Gangguan Kejiwaan Karena Keturunan

Gangguan Kejiwaan Karena Keturunan

  Minggu, 28 February 2016 08:53

Berita Terkait

KONSULTASI KESEHATAN JIWA

Tanya:

Saya pernah dengar katanya penyakit gangguan jiwa itu bisa diturunkan. Apa benar seperti itu? Saya jadi khawatir karena keluarga saya ada yang menderita gangguan jiwa, apa mungkin bisa mengena kepada keluarga lainnya? 

Jawab:

Penyakit kejiwaan sebenarnya tidak “ditularkan” secara herediter (keturunan). Artinya seseorang yang menderita gangguan kejiwaan, tidak serta merta menurunkan kepada anak-anaknya.

Meskipun telah diketahui bahwa factor herediter tersebut juga berperan dalam proses terjadinya gangguan kejiwaan. Namun yang perlu ditekankan adalah ia hanya satu dari sekian banyak factor lainnya, yakni antara lain, faktor psikososial, faktor lingkungan, penyakit infeksi, malnutrisi, dan factor biologis. Jadi anda tidak perlu khawatir.

Secara umum, dalam kehidupan manusia jalinan interaksi yang terjadi adalah secara holistik, atau dengan kata lain secara somato-psiko-sosial. Demikianlah pula halnya ketika terjadi gangguan kejiwaan pada seseorang, maka sebenarnya melibatkan seluruh sisi yang mengalami error, baik fisiologis, lingkungan maupun sosial.

Meskipun manifestasi yang menonjol timbul adalah gejala-gejala yang patologik dari unsur psikis (kejiwaan). Oleh karenanya, tidak pernah dikatakan penyebab gangguan kejiwaan karena satu faktor penyebab saja. Ia multikausal.

Kalau kita memahami bahwa gangguan kejiwaan itu adalah multikausal - herediter hanyalah salah satu di dalamnya-  ini berarti kita tidak bisa menimpakan ‘kesalahan’ pada kerabat/orang tua kita yang sebelumnya telah mengalami gangguan kejiwaan, sehingga kita merasa menerima faktor keturunan yang tidak menguntungkan dalam hal ini. Kita masih memiliki banyak faktor lainnya yang bisa kita intervensi.

Katakanlah masalah keturunan tidak bisa kita hindari, namun pada factor lingkungan, kita bisa menjadi  seseorang yang berinteraksi secara positif terhadap lingkungan. Atau secara psikologis kita bisa memperkuat basik kesehatan jiwa dan menjaga secara positif mekanisme koping kita, serta memposisikan emosional pada tempatnya. Selanjutnya secara sosial, kita bisa menjadi anggota masyarakat yang mampu menempatkan diri secara baik  dan proporsional.

Kami sangat yakin jika hal-hal diatas kita lakukan, sesungguhnya factor herediter bisa kita “tundukkan”. Ok sdr Jenie, sekali lagi jangan khawatir, tetap semangat dan senantiasa positive thinking & feeling. (*)

Berita Terkait