Ganja Aceh Masuk Pontianak , Diduga Dikendalikan dari Lapas

Ganja Aceh Masuk Pontianak , Diduga Dikendalikan dari Lapas

  Selasa, 1 December 2015 10:53
GANJA: Polisi memperlihatkan barang bukti ganja seberat 16 kilogram, Senin (30/11) di Polresta Pontianak. Barang haram ini berasal dari Aceh dan dikirim melalui jasa pengiriman barang dengan kedok pengiriman jamu. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Polisi akhirnya membeberkan penangkapan ganja seberat 16 kilogram, Senin (30/11). Barang haram tersebut ternyata berasal dari Aceh dan dikirim melalui jasa pengiriman barang. Penyelundupan ganja itu diduga dikendalikan dari dalam lembaga pemasyarakatan.

Cara pelaku mengelabui petugas tergolong lihai. 16 paket ganja dengan berat masing-masing satu kilogram disusun rapi di dalam kardus. Lalu di atas paket ganja, ditutupi kemasan jamu.Kapolresta Pontianak Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat bahwa akan ada pengiriman paket ganja melalui jasa ekspedisi.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, polisi langsung melakukan pengintaian pada Minggu, 29 November, pukul 12.30. Pengintaian dilakukan pada alamat jasa pengiriman barang di jalan Pancasila, Pontianak.Polisi harus menunggu pemilik barang datang mengambil paket tersebut. Hingga pukul 23.00 target yang ditunggu pun muncul. Saat tersangka tiba, polisi langsung melakukan penangkapan.

"Tersangka berusaha menyamarkan ganja dengan menutup paket dengan bungkusan jamu," kata Tubagus.Paket ganja yang telah disusun di dalam kotak lalu dimasukan ke dalam karung. "Ganjanya asal Aceh. Sebenarnya pengiriman tanaman haram ini pola lama. Namun masih kami dalami terus kasus ini," ucapnya.Berhembus kabar, jika tersangka hanyalah orang suruhan. Diduga kuat, paket ganja seharga puluhan juta rupiah itu milik seorang tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Pontianak.

Pontianak Post berusaha mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut kepada tersangka. Namun yang bersangkutan memilih bungkam. Dia bahkan meminta bayaran untuk diwawancarai. "Kalau mau wawancara saya, bayar Rp20 juta," teriak tersangka. Senin, (30/11).Polisi kini terus mendalami dugaan keterlibatan pihak lain. Termasuk adanya informasi yang menyebutkan bahwa barang tersebut milik seorang narapidana. "Yang jelas bisnis narkoba ini berbeda. Ia bergerak secara tertutup. Pelaku selalu menyamarkan diri sebagai kurir. Maka ini yang harus didalami lebih jauh," sambung Tubagus.

Menurut Tubagus, kepada polisi tersangka mengaku baru pertama kali memesan barang haram tersebut. "Ini pengakuannya. Tetapi tentu harus dilihat data yang ada di jasa pengiriman barang di sana. Kan bisa dilihat," tuturnya.Tubagus menegaskan, warga Gang H Mursid, Jalan Imam Bonjol, Kecamatan  Pontianak Selatan tersebut akan dikenakan pasal 111 dengan ancaman pidana penjara minimal lima tahun dan maksimal 20 tahun.

"Saya mengimbau kepada pihak jasa pengiriman barang agar lebih teliti. Jangan sampai barang-barang haram bisa lolos dan bebas dikirim," imbaunya.Menurut Kapolresta, keberhasilan jajarannya menangkap pemilik ganja harus menjadi momentum semua pihak dan instansi terkait untuk menjalankan tugas dan fungsinya guna mengantisipasi peredaran narkoba, obat-obatan dan tanaman terlarang.

Sementara itu, Kepala Divisi Kemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Kalbar, Darmadji, mengaku terkejut dengan adanya warga binaan Lapas Kelas II A Pontianak yang mengendalikan bisnis haram tersebut.“Kami harus cek kebenaran informasi itu. Kalau memang ada tentu narapidana yang disebutkan itu akan kami serahkan ke polisi,” kata Darmadji.Dia mengaku sangat heran masih bisanya warga binaan yang menjalankan bisnis tersebut. Padahal, sistem pengawasan di dalam lapas sudah dilakukan semaksimal mungkin. “Penggeledahan terhadap warga binaan sudah sering dilakukan, baik yang terjadwal maupun yang spontan. Dan memang tergetnya alat komunikasi,” ucapnya.

Diakui Darmadji, bahwa banyak cara yang dilakukan warga binaan untuk memiliki alat komunikasi, mulai dengan cara meminta pihak keluarga membawakan khususnya kaum perempuan, bahkan ada yang meminta bantuan kepada petugas.“Saya ingatkan warga binaan yang kedapatan melanggar aturan ada sanksinya yakni register f, yakni dicabutnya hak-hak warga binaan, mulai dari tidak mendapatkan remisi, dimasukkan ke sel tersendiri, hingga dicabut pembebasan bersyarat,” tuturnya.Sementara bagi petugas lapas yang kedapatan bekerjasama dengan warga binaan, dia menambahkan, sanksinya sangat berat, yakni hingga pemecatan.“Modus menyelundupkan alat komunikasi itu biasanya disembunyikan ke dalam kemaluan. Ini yang tidak bisa dijangkau oleh petugas. Tapi ke depan akan diperketat,” terangnya. (adg)

 

Berita Terkait