Gemblengan Kakak Ipar Lebih Cepat Masuk

Gemblengan Kakak Ipar Lebih Cepat Masuk

  Kamis, 1 September 2016 09:30
NGOBROL SANTAI: Putera Lengkong (kiri) bersama kliennya, Owi/Butet, beberapa saat sebelum berangkat ke Brasil. Nuris andi/jawa pos

Berita Terkait

​Kesuksesan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 tak bisa dilepaskan dari sosok yang satu ini. Perannya tidak kelihatan. Tapi cukup menentukan.

NURIS ANDI P., Jakarta

RAUT wajah Liliyana Natsir tampak antusias saat ditanya soal sosok Putera Lengkong. ”Meski informal, masukan Pak Putera memang ampuh mengatasi masalah kami,” kata Butet, panggilan pebulu tangkis kelahiran Manado itu.

Masalah yang dimaksud adalah problem psikologis yang dialami ganda campuran Indonesia tersebut setiap akan menghadapi event besar. Contohnya tersaji saat Owi –sapaan Tontowi Ahmad– dan Butet tampil di Olimpiade Rio 2016. Mental mereka perlu di-treatment khusus oleh Putera Lengkong agar bisa tenang dan fokus menghadapi setiap pertandingan. Maka, sebelum berangkat ke Brasil, Owi/Butet mendapat gemblengan mental selama dua jam dari Putera.

Bagi Butet, sosok Putera Lengkong tidak asing lagi. Sebab, Putera adalah sang kakak ipar yang dikenalnya sejak 2009. Kakak kandung Butet, Kalista Natsir, turut mengenalkan Putera kepada ganda campuran peringkat ketiga dunia itu. 

Selama ini, sesi mental coaching memang hanya dilakukan bersama Butet seorang. Akibatnya, pasangan Owi/Butet sering kurang padu saat mengikuti kejuaraan. Salah satunya terjadi ketika mereka tampil di Indonesia Open 2016. Labilnya mental Owi/Butet membuat keduanya harus tersingkir di babak kedua. Mereka kalah oleh pasangan Denmark Kim Astrup/Line Kjaersfeldt 19-21, 17-21.

Sesi mental coaching yang dilakukan Putera memang lebih sering berlangsung ketika Butet sedang libur latihan di pelatnas Cipayung. ”Paling sering kami lakukan di rumah,” ujar Butet. Mengobrol santai dan informal membuat masukan yang diberikan Putera bisa gampang masuk ke hati dan pikiran perempuan 30 tahun tersebut. Masukan psikologis itulah yang kemudian dibawa Butet dalam pertandingan. 

Ketika tidak ada jadwal latihan, Butet kerap berkunjung ke rumah Putera-Kalista di kawasan Serpong, Tangerang. Tidak hanya untuk bertemu kakaknya, Butet juga meluangkan waktu untuk bercanda dengan dua keponakannya, Rafael Lengkong, 5, dan Kenzo Lengkong, 2.

Sehari-hari Putera dikenal sebagai motivator dan pembicara dalam sejumlah seminar atau pelatihan (training). Basis pendidikannya adalah bidang human resource. Sempat menuntaskan pendidikan di Jurusan Teknik Industri Universitas Atma Jaya Jogjakarta pada 1996, Putera melanjutkan studi S-2 di University of Wolverhampton di Inggris (2001–2003).

Sepulang dari Inggris, Putera sempat meniti karir di bagian HRD salah satu perusahaan otomotif di Jakarta. Sekitar enam tahun berkecimpung di bidang otomotif, Putera akhirnya kembali menemukan ”jalan pulang” ke jalur keahliannya, yakni human resource. 

Putera lalu mengikuti kursus neuro-linguistic programming (NLP) setahun. Itu adalah sebuah program yang menggunakan pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikoterapi untuk menangani klien. Dari situlah dia kemudian menerapkan ilmu teknik mental coaching kepada adik iparnya. Hasilnya tidak mengecewakan. Buktinya, Butet mengakui masukan yang diberikan Putera sebagai salah satu faktor kemenangan mental dirinya bersama Owi saat melibas lawan-lawan di Rio. 

Meski Owi/Butet adalah klien pertama di bidang mental coaching, Putera sudah berani menerbitkan sebuah buku yang berisi prinsip-prinsip yang harus dimiliki seorang juara. Buku berjudul 9 Prinsip Kesuksesan sang Juara tersebut merupakan apresiasi Putera atas prestasi Owi/Butet menjuarai All England 2012. Ternyata, Owi/Butet kembali menjadi juara All England dua tahun berikutnya secara berturut-turut alias hat-trick. 

”Teknik mental coaching yang saya terapkan kepada Owi/Butet itulah yang saya tulis di buku tersebut,” ujar Putera. ”Saya juga sering berkomunikasi dengan pelatih mereka, Richard Mainaky, biar selaras,” tambahnya. 

Lantaran kesibukan kerja, Putera sempat tidak ”mendampingi” Owi/Butet beberapa saat. Ketika itulah prestasi ganda campuran terbaik Indonesia tersebut menurun. Terutama dalam setahun terakhir. Maka, Putera lalu kembali tergerak untuk membantu mereka. ”Tiga hari sebelum berangkat ke Brasil, saya ketemu mereka. Seperti biasa ngobrol santai, tapi tetap mengarahkan mereka untuk bisa fokus kembali,” ujarnya.

Setidaknya ada tiga treatment dalam mental coaching yang dilakukan Putera selama dua jam pertemuan itu. Pertama, mengubah fisiologi tubuh Owi/Butet kala melakukan kesalahan. Treatment itu dilakukan untuk memutus kecenderungan kesalahan yang selama ini terus berulang dilakukan Owi/Butet dalam pertandingan.

Terlebih, senioritas Butet terhadap Owi kerap terlihat jelas kala Owi melakukan kesalahan. Raut muka Butet yang terlihat bete sering kali membuat Owi salah tingkah. Alhasil, penampilan pun amburadul dan mereka tumbang sebelum laga final. Persis seperti yang diperlihatkan keduanya di Indonesia Open 2016 yang berlangsung di Istora Jakarta akhir Mei lalu.

Kedua, fokus. Artinya, mereka harus memosisikan diri untuk tetap berfokus mengambil poin demi poin. ”Harapannya, mereka tidak terbebani untuk terburu-buru mengambil satu game,” sebut Putera. Ketiga, visualisasi atau imagery. Yakni sebuah teknik mental coaching untuk memvisualisasikan pertandingan yang dihadapi.

Keberhasilan teknik mental coaching yang diberikan Putera bisa maksimal karena dirinya dan Owi/Butet merasa saling percaya. Artinya, Owi/Butet dengan sadar menjalankan arahan Putera sepanjang laga. Selain itu, faktor hubungan Putera dan Butet yang masih terikat dalam satu keluarga turut membuat arahan tersebut semakin mudah dijalankan. ”Saya tidak mengajari mereka, tetapi menantang mereka untuk memikirkan sendiri bagaimana cara terbaik mencapai potensi puncak,” ujar Putera. 

Kali ini Tontowi mengaku lebih dilibatkan dalam proses mental coaching. Karena itu, dia bersama Butet merasa masukan tersebut bukan hanya nasihat-nasihat teoretis, tapi juga harus dipraktikkan di lapangan. ”Itu terlihat nyata. Owi mulai berinisiatif mengambil tanggung jawab sebagai pelaku untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya,” beber pria 39 tahun tersebut. 

Putera siap jika dipercaya sebagai salah satu mitra PP PBSI untuk mendukung dan mengawal para pebulu tangkis pelatnas Indonesia. Bahkan di cabor-cabor lain yang tengah mempersiapkan program jangka panjang menuju Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020 Tokyo. ”Kapan pun dan di mana pun, saya siap untuk memberikan kontribusi buat Merah Putih,” tandasnya. (*/c9/ari)

 

Berita Terkait