menempel di bagian lidah. 

Dosen Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menuturkan, rasa gurih (umami) pada masakan nggak hanya dapat diberikan oleh micin atau MSG saja, melainkan dari sayur, daun atau tanaman tradisional lainnya. Salah satunya daun sekubang. Daun khas Kalbar ini sudah sejak dulu digunakan sebagai pemberi rasa gurih pada masakan. 

“Daun sekubang sering dijadikan penyedap rasa pada masakan. Rasa gurih yang ditawarkan juga nggak kalah dengan penyedap rasa seperti micin atau MSG,” tuturnya.

FYI, guys. MSG juga masuk dalam komponen zar yang bisa diproduksi dalam tubuh. Nggak heran jika MSG termasuk dalam zat gizi non-essensial. Beda halnya dengan protein yang termasuk dalam zat gizi essensial. Karena sifatnya yang dapat diproduksi oleh tubuh, penggunaan micin atau MSG yang overload dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
 
Meski tidak ada standar khusus, Didik menyarankan batas maksimal penggunaan micin atau MSG setiap harinya hanya berkisar antara enam hingga 10 gram per-harinya. Karena posisi micin atau MSG hanya sebagai penyedap rasa. Dalam memasak, seseorang juga nggak hanya menggunakan micin, melainkan rempah lainnya yang akan meningkatkan rasa sedap masakan. 

Rasa gurih juga nggak hanya diciptakan dari micin atau MSG saja. Dengan menggunakan lemak dapat memberikan rasa gurih pada masakan. Atau juga dengan menambahkan gula dan garam. Gula dan garam dapat diikat dan menciptakan rasa gurih (umami). Sehingga, masakan terasa kaya akan rempah. 

Didik menyarankan, pemakaian micin atau MSG juga harus lebih cerdas, kalau memang diperlukan, gunakanlah dalam rentang yang sedikit. Karena rasa gurih bisa dihasilkan dari beragam rempah. Bisa dikatakan pemakaian micin atau MSG harus lebih proposional, terutama untuk anak-anak yang memiliki potensi penyakit.

Nggak ada salahnya juga dalam menentukan kadar penggunaan micin atau MSG, orang tua mengonsultasikannya pada ahli gizi. Selama pemakaian nggak melebih dosis, micin atau MSG nggak akan berpengaruh pada kecerdasan dan perilaku anak. Akan lebih baik jika anak-anak zaman now mengikuti gerakan masyarakat sehat (GERMAS).

“Dengan hidup lebih sehat, mengonsumsi buah dan sayur, nggak merokok dan menjaga kebersihan. Ibaratnya back to nature. Gerakan masyarakat sehat (GERMAS) ini perlu dibudayakan,” pungkasnya.(ghe)

Berita Terkait