Gadis Ini Bisa Tidur hingga Sepekan, Bagaimana Aktivitasnya?

Gadis Ini Bisa Tidur hingga Sepekan, Bagaimana Aktivitasnya?

  Jumat, 27 Oktober 2017 10:49
Siti Lili Rusita terus mengusap kepala sang anak, Siti Raisa Miranda yang tertidur pulas. Raisa alias Echa bisa tertidur selama berhari-hari. (M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN)

Berita Terkait

Insomnia adalah sebuah gangguan yang biasa dialami seseorang, yakni tidak bisa tidur. Namun kini ada penyakit kontra dari insomnia, yakni susah bangun, sebagaimana yang dialami Siti Raisa Miranda, warga di Jalan Pangeran RT 14 Nomor 3, Banjarmasin, Kalsel.

Penyakit yang dialami gadis yang biasa disapa Echa itu terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Ketika Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) bertandang ke rumahnya, ternyata Echa -sapaannya- masih pulas.

Sang ibu, Siti Lili Rusita, dengan suara parau terus memanggil-manggil nama Echa agar membuka mata. Kepala Echa juga diusap-usap. Namun, buah hatinya yang berada di pembaringan itu tidak bergerak sedikit pun.

Lili bercerita, sejak setahun terakhir, jam biologis Echa berubah ekstrem. Durasi tidur sang anak tidak seperti orang normal lainnya. Bahkan, sejak 10 Oktober lalu, gadis kelas VII SMPN 15 Banjarmasin tersebut lelap dibuai mimpi. Itu adalah rekor. Biasanya Echa tidur paling lama sepekan. "Alhamdulillah, pada 21 Oktober Echa terbangun," tuturnya.

Ketika terjaga, Echa sempat makan dan mandi dengan dibantu sang ibu. Namun, tatapan matanya ketika itu kosong. Dia tidak begitu merespons orang di sekitarnya. Kondisinya juga masih lemah. Untuk makan dan minum, dia dibantu sang ibu dan ayahnya secara bergantian.

Tak ingin terjadi sesuatu, orang tua Echa membawanya ke puskesmas terdekat. Gadis kelahiran 25 Desember 2004 tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Ulin Banjarmasin. "Echa hanya diberi obat dan tak dirawat inap. Sebab, berdasar hasil diagnosis, tak ada yang berbahaya," tambah Lili.

Meski diberi obat, Echa ternyata tetap tertidur lagi ketika sampai di rumah. Anak kedua di antara empat bersaudara itu sempat terjaga lagi pada Selasa malam (24/10).

"Echa tak tidur hingga Rabu pukul 07.00. Dia sempat makan dan minum," terangnya. Saat itu, Echa diajak ngobrol dan ditanya apakah mau sekolah. Namun, ternyata dia uring-uringan dan malah tertidur lagi.

"Pengobatan sudah kami lakukan dengan berbagai cara. Namun, Echa masih seperti ini. Mudah-mudahan dia dikembalikan Allah seperti semula," ujar Lili.

Kelainan yang diidap Echa memang masih misterius. Belum ada pemeriksaan mendalam secara medis. Keluarganya menduga, dia terkena sindrom putri tidur yang membuat seseorang memiliki siklus tidur sangat lama dan terjaga sebentar saja.

Kondisi itu, menurut Lili, terjadi sesudah Echa mengalami tabrakan setahun lalu. Dia sempat menjalani CT scan dan hasilnya normal.

Namun, sebulan sesudahnya, gadis yang pintar mengaji dan suka menyanyi itu mengeluhkan gangguan pendengaran. Ketika itu, Echa dirawat inap sampai sepekan karena tak mau makan dan minum. Bahkan, yang paling parah, Echa tidak bisa memejamkan mata. "Echa pun tak mau diinfus dan ingin pulang. Karena bersikeras, kami pun pulang ke rumah," bebernya. Gejala tertidur lama baru terlihat sekitar Mei lalu. Saat itu Echa tertidur selama 7-8 hari.

Secara terpisah, dr Yanti Fitria, psikiater RSUD Ulin Banjarmasin, mengatakan, gejala yang dialami Echa dalam dunia medis disebut hipersomnia. Penyebabnya bisa beraneka macam. Di antaranya, masalah saraf atau penyakit lain yang menyertai. "Untuk pengobatan, dilihat dulu penyebabnya. Jika karena fisik, pengobatan dilakukan terhadap fisiknya. Begitu pula jika faktor sosial, lingkungannya yang perlu diperbaiki," terangnya kemarin (26/10).

Dia menambahkan, hipersomnia memerlukan perhatian khusus karena waktu tidur yang relatif lama berdampak buruk terhadap fisik si penderita. Terlebih, pasien kekurangan asupan makanan dan minuman. "Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terhadap pasien, sebaiknya perlu penanganan medis yang lebih tepat," tandasnya. 

(mof/ay/ran/c7/ami)

Berita Terkait