Geliat Inovasi Lombok, Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia

Geliat Inovasi Lombok, Destinasi Wisata Halal Terbaik di Dunia

  Selasa, 5 December 2017 10:00
PIKAT TURIS MANCA: Ida Wahyuni (dua dari kanan) menyambut tamu VVIP di Desa Setanggor, Lombok Tengah, NTB. Mayoritas pengunjung adalah wisatawan mancanegara. Ida Wahyuni for Jawa Pos

Berita Terkait

Tak Bisa Ujug-Ujug Datang, Sajikan Khas Pedesaan

Dua tahun berturut-turut (2015 dan 2016) Lombok meraih penghargaan sebagai destinasi wisata halal terbaik di dunia. Bisa menjadi modal berharga ketika sektor pariwisata sedang terkena dampak erupsi Gunung Agung.

SEKARING RATRI A, Lombok

Lokasi Desa Wisata Halal Setanggor di Lombok Tengah memang sangat strategis. Untuk mencapainya, hanya dibutuhkan waktu berkendara sekitar 15 menit dari Bandara Internasional Lombok. Desa Setanggor terdiri atas 14 dusun dengan potensi wisata yang berbeda-beda. Tak seperti desa wisata lainnya yang cenderung terintegrasi dan terpusat di satu lokasi. Jika baru pertama mengunjungi Desa Setanggor, para wisatawan mungkin bisa kebingungan. Sebab, begitu mereka masuk ke kawasan wisata tersebut, suasananya seperti desa pada umumnya. Bahkan terkesan sepi pengunjung.

Padahal, hingga Februari tahun depan paket wisata di Desa Setanggor sudah fully booked. ”Desember ada turis dari Belanda dan Hongkong. Tahun depan sampai Februari itu ada macam-macam, salah satunya turis dari Prancis yang sudah beberapa kali kemari,” ungkap Ida Wahyuni Sahabudin, founder Desa Wisata Halal Setanggor. 

Menurut dia, konsep berwisata ke Desa Setanggor memang berbeda. Wisatawan tidak bisa ujug-ujug datang, melainkan harus booking dahulu. Setiap hari pun selalu ada tamu yang dijamu. Hanya pada waktu-waktu tertentu pihaknya tidak menerima tamu. ”Biasanya kalau ada event besar di desa, ya kita terpaksa tidak terima tamu,” ujarnya.

Meski terbilang pemain baru di dunia pariwisata Lombok, NTB, desa yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah itu sudah cukup tersohor di kalangan wisatawan asing. Sampai Agustus 2017, jumlah turis asing maupun lokal yang berkunjung ke sana mencapai 1.513 orang. Mayoritas pengunjung di Desa Setanggor adalah wisatawan asing. Sebab, pengalaman berwisata yang disuguhkan beragam dan sangat khas pedesaan.

Tercatat ada 34 negara asal wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke desa wisata halal tersebut. Di antaranya, Oman, Qatar, Malaysia, Jerman, Swedia, Irlandia, Norwegia, Australia, Hongkong, Vietnam, Inggris, Belanda, Prancis, Korea Selatan, dan Tiongkok. Sebenarnya, suguhan wisata yang ditawarkan adalah aktivitas pedesaan pada umumnya. Misalnya, memanen ubi dan buah naga di kebun, makan di tengah sawah, memerah susu sapi, sampai belajar menenun. Di desa tersebut, 90 persen perempuan adalah penenun andal.

Namun, yang menarik adalah cara sang founder mengemas sejumlah ragam potensi alam pedesaan dengan apik, ditambah dengan balutan nuansa religi. Semua itu tidak lepas dari tangan dingin perempuan 29 tahun tersebut. Ida mengawali semuanya pada September 2016. Perempuan kelahiran 5 Desember 1987 itu memang berasal dari Mataram. Sedangkan Desa Setanggor adalah tempat tinggal sang nenek sehingga desa tersebut juga bukan hal yang asing baginya. 

Hampir bersamaan dengan keluarganya Pergub 51/2016 tentang Wisata Halal, Ida terpikir ikut menyukseskan program Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi itu. ”Di Setanggor 90 persen perempuan penenun dan 90 persennya petani. Di sini juga ada wisata seni budaya, ada tarian gendang beleq. Jadi, saya terpikir, kenapa desa ini tidak dijadikan tujuan menarik bagi wisman,” ungkapnya.

Akhirnya, dengan merogoh kocek pribadi Rp 20 juta, Ida yang memang pengusaha mulai membangun konsep desa wisata halal di Setanggor pada pertengahan 2016. Dia mempersiapkan beberapa infrastruktur pendukung sekaligus mematangkan konsep 14 spot wisata yang menjadi unggulan. ”Modal awal pribadi, kita bikin sejumlah beruga (semacam balai pertemuan, Red). Kemudian membikin gapura, beberapa aksesori pendukung, dan papan-papan nama spot wisata di tiap dusun,” katanya.

Sejak awal, anak pertama di antara tiga bersaudara itu sudah menerapkan konsep halal. Yakni, melarang riba di lingkungan desa. Dengan demikian, tidak ada campur tangan perbankan dalam pembangunan desa wisata. ”Semuanya dari awal murni dari saya, kemudian baru setelah berkembang, modalnya dari masyarakat,” urainya.

Selain membangun infrastruktur pendukung, dia mengajak warga desa untuk ikut berpartisipasi. Di antaranya, menyediakan homestay, yakni rumah penduduk yang kondisinya bersih. ”Kalau tidak bersih, apalagi toiletnya, kita tidak terima. Jadi, warga yang mau gabung harus memenuhi syarat itu,” ujarnya. 

Ketua DPD Asosiasi Pariwisata Islami Lombok Tengah itu juga melakukan sosialisasi kepada warga desa sekaligus mengedukasi mereka. Di antaranya dengan mengadakan program English Fun, yaitu kursus bahasa Inggris gratis yang diadakan setiap akhir pekan. Program tersebut diperuntukkan anak-anak dan orang dewasa di desa tersebut. Tujuannya, mempermudah warga desa berkomunikasi dengan para turis asing yang datang berkunjung. ”Jadi, kita kerja sama dengan Indonesia Tourist Development Cooperation (ITDC), mengajar bahasa Inggris,” ujarnya.

Paket wisata yang ditawarkan pun memiliki beberapa jenis dengan harga yang terjangkau, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per orang. Ada paket short trip dua jam. Meski hanya dua jam, para pengunjung sudah bisa menikmati empat suguhan wisata. Yakni, disambut dengan tarian gendang beleq dan pertunjukan gamelan. Kemudian, ada tarian selamat datang serta diberi selempang tenun Setanggor. Lalu, mereka diajak menikmati prosesi adat sorong serah dan mengunjungi wisata tenun serta makan siang di tengah sawah.

Jika wisatawan ingin lebih, disediakan paket empat jam. Ada tambahan menuju spot wisata perkebunan atau disebut cassava garden. Di sana para turis diajak menikmati singkong bakar yang dicabut sendiri oleh mereka serta menikmati wisata religi, yakni membaca Alquran di tengah sawah. Bagi yang ingin stay satu malam di Setanggor, pihaknya menawarkan seluruh spot wisata yang ada. Termasuk berkeliling desa dengan kendaraan tradisional mirip dokar yang disebut cidomo.

Setelah itu, mereka akan dijamu di spot wisata agro petik. Di sana turis bisa memetik buah naga langsung dari pohon, kemudian memakannya. Malamnya, mereka dijamu makan malam klasik di atas sungai dengan menggunakan rakit sambil diiringi seruling khas Lombok. ”Kita menyebutnya river night. Paket ini sudah termasuk makan tiga kali sehari dan menginap semalam di rumah warga,” imbuhnya.

Keseluruhan konsep yang menarik itu dipromosikan lewat media sosial. Selain itu, dia bekerja sama dengan sebelas biro travel untuk menggaet wisatawan. Hasilnya, Ida tidak butuh waktu lama untuk mendatangkan para wisawatan. Uniknya, jumlah pengunjung terbanyak justru para wisatawan nonmuslim, khususnya dari Eropa dan Asia Timur. Mereka mengaku sangat menikmati kunjungannya di Desa Setanggor sehingga bersedia memberikan testimoni dalam video promosi. 

”Kebanyakan memang nonmuslim, bahkan yang dari Tiongkok itu tertarik waktu kita salat. Kalau yang turis muslim biasanya dari Malaysia dan Oman. Mereka ini biasanya kita jamu dengan kegiatan baca Alquran di tengah sawah. Jadi, anak-anak kecil yang baca, mereka bisa ikutan atau sekadar mendengarkan,” urainya. 

Konsep halal yang diterapkan di Desa Setanggor memang cenderung sederhana. Misalnya, pihaknya melarang adanya konsumsi minuman keras selama para turis tersebut berada di kawasan Setanggor. Kemudian, makanan yang disajikan sepenuhnya halal sehingga tidak ada hidangan babi atau yang mengandung babi. ”Selain itu, ketika datang, mereka biasanya pakaiannya minim. Itu mereka kita pakaikan pakaian adat Lombok, baju lambung yang modelnya tertutup. Mereka malah excited dan nggak keberatan,” jelasnya. 

Para turis juga tak keberatan tidak minum bir selama di desa. ”Tapi, kalau mereka pasangan dan tidur sekamar, itu tidak sampai minta tunjukkan mereka suami istri atau bukan. Karena penerapan konsep halal ini ya memang harus bertahap,” imbuhnya. 

Raditya Firdaus, owner tour and travel Lombok Wisata Madani, menyajikan konsep wisata halal yang berbeda. Yakni, paket tur 3 hari 2 malam yang menawarkan kunjungan ke sejumlah situs bersejarah Islam di Lombok. Selain mengunjungi situs Islami, para turis tersebut bisa menikmati keindahan pantai Lombok. Bedanya, para turis tersebut tidak digiring ke pantai-pantai mainstream seperti Gili Trawangan yang pada umumnya ramai dengan turis asing maupun lokal dengan berpakaian vulgar atau terbuka. 

”Tapi, kita ajak mereka ke pantai-pantai lain yang lebih sepi, tapi keindahannya juga tidak kalah dengan Gili Trawangan. Kita ajak mereka ke Pantai Sekotong, Gili Gedes, dan Gili Nanggu di Lombok bagian selatan. Di sana daerahnya masih sepi, pantainya sangat bersih dan daerahnya belum banyak dijamah wisatawan,” urai pria 28 tahun itu.

Meski begitu, biasanya ada tawaran paket selipan untuk menginap semalam di pondok pesantren. Tujuannya, memperkenalkan para tamu terhadap kehidupan di pondok pesantren, juga menjalin silaturahmi bagi sesama muslim. Layaknya santri, para wisatawan itu akan mengikuti jadwal para santri tersebut. Mulai bangun pukul 04.00 Wita untuk melaksanakan salat Tahajud, kemudian dilanjutkan salat Subuh, salat Duha, hingga salat Duhur. 

Pemandu wisata nanti adalah para ustad selama mereka di pondok pesantren. Dalam kunjungan itu, pihaknya juga memberikan donasi kepada pondok pesantren yang menjadi tujuan wisata. ”Kebanyakan turis domestik. Bahkan, ada yang honeymoon, tapi tetap minta paket menginap di pondok pesantren. Kalau turis asing kebanyakan lebih suka tur wisata sepeda,” tambahnya. Untuk penginapan di hotel, dia telah bekerja sama dengan sejumlah hotel berbintang di Lombok. Dia juga memastikan bahwa hotel-hotel tersebut memenuhi persyaratan konsep wisata halal. Misalnya, kelengkapan sarana dan prasarana ibadah, mulai mukena, sarung, sajadah, arah kiblat, Alquran, hingga keran untuk berwudu. Bahkan, beberapa hotel sudah menyediakan musala yang layak dan bersih.  (*/c10/oki)

Berita Terkait