Geliat Pengrajin Kayu Ulin di Tekudak

Geliat Pengrajin Kayu Ulin di Tekudak

  Rabu, 30 November 2016 09:30

Berita Terkait

Minim Bahan Baku, Produksi Terbatas

Selain sektor pertanian, Desa Tekudak, Kecamatan Kalis Kabupaten Kapuas Hulu memiliki potensi kerajinan tangan dari bahan kayu Ulin. Namun, karena keterbatasan bahan baku membuat pengrajin setempat belum optimal mengembangkan potensi kerajinan tangan yang ada.

Ashri Isnaini, Kapuas Hulu

SAAT melihat salah satu rumah berjarak sekitar 10 meter dari Kantor Desak Tekudak,  lokasi itu tak seperti rumah  pengrajin tangan. Dari luar, tampak pemilik rumah hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari.  “Di sini jarang ada warung, makanya saya dan suami memilih untuk membuka warung sembako,” kata  Martina (23).

Saat diajak memasuki ruang tengah, barulah saya mengetahui, Martina bersama sang suami, Narang merupakan salah satu pengrajin peralatan rumah tangga dari bahan baku kayu ulin. Itu terlihat jelas dari tumpukan kerajinan berbahan baku kayu ulin yang disimpan disalah satu sudut ruang tamu.

Beberapa jenis kerajinan yang dibuat seperti piring, garpu, sendok, lesung, asbak, tempat pengiris bawang, nampan, tempat gelas, dan sejumlah peralatan rumah tangga lainnya.

Untuk membuat beragam kerajinan tersebut, Narang bersama para pengrajin desa setempat memberdayakan limbah kayu ulin yang dibeli dari sejumlah kebun warga yang masih memiliki kebun pohon ulin. “Kalau dulu disekitar desa kami cukup banyak kayu ulin, namun sekarang sudah sulit dicari, kalaupun ada hanya sisa limbah atau bekas potongannya saja. Dari potongan-potongan kayu ulin itulah kami buat menjadi beragam peralatan rumah tangga,” katanya.

Semula Narang, bersama sang istri, hanya mengisi waktu luang untuk membuat berbagai kerajinan tangan. “Jadi sebelumnya, selain berladang dan membuka warung sembako, saat ada waktu luang kami belajar membuat kerajinan tangan ini,” kenang Narang. 

Namun sekitar tahun 2014 saat mendapat tawaran mengikuti pameran kerajinan tangan di Kota Pontianak, pasangan suami istri ini mulai kebanjiran pesanan dari beberapa daerah di luar Putussibau dan membuat mereka pada akhirnya memutuskan mulai menekuni kerajinan tangan berbahan baku kayu ulin. “Saat kali pertama ikut pameran, hasil penjualan yang kami dapat lumayan besar, mungkin lebih dari 10 jutaan untuk satu kali pameran,” jelasnya.

Dalam sehari Narang bisa membuat sekitar 4 hingga 5 kerajinan tangan dari kayu ulin. Beragam hasil kerajinan tangan itu dijual dengan harga mulai dari 15 ribuan rupiah, hingga 500ribuan. “Tergantung tingkat kesulitan, semakin sulit jenis kerajinan yang dibuat, maka harganya juga semakin mahal,” terangnya.

Selain dipasarkan di lokal Putussibau, beragam hasil kerajinan tersebut juga dijual hingga ke Kota Pontianak.  Saat sudah dijual ke Pontianak harganya juga semakin meningkat, mengingat biaya angkut dari Putussibau ke Pontianak cukup mahal.

Dalam beberapa tahun terakhir potensi hasil kerajinan tangan dari kayu ulin memiliki pangsa pasar cukup luas. Hanya saja lantaran sulit mendapatkan bahan baku kayu ulin membuat Narang dan beberapa pengrajin lain tak bisa memproduksi kerajinan tangan dari kayu ulin dalam jumlah besar.

Karena kian sulit mendapatkan kayu ulin untuk membuat kerajinan tangan, ke depan Narang berharap pemerintah daerah setempat bisa memfasilitasi pengrajin untuk mengganti bahan baku kayu ulin.

“Rata-rata para pengrajin di desa kami cukup terampil, sayang jika skill yang ada ini tidak bisa diberdayakan hanya karena minimnya bahan baku. Semoga saja ke depan ada kebijakan dari pemerintah untuk mengarahkan dan meningkatkan kemampuan kami dalam mencari alternatif lain pengganti bahan baku kayu ulin yang bisa diolah menjadi beragam kerajinan tangan,” pungkasnya. (*)

 

 

 

Berita Terkait