Generasi Mobile Legends?

Generasi Mobile Legends?

  Rabu, 20 December 2017 09:51   167

Oleh: Ramdhani Saputra, S.Sos

MOBILE Legends adalah salah satu permainan multiplayer online battle arena (MOBA) yang saat ini sedang diminati berbagai kalangan. Mulai dari remaja hingga dewasa dan sampai anak-anak, banyak yang memainkan salah satu game online ini. Sebelumnya juga seperti game Clan of Clash, Clash Royale, Fifa Mobile sampai sekarang terbaru Mobile Lagends, adalah game online yang mendunia dan sangat pupuler di Indonesia. Sasaran permainan ini adalah anak-anak dan remaja yang memasuki masa pubertas.

Game online sebenarnya adalah sebuah aplikasi yang dibuat dengan tujuan dapat mengurangi stres, meningkatkan mood, meningkatkan kemampuan motorik, meningkatkan kerjasama dan lain sebagainya jika itu dimainkan dalam batas wajar. Tapi apakah game yang dimaksud betul-betul memberikan dampak positif? kenyataan sekarang ini game online atau Mobile Lagends tersebut telah membuat orang menjadi kecanduan. Mirisnya lagi, candu tersebut sampai usia anak-anak yang sepatutnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar. Jika sesorang sudah kecanduan secara berlebih, hal tersebut justru mengakibatkan konsekuensi negatif. 

Banyak kita lihat di warung kopi atau di tempat-tempat yang menyediakan free wifi, dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk dengan smartphone-nya masing-masing untuk bermain Mobile Lagends. Pemandangan itu juga termasuk ada anak-anak. Sangat rugi, waktu yang seharusnya bisa lebih bermanfaat hanya dihabiskan untuk bermain game online. Maka tak heran, ada istilah “autis” yang sering dilontarkan kepada orang-orang khusunya anak muda yang bermain Mobile Lagends berjam-jam. 

Adapun pengaruh secara prikologis seseorang yang kecanduan bermain game online biasanya memiliki kepribadian tertutup. Sosialisasi mereka terhadap lingkungan sekitar dan dunia luar sangat kurang, karena aktivitas mereka dihabiskan hanya untuk bermain game. Perhatian dan kasih sayang pun jarang mereka dapatkan. Secara mental, orang yang sudah kecanduan biasanya mudah marah, emosional, mudah mengucapkan kata-kata kotor, memaki, mencuri dan lain sebagainya. 

Bermain game online tanpa mengenal waktu juga dapat mempengaruhi proses pendewasaan diri seseorang, hal tersebut sangat beralasan karena dalam permainan tersebut mengajak seseorang untuk hanyut serta larut yang mengakibatkan seseorang menjadi pemalu, minder, kurang percaya diri, manja dan bersifat kekanak-kanakan. Selain itu, mereka yang telah kecanduan game online, umumnya akan sulit bersosialisasi. Cenderung memiliki sikap anti sosial, tidak memiliki keinginan untuk berbaur dengan masyarakat, keluarga, teman dan lingkungan sekitar.

Sangat disayangkan bukan? Kalau anak muda kita yang disebut juga sebagai generasi Alpha (generasi anak yang lahir tahun 2000 – 2030), menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk bermain game online. Bukan berarti bermain game online atau Mobile Legends dilarang, bermainlah dengan batas waktu yang wajar. Tentunya anda tidak akan setuju kalau anak muda Indonesia disebut sebagai generasi Mobile Lagends. Bukan juga generasi dengan istilah “Kids Zaman Now” yang sering kita dengar akhir-akhir ini sebagai sesuatu hal yang selalu diartikan negatif.

Oleh karena itu, perlunya perhatian pemerintah, lembaga sosial, guru-guru di sekolah dan kita semua untuk melihat ini sebagai sesuatu hal yang perlu disikapi. Memberikan pembatasan atau sosialisasi yang kontrukstif dalam memanfaatkan jaringan tekhnologi dalam hal ini game online. Peran keluarga juga sangat penting untuk menangkal dan mencegah perilaku negatif dari kecanduan game online. Apalagi terhadap anak-anak, batasi anak dalam penggunaan smartphone, beri perhatian dan kasih sayang yang cukup. Beri ruang dan waktu yang lebih mengarahkan pada aktivitas kegiatan yang positif. Dengan begitu, waktu mereka tidak hanya dihabisi untuk bermain, tetapi bisa lebih berkembang dan bermanfaat.**

Penulis:  Alumni Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, IAIN Pontianak