Gafatar Bubar, Jadi Kelompok Tani

Gafatar Bubar, Jadi Kelompok Tani

  Kamis, 14 January 2016 10:18
BERCITA-CITA SWADAYA: Base camp kelompok masyarakat yang mengaku mantan anggota Gafatar di Dusun Moton Asam, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, kemarin. WAHYU ISMIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

MEMPAWAH – Informasi yang dikumpulkan Pontianak Post menyebutkan, sebagian besar orang yang hilang dan diduga terkait dengan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar)  meninggalkan pesan akan menuju Kalimantan. Termasuk informasi yang didapat penyidik Polda Daerah Istimewa Jogjakarta, yang juga menyebutkan bahwa dokter Rica baru saja menuju sebuah daerah bernama Mempawah di Kalimantan Barat sebelum ditemukan polisi di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.  

Kabupaten Mempawah menjadi salah satu daerah tujuan rombongan warga pendatang yang belakangan diketahui terlibat dalam kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Pontianak Post kemarin melacak keberadaan tujuan eksodus kelompok mantan anggota Gafatar di Kalimantan. Akhirnya ditemukan lokasi perkampungan baru di Dusun Moton Asam, Desa Antibar, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, sebagai tujuan rombongan warga pendatang yang belakangan diketahui terlibat dalam jaringan Gafatar itu. Sekitar pukul 15.00 Pontianak Post tiba di kampung mirip base camp pekerja perkebunan tersebut.

Lokasinya bisa ditempuh dengan sepeda motor kurang lebih 20 menit berkendara. Tidak sulit menemukan lokasi tinggal para anggota Gafatar itu lantaran berada di pinggir jalan beraspal. Apalagi, base camp itu berada di tengah lahan kosong yang luas.Dari pengamatan di lapangan, tak kurang dari 43 hektare lahan tanah gambut menjadi area garapan kelompok Gafatar tersebut. Di atas lahan yang kabarnya telah menjadi hak milik kelompok itu, tampak berdiri sepuluh bangunan yang menyerupai long house perusahaan kelapa sawit atau pabrik untuk tempat tinggal para karyawan.

Pontianak Post pun semakin penasaran ingin melihat secara dekat aktivitas warga yang jumlahnya diperkirakan sebanyak 110 kepala keluarga (KK) dengan lebih dari 300 jiwa itu. Namun, ketika melintas di bagian depan pintu masuk menuju ke dalam perkampungan, tampak sebuah pos penjagaan dilengkapi portal yang terbuat dari kayu. Pengamanan memang begitu ketat terhadap keluar masuknya orang di lokasi base camp tersebut.

Meski demikian, aktivitas para warga yang berada di lingkungan base camp masih cukup terlihat jelas dari pinggir jalan raya. Beberapa anak tampak penuh keceriaan bermain di atas lahan gambut. Ada pula anak yang sedang mandi di dalam parit di pinggir jalan sembari ditemani ibunya yang tampak sedang mencuci piring dan pakaian. Sementara itu, di sisi lain juga terlihat beberapa warga yang sedang melakukan aktivitas cocok tanam. Menggunakan peralatan cangkul dan arit, mereka tampak tekun menanam berbagai jenis sayuran. Bukan hanya itu, di bagian belakang juga terlihat para pekerja menambah bangunan fasilitas ibadah dan tempat tinggal untuk warganya beristirahat.

Benarkah mereka anggota Gafatar? ”Kami memang pernah mengikuti organisasi itu (Gafatar). Namun sekarang sudah keluar dari organisasi itu. Kedatangan kami murni untuk memulai kehidupan yang baru, membantu pemerintah memajukan perekonomian,” tegas Deni, koordinator kelompok tersebut.Lebih jauh Deni menyebut alasan mendasar hijrahnya ratusan KK warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Manunggal Sejati itu. Yakni minimnya prospek kerja di tanah Jawa. Deni mengungkapkan bahwa kelompoknya sudah sekitar tiga bulan berada di lokasi tersebut. Meskipun pernah bergabung dengan Gafatar, dia meyakinkan bahwa seluruh anggota kelompoknya sudah tidak menganut ajaran itu.

Saat ini, lanjut Deni, pihaknya sudah mengembangkan sektor pertanian. Meskipun tak selalu mendapat panen melimpah, mereka tidak menyerah dan tetap terus bercocok tanam. Sebab, dari hasil pertanian itulah mereka menghidupi seluruh anggota. ”Makan ya diambil dari hasil pertanian itu. Yang masak juga istri-istri dari kawan-kawan yang sudah diatur waktunya,” ungkap dia.

Tiga Kelompok  
Ketua Tim Investigasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mempawah H Supardi A. Kadir mengungkapkan, berdasar informasi yang dihimpun pihaknya, terdapat tiga kelompok warga yang bermigrasi ke Mempawah. Yakni kelompok dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DI Jogjakarta. Dari tiga kelompok tersebut, sambung Supardi yang juga sekretaris MUI Mempawah, baru satu kelompok dari Jawa Timur yang dikonfirmasi.
Senin lalu (11/1) MUI melakukan pertemuan dengan kelompok yang dikoordinasi Andre dan Supardan selaku investor tersebut. ”Mereka mengaku sudah bertobat dan meninggalkan ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah maupun Gafatar yang dulunya dipimpin Ahmad Musadeq,” ujarnya.Masih menurut Supardi yang juga Ketua BKPRMI Kabupaten Mempawah, pada pertemuan tersebut mereka telah menandatangani surat kesepakatan untuk tidak mengamalkan, apalagi menyebarkan, ajaran sesat Gafatar atau Negara Karunia Semesta Alam (NKSA). Jika melakukan hal itu, mereka akan diberi sanksi tegas.

”Jika ada satu orang saja dari kelompok mereka yang terbukti masih mengamalkan ajaran sesat ini, akan kami usir dari Mempawah. Mereka juga harus kembali ke ajaran Islam yang berlandas pada Alquran dan hadis,” tegas Supardi.Seorang pengikut Gafatar berinisial AR bersedia menceritakan pengalamannya sejak sebelum keberangkatan hingga akhirnya tiba di kawasan perjuangan di Kalimantan. ”Kami sudah siap-siap jauh-jauh hari. Setelah melepas semua tanggungan baru berangkat,” kata AS kepada Jawa Pos.

Menurut AR, pengikut Gafatar yang bereksodus dari Pulau Jawa ke Kalimantan menempati banyak wilayah di seluruh provinsi. Mereka disebar di tempat-tempat yang diprospek untuk menjadi basis kegiatan. Sasaran mereka adalah kawasan pelosok yang belum banyak tersentuh tangan manusia.
Pria yang menjadi salah seorang tokoh utama gerakan dari Jawa Timur itu memastikan bahwa Gafatar sebenarnya telah dibubarkan. Pembubaran tersebut merupakan keputusan kongres yang digelar Agustus 2015 di Jogjakarta.Dalam kongres tahunan itu, salah satu pembahasan utamanya adalah kelanjutan organisasi tersebut. Meski sudah empat tahun berdiri, mereka belum juga mendapat pengesahan dari pemerintah. Karena itulah, kongres memutuskan untuk membubarkan Gafatar.

Sejak itu para pengikut berpencar dan tidak terwadahi lagi dalam organisasi bernama Gafatar. Meski begitu, para alumnus Gafatar masih belum bisa menerima pembubaran tersebut. Mereka kemudian menjalin komunikasi antaranggota dan akhirnya sepakat untuk meneruskan aktivitas meski tidak diwadahi organisasi bernama Gafatar.Dari sana mereka sepakat membentuk komunitas yang dinamai kelompok tani. Untuk mengembangkannya, mereka melokalisasi diri ke wilayah pedalaman. Mereka memilih Kalimantan sebagai tempat persebaran. Sampai akhirnya semua provinsi di Pulau Kalimantan dihuni pentolan eks anggota Gafatar.

Sebagai pendatang baru, mereka tidak memunculkan bendera apa pun. Mereka datang seolah-olah sebagai transmigran yang berniat membuka lahan. Mereka mencari lahan gambut yang tidak dikelola dengan baik. Kepada masyarakat setempat, mereka menyewa tanah tidak produktif tersebut untuk diolah menjadi lahan pertanian.
Di sana mereka membuka lahan pertanian dan mendirikan peternakan. Modalnya berasal dari uang saku yang dibawa dari daerah asal setelah menjual semua harta benda. Para pentolan itu berusaha menyewa lahan seluas-luasnya di satu kawasan tertentu. Lahan tersebut disiapkan untuk eks anggota Gafatar yang akan menyusul ke Kalimantan.
Sebelum berangkat, eks Gafatar dilatih ilmu pertanian. Pelatihan pertanian itu dilakukan sembari para eks Gafatar tersebut menyelesaikan semua urusan sebelum semuanya ditinggalkan. Misalnya menjual rumah dan asetnya. Setelah semuanya terjual, mereka baru bersiap berangkat ke Kalimantan. ”Saya jual rumah. Saya bawa Rp 400 jutaan,” ucapnya.
AR mengaku menempati lahan gambut yang belum diapa-apakan. Dia menempatinya tidak gratis. Tapi menyewa dari penduduk setempat untuk beberapa tahun ke depan sesuai perjanjian. ”Pertama kali, kami bangun rumah petak,” ucapnya.
Rumah yang dibangun sangat sederhana. Rumah petak dipilih karena ditempati banyak orang. Sebab, yang melakukan eksodus ke Kalimantan bukan dia saja. Ada banyak keluarga lainnya. Dia menggambarkan tempat tinggalnya seperti tempat pengungsian yang dilengkapi dapur umum.AR mengatakan, sejak awal Gafatar peduli terhadap bangsa. Saat ini perjuangannya dilakukan dengan cara mengembangkan sektor pangan lewat membuka lahan pertanian dan peternakan. ”Bayangkan kalau negara tempat Indonesia biasanya impor tidak panen. Pasti di sini susah pangan,” ujarnya.

Disinggung tentang paham yang diajarkan di Gafatar, AR menolak menjelaskan secara detail. Hanya, dia mengakui bahwa kepercayaannya menganut kembali pada ajaran Abraham. ”Abraham kan bapaknya para nabi,” ucapnya. Dia kemudian menukil dua ayat Alquran yang dianggap sebagai dalilnya.Menurut AR, ajaran utama gerakan eks Gafatar adalah kembali kepada kehidupan alam semesta. Karena itulah, tidak ada satu kitab suci khusus yang dijadikan pegangan. Dia menyebutkan, kitab sucinya adalah Injil dan Alquran yang kemudian diaplikasikan dengan alam semesta.

Ditanya tentang kenabian, AR terdiam sesaat. ”Saya repot jawabnya. Tergantung yang menjabarkan,” kata dia. Hanya, yang menjadi salah satu paham utamanya adalah rasul akan muncul setiap 700 tahun sekali.Apakah Ahmad Musadeq, eks pemimpin Al Qiyadah Al Islamiyah, rasulnya? AR menanggapi dengan tertawa. Bagi dia, Musadeq adalah pemberi inspirasi yang mengajarkan banyak hal dan diakui sebagai kebenaran.

AR juga membantah isu bahwa eks Gafatar melakukan penculikan untuk merekrut pengikut. Menurut dia, semua pengikut bergabung berdasar kerelaan meskipun mereka sudah memiliki suami maupun istri. ”Kalau memang sudah kemauan sendiri, masak harus ditentang?” ucapnya.Termasuk dokter Rica yang keberadaannya terlacak belum lama ini. Menurut AR, dokter tersebut bergabung atas kemauan sendiri. Termasuk Erri Indra Kautsar, mahasiswa D-3 Elektronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang dinyatakan hilang sejak Agustus 2013. ”Erri masih berkomunikasi sama keluarganya. Mereka tahu kok Erri di mana. Masak itu penculikan?” dalihnya. (wah/jpg)

Berita Terkait