Geliat Kehidupan Masyarakat Bantaran Sungai Kapuas , Sosial Ekonomi Mengalir Membentuk Kearifan Lokal

Geliat Kehidupan Masyarakat Bantaran Sungai Kapuas , Sosial Ekonomi Mengalir Membentuk Kearifan Lokal

  Rabu, 24 February 2016 08:21
NELAYAN: Nelayan di Desa Teluk Aur, Kabupaten Kapuas Hulu masih menggunakan alat tangkap sederhana, seperti bubu, jala dan waring. hasilnya, sejumlah jenis ikan seperti entukan, baung dan lain sebagainya. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Sungai Kapuas selalu menyimpan cerita. Sendi-sendi kehidupan masyarakatnya tak terlepas dari aliran sungai. Berperan bagi pembentukan karakter serta kearifan lokalnya.Agus Pujianto, Kapuas Hulu

BIAS cahaya matahari baru saja menyeruak di balik rimbunan pepohonan di seberang Kapuas. Sepintas, Desa Teluk Aur Kecamatan Bunut Hilir Kabupaten Kapuas Hulu tidak menunjukkan perbedaan dari segi kehidupan di bantaran sungai Kapuas pada umumnya. Sendi kehidupan sosial ekonominya tak bisa terlepas dari aliran sungai.Setiap mata memandang, sesekali muncul decak kagum. Setiap sudut bantaran sungai yang ramai berjejer jamban.  Ada juga kapal Bandong yang sedang bersandar.

Rumah-rumah di desa ini hampir semuanya terbuat dari kayu.  Berbentuk rumah panggung dengan tiang setinggi kurang lebih 6 - 7 meter. Setiap rumah terhubung dengan jembatan kayu. Begitu pula dengan jalan utama desa.“Di sini saat musim hujan air sungai bisa naik sampai 8 meter dalam rumah sampai sebatas pinggang,” kata Zukarnain, pemuda setempat.Desa Teluk Aur, dihuni dua etnis besar: Melayu dan Dayak Iban. Teluk Aur terdiri dari 3 Dusun. Puring, mayoritas dihuni sub suku Melayu. Hal ini dapat dilihat dari pola pemukimannya: ruang tamu dibuat memanjang. Sementara ruang keluarga cenderung sederhana. Antara keduanya, hanya dibatasi pintu. Hal ini merujuk pada sistem kekerabatan yang masih kental. Di mana rumah bagi mereka hanya kamar, sedangkan selebihnya milik semua orang.

“Apa kata pepatah, rumah ini rumah kita semua.Punya saya Cuma kamar. Begitulah cerita, nama pepatah orang tua,” kata sesepuh Desa, Ibrahim, sesekali terbahak.Dari kejauhan, samar-samar terlihat warga membelah arus sungai menggunakan perahu motor.Seperti tengah membawa beban dalam sampan. Tak butuh waktu lama membelah sungai Kapuas.Beberapa saat kemudian sampan sudah merapat di sisi jamban.Bak koboi, lelaki separuh baya itu mulai menambatkan tali sampan. Sementara istrinya, sibuk memilah sayuran.

“Darimana pak,” belum juga selesai menambatkan tali sampan, warga itu sudah saya tanya. Dia hanya menyeringai, sementara tangannya masih mengilas tali sampan, agar tertambat dengan benar. "Abis panen padi, dari seberang," jawab lelaki berkumis tebal bertopi bundar.Namanya Bandi. Dia satu dari sekian banyak petani di Teluk Aur. Dari penuturannya, petani padi di dusun puring sebagian memanfaatkan kondisi ketika musim kemarau. Lahan ladang yang mereka usahakan, umumnya berada di bibir sungai. Sebab, banjir sudah menjadi langganan tahunan. perhitungan bulan tanam dan panen memang harus tepat.

Benih padi yang ditanam, didapatkan dari pemberian pemerintah setempat yang masa panennya tidak memerlukan masa panen yang lama. Sehingga ketika musim banjir tiba, hasil padi sudah bisa di panen.  Setiap kepala keluarga, mengolah 4 hektare lahan. Satu hektare sawah mampu menghasilkan ratusan kilo. Jumlah tersebut cukup untuk dikonsumsi 3 sampai 4 bulan bahkan jika lebih, bisa dijual.“Kalau peritungan cepat, dengan benih padi yang cepat, maka air lah yang datang.Maka kita perlu padi unggul.Ini yang baru datang sekitar 350 kilo,” kata Bandi, sesekali menyeka peluh di dahinya.

Pergantian musim, juga dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam dibawah pemukiman rumah penduduk. Jika musim kemarau, di gunakan untuk bercocok tanam.Di perairan, ramai lalu lalang perahu sampan warga setempat mencari ikan. Sektor perikanan di Uncak Kapuas (Julukan Kabupaten Kapuas Hulu) menjadi pendukung ekonomi warga. Selain menggarap lahan, warga juga berpencaharian sebagai nelayan. Alat penangkap ikan juga masih tradisional: Jala, waring, pukat, bubu. Sementara hasilnya, berbagai jenis ikan seperti entukan, baung, biawan dan lain sebagainya.

Aktifitas nelayan ada sebagaian yang dimulai dari pagi hari, kadang hasilnya mencapai 40 kilo atau bahkan lebih, bahkan jika cuaca kurang mendukung, mereka kadang tak memperoleh ikan yang memuaskan. Hasil nelayan, biasanya diperuntukan untuk konsumsi pribadi. Ada juga yang dimanfaatkan agar bernilai ekonomis, seperti diolah menjadi kerupuk basah serta kerupuk ikan, jika lebih akan mereka jual.Tangkapan ikan kecil, tidak lantas mereka buang, namun untuk umpan ikan piaraan ikan toman di keramba. luas keramba sepanjang 4m x 2m dan sanggup menampung dua ton ikan toman.

“Ambil ikannya di danau, ngumpulkan setiap jala,” kata Sulaiman, sesekali tangannya menyayat ikan untuk umpan toman.Masa panen ikan toman dikeramba, harus menunggu usia satu atau dua tahun, agar beratnya sesuai dengan harga pasaran. 1 kilo ikan toman dihargai sebesar Rp. 20,000 Pemasaran ikan di Puring termasuk sulit, meski tidak ada tengkulak.“Kita hubung mereka, harganya ndak mesti, kadang ada yang sampai Rp. 23.000,” sebut Sulaiman.

Dari segi infrastruktur, Desa teluk aur masih bisa terbilang terisolasi. Tidak ada jalan darat yang bisa di lalui jika ingin menjajaki tempat ini. Hanya bisa menggunakan Spedd Boat, dari Ibukota Kapuas Hulu, jarak tempuhnya 3 sampai 4 jam dengan mesin berkekuatan 40 PK. Terisolirnya desa tersebut, membuat warga selalu berinisiatif dalam swakelola pembangunan gotong royong.

Ketiadaan listrik misalnya. Mesin pembangkit Listrik hanya menyala dari program PNPM menyala pada pukul 18.00-21.00, selebihnya akan menjadi gelap gulita.“Mesin ini datangnya dari Pontianak, dari Program PNPM. Listrik hidup dimulai dari jam 6 sampai dengan jam 9, kadang-kadang kalau orang itu ninggal, sampai siang itu peraturan disini,” kata Adi Ismail, perawat mesin,

Tiang penyangga kabel penyalur listrik juga seadanya. Bahkan terbuat dari balok kayu. Selain itu, besaran tarif pemakaian daya listrik juga bervariasi. Tergantung berapa banyak perabotan elektronik.“Satu jam abis 13 liter. Satu rumah mendapatkan pasokan listrik sebesar 450 waat. Yang ada tv itu Rp. 100.000, yang ada kulkas Rp. 150.000, kalau ndak ada keduanya itu Rp. 85.000 perbulan.” Papar Adi.Diungkapkan Adi, rencananya jalur listrik akan di sambung dari Ujung Said oleh Bupati, dalam waktu dekat. “Kalau tidak disambung, ya macam inilah, hahahaha,” kata Adi berkelakar. (*)

Berita Terkait