Gagal karena Dihantui Trauma

Gagal karena Dihantui Trauma

  Kamis, 11 Agustus 2016 11:31
TRIYATNO. www.jawapos.com

Berita Terkait

TRIYATNO sejatinya sangat diharapkan untuk menambah medali kontingen Indonesia dari angkat besi di Olimpiade Rio 2016. Namun, peraih perunggu Beijing 2008 dan perak London 2012 itu ternyata tampil sangat mengecewakan kemarin WIB.

 
Turun di kelas 69 kg putra, Triyatno hanya berada di posisi ke-10 dengan angkatan total 317 kg. Dari enam kesempatan, lifter berusia 28 tahun tersebut hanya berhasil mengangkat dua kali. Pertama dari snatch dengan 142 kg serta clean and jerk dengan 175 kg.

Ketika mendaftarkan angkatan pertama, Triyatno memang sangat berat untuk naik podium. Levelnya jauh berada di bawah lifter lainnya. Misalnya, ketika dia hanya berani mengangkat snatch 142 kg pada kesempatan pertama. Padahal, ada tiga lifter yang mendaftarkan minimal 150 kg sebagai angka pembukaan.

Emas nomor itu akhirnya direbut lifter Tiongkok Si Zhiyong dengan total angkatan 352 kg atau berselisih sangat jauh sampai 35 kg dengan Triyatno. Sementara itu, perak dan perunggu masing-masing diperoleh Daniyar Ismayilov dari Turki dan Izzat Artykov asal Kyrgyzstan.

Perlombaan kemarin memang berjalan relatif mudah bagi Zhiyong meski total angkatannya hanya berselisih 1 kg dari peraih perak, Ismayilov. Sebab, Zhiyong sudah pasti mendapatkan emas, bahkan sebelum dia melakukan angkatan clean and jerk penutup.

Juara dunia 2015 itu berambisi untuk memecahkan rekor Olimpiade pada clean and jerk dengan mengangkat beban 198 kg pada kesempatan terakhir. Namun, dia gagal.

Triyanto sendiri mengatakan bahwa apa yang dicapai memang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Padahal, saat meraih perak di London 2012, dia bisa mengangkat total beban 333 kg dengan sebuah penampilan yang sangat impresif pada clean and jerk.

’’Ini memang angkatan di bawah standar karena saya memang kurang latihan,’’ kata Triyatno setelah perlombaan. ’’Setelah operasi, saya mengalami kendala, terutama di sini,’’ lanjutnya sambil menunjuk kepalanya.

Triyatno mengaku agak trauma karena cedera lutut berat yang menghantamnya pada 2012. Lifter asal Metro, Lampung, tersebut naik meja operasi pada Maret 2013. Nah, setelah itu, prestasinya terus melorot dalam semua level.

Bahkan, dia sempat naik ke kelas 77 kg sebelum akhirnya turun lagi di kelas 69 kg. ’’Mungkin ya karena masih trauma. Jadi lebih ke masalah psikis saja. Saya akhirnya tidak berani memaksimalkan angkatan. Bahkan, persiapan saya di Rio lebih rendah 50 persen ketimbang London,’’ katanya. ’’Ke depannya saya ingin tetap berada di kelas 69 kg. Hari ini cukup dijadikan pelajaran saja,’’ lanjutnya.

Sementara itu, lifter Indonesia lain yang berlaga di kelas 69 kg, I Ketut Ariana, juga tampil jelek. Dia bahkan sudah didikskualifikasi karena tiga kali gagal melakukan angkatan snatch. (nur/c15/tom)

Berita Terkait