Generasi Muda dan Kebudayaan Nasional

Generasi Muda dan Kebudayaan Nasional

  Senin, 7 December 2015 08:09   4,120

 Oleh : Lasmida Listari Nainggolan

Keterpurukan budaya, kata-kata ini mungkin pernah kita dengar dan diperdebatkan di media massa serta dalam kehidupan sehari-hari. Sedemikian terpurukkah budaya bangsa nusantara sehingga harus dikatakan demikian ? Sebagai anak bangsa  tentu kita tidak ingin hal-hal buruk menimpa negara ini. Walaupun pada kenyataannya menunjukkan banyak fakta mengenai keterpurukandisegala  sendi-sendi kehidupan seperti dibidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya.

Kondisi saat ini dengan didukung pesat dan canggihnya kemajuan teknologi komunikasi dan berbagai industri, memudahkan masuknya budaya luar yang berpengaruh besar terjadinya pergeseran budaya lokal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dunia maya adalah salah satu media terjadinya penstransferan budaya luar ke dalam negeri, begitu juga sebaliknya. Sebagai warga masyarakat tentu kita menyambut baik budaya luar yang bersifat positif dan mendukung proses perubahan sosial kearah yang lebih baik (progress). Namun bagaimana sebaliknya jika budaya luar tersebut bertolak belakang dan bertentangan dengan norma-norma dan falsafah atau pedoman hidup bangsa yaitu Pancasila.

Perilaku imitasi generasi muda saat ini yang lebih mengidolakan budaya luar menjadi salah satu faktor penyebab budaya lokal dan nasional perlahan-lahan ditinggalkan. Timbul fenomena dalam pergaulan generasi muda yang gaya hidup (lifestyle) mereka berkiblat pada budaya luar atau asing. Ini mereka yakini menjadi suatu trend yang harus mereka ikuti kalau tidak ingin dibilang ketinggalan zaman. Tidak hanya generasi muda,  masyarakat dewasa pun terkadang menganggap budaya asing sebagai suatu ukuran tingkat kemajuan atau modern. Dikhawatirkan sikap masyarakat ini akan menghilangkan rasa memiliki, rasa kebanggaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal dan nasional. Maka akan hilanglah identitas dan kepribadian bangsa kita.  

Menghadapi kenyataan tersebut, bermunculan berbagai pandangan dan pendapat baik menurut para ahli budaya, pekerja seni, kalangan akademisi, pelajar, serta masyarakat luas, apa dan bagaimana solusi yang dapat direncanakan dan implementasinya sehingga fenomena perilaku anti budaya lokal tidak semakin menukik tajam.  Padangan dan pendapat pun beraneka ragam. Ada yang beranggapan bahwa pemerintahlah yang harus bertanggung jawab sepenuhnya dengan mencari solusi tepat. Padahal sebenarnya upaya menjaga dan melestarikan budaya bangsa adalah menjadi tugas dan tanggung jawab seluruh warga masyarakat. Karena pemerintah sebagai perencana dan pelaksanaan penyelenggaraan negara akan sulit merealisasikan suatu program dan kegiatan tanpa dukungan dari seluruh  lapisan masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah adalah merevitalisasi kebudayaan lokal sebagai landasan kebudayaan nasional. Tujuannya tentu adalah menggali kembali budaya-budaya lokal yang pernah populer dan diketahui secara luas oleh masyarakat akhirnya makin tenggelam akibat budaya luar atau asing yang semakin mendesak dan menggeser keberadaan budaya lokal. Dikhawatirkan kondisi ini mengakibatkan berkurangya perbendaharaan budaya nasional yang dikenal oleh kalangan masyarakat.

Keadaan saat ini membuat  tindakan revitalisasi budaya menjadi sangat vital dan mendesak. Menurut Kamus Besar Indonesia, Revitalisasi adalah cara, proses, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Sehubungan dengan budaya, maka revitalisasi budaya dalah suatu cara, proses, dan perbuatan untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal sebagai eksistensi budaya nasional agar tidak punah dan dilupakan. Artinya revitalisasi merupakan salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan agar tetap hidup dan berkembang.

Sasaran utama dari proses revitalisasi budaya ini yang paling utama adalah generasi muda Indonesia. Sebangai tampuk penerus perjuangan bangsa, para generasi Indonesia inilah yang diharapkan untuk tetap mengenal, mencintai dan berusaha menjaga kelestarian budaya bangsa. Generasi muda dengan kehidupan dizaman modernisasi dan globalisasi yang sangat kental menjadi sangat rentan dengan pengaruh budaya asing. Kalau keadaan ini diabaikan, ditakutkan generasi muda Indonesia lebih mengenal dan mencintai budaya asing tersebut dari pada budaya nasional mereka. Sebelum keadaan ini semakin parah perlu dilakukan beberapa langkah dalam proses revitalisasi budaya tersebut, diantaranya adalah melakukan berbagai  kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan. Misalnya kegiatan seni budaya berupa pagelaran tarian dan lagu-lagu tradisional dan lain-lain.Sebaiknya dilakukan secara rutin dan terjadwal sehingga masayarakat mengetahui dan merasa menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Hal ini tentu dibutuhkan peranan pemerintah sebagai fasilitator dan motivator.  Diharapkan dari kegiatan ini mampu menggali kembali budaya lokal yang sempat bergeser dan menumbuhkan rasa memiliki pada masyarakat akan kebudayaan tersebut.

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah peranan sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang mempunyai peran lahirnya sumber daya manusia yang berkualitas dalam hal pengetahuan, keterampilan dan moral. Karena itu, dalam implementasi kurikulum pendidikan masalah kebudayaan tidak boleh dianggap remeh. Sekolah menjadi sarana yang tepat untuk memperkenalkan dan mempublikasikan kepada anak betapa negara kita kaya akan kebudayaan nasional. Usaha ini dilakukan agar muncul rasa memiliki dan mencintai kebudayaan nasional yang ada. Tidak hanya itu, diharapkan juga muncul sikap toleransi pada anak terhadap berbagai perbedaan kebudayaan yang kita miliki.

Menghadapi masuknya arus budaya luar memang sulit untuk dicegah. Namun bukan berarti kita menerima begitu saja tanpa ada proses filterisasi. Negara kita mempunyai generasi muda dalam jumlah banyak yang menjadi salah satu modal kekuatan bangsa. Apa jadinya jika generasi muda malah meninggalkan dan melupakan budayanya sendiri.  Generasi muda memang harus pintar dalam mengikuti perkembangan zaman agar tidak ketinggalan dan mampu bersaing baik dalam skala nasional maupun internasional. Akan tetapi generasi muda juga harus cerdas dalam menghadapi dan menerima budaya luar (asing) yang masuk. Apakah sesuai atau bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

 

*)Tenaga pendidik di SMA Negeri 1 Mempawah Hilir