Geger Temuan Mayat di Sekayam

Geger Temuan Mayat di Sekayam

  Jumat, 21 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Badik Masih Tertancap di Dada

SANGGAU – Warga di Desa Sungai Tekam, Kecamatan Sekayam dikejutkan dengan penemuan mayat laki-laki Selasa (18/10) sekira pukul 16.00 Wib, kemarin. Mayat tersebut ditemukan di Camp Jangkang yang merupakan pemukiman pekerja sawit dari Bugis, Makasar dan Flores.

 Kebanyakan warga disana bekerja di perusahaan sawit milik Malaysia. Jarak dari Camp Jangkang menuju perbatasan Indonesia-Malaysia sekira 5 kilometer. Didaerah sekitar itu mayat dengan identitas nama Haruna, asal Sulawesi Selatan ditemukan.

 Kapolsek Sekayam, AKP Suparwoto mengatakan saat ditemukan posisi mayat dalam keadaan tertelungkup. Mayat tersebut ditemukan oleh seorang warga yang identitasnya tidak disebutkan. Warga ini takut ketika melihat mayat tersebut dan langsung memberitahukan kepada warga lainnya yang berada di camp jangkang.

  “Ditemukan sudah tidak bernyawa. Warga yang menemukan langsung mengabari warga lainnya yang kemudian melapor kepada polisi,” uajrnya.

 Sampai saat ini, kepolisian masih mendalami kasus temuan mayat ini. Untuk kasus kematianya sampai saat ini belum bisa dipastikan, memang ditubuh korban tidak ada luka lebam, namun ada dua  luka tusuk di dada sebelah kiri. Kemungkinan besar akibat luka tusuk tersebut yang menyebabkan korban tewas.

  “Saat ditemukan sebilah badik masih menancap ditubuh korban. Disekitar lokasi tidak ditemukan tanda-tanda pergumulan atau perkelahian. Karena itu belum bisa disimpulkan apakah korban bunuh diri atau dibunuh,” ungkapnya, Kamis (20/10).

 Sampai saat ini, kepolisian masih melakukan penyelidikan dan meminta keterangan saksi yang menemukan korban pertama kali, aparat juga tengah mendatangi lokasi penemuan mayat untuk melakukan olah TKP.

 Sementara itu hasil visum diketahui korban sudah lebih dari 12 jam meninggal dunia. Ditubuh korban tidak ada luka lebam, patah tulang atau tanda-tanda kekeran fisik lainnya. Hanya saja ditemukan dua luka tusuk di dada selebah kiri, dimana luka itu diduga tembus hingga ke paru-paru yang menyebabkan korban seketika meninggal.

  “Dua luka itu masing-masing sedalam 8 sentimeter dan 5 sentimeter. Memang luka tusuk di dada itu sangat mematikan,” kata Suparwoto sebagaimana dijelaskan oleh dr. Deni Hansen Limbeng.

 Salah seorang tokoh masyarakat disana, Kadir (60) menceritakan korban ditemukan tidak jauh dari rumahnya pada Selasa sore. Saat itu, menantunya hendak mengambil daun pandan disekitar rumah korban. Jaraknya sekira 100 meter.

 Saat didekat rumah korban, sepertinya rumah dalam keadaan kosong. Namun, pintu rumah terbuka. Dia coba memanggil korban dan mau minta izin mengambil daun pandan. “Om, saya minta daun pandan,” begitu katanya.

 Berulang kali dia teriakan, tetapi tidak kunjung ada jawaban. Karena sudah biasa, makanya menantunya langsung ke belakang rumah. Saat sampai di belakang rumah, dia terkejut ketika melihat korban sudah terbaring di tanah dengan bersimbah darah.

 “Menantu saya itu langsung berteriak. Teriakan itu membuat warga disana langsung keluar rumah dan menuju ke rumah korban,” katanya.

 Dia mengharapkan agar aparat kepolisian mengusut kasus kematian korban. Warga disana juga menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kematian korban kepada pihak berwajib.

  “Haruna ini hidup sendiri. Pernah berkeluarga tetapi bercerai. Pihak keluarga korban juga sudah diberi tahu. Semoga polisi bisa segera mengungkap kasus ini,” harapnya. (sgg)

 

 

Berita Terkait