Fuad Gandhi Rizal, Dokter Gigi dan Peneliti Difabel Indonesia di Jepang

Fuad Gandhi Rizal, Dokter Gigi dan Peneliti Difabel Indonesia di Jepang

  Rabu, 17 February 2016 08:04

Berita Terkait

Harapan untuk Berpraktik Sempat Hampir Pupus Sebelum akhirnya bisa berpraktik dan menjadi peneliti, Fuad Gandhi Rizal harus melewati sekian penolakan karena kondisi fisiknya. Minta kuota untuk mahasiswa baru difabel di kampus tempat dia dipercaya menyusun kurikulum. Andra Nur Oktaviani, Bandung

SEMBARI tertawa lebar, Fuad Gandhi Rizal langsung menampik kemungkinan menerjemahkan buku karyanya ke dalam bahasa Indonesia. ’’Akan jadi kontroversi. Jadi, mending enggak usah deh, hahaha,’’ tuturnya.Wajar kalau Gandhi berkeyakinan demikian. Sebab, buku bertajuk Clinical Guidebook for Dentist on Wheelchair itu penuh berisi rasa gereget. Kepada orang-orang yang menyepelekan kalangan difabel. Kepada mereka yang meragukan dokter gigi berkursi roda.

Dan, Gandhi yang kini tengah menempuh program doktoral sembari berpraktik dan melakukan penelitian di Jepang tersebut mengalami sendiri semua itu. Diremehkan, dilecehkan, bahkan dipersulit karena kondisi fisiknya.

 

Sebenarnya Gandhi dulu membenci profesi dokter. Maklum, dia punya pengalaman traumatis. Kondisi dua kakinya yang kini tidak berfungsi konon disebabkan malapraktik saat dirinya mendapat vaksin pada usia 1,5 tahun.

 

’’Orang tua sih cerita, katanya kemungkinan vaksin yang waktu itu diberikan adalah vaksin yang sudah expired. Ada anak lain juga yang jadi korban, bahkan ada yang sampai meninggal,’’ ungkap pemuda kelahiran Magelang, 27 Januari 1987, itu kepada Jawa Pos.

 

Sejak itu, Gandhi pun mem-blacklist dokter dari profesi yang akan digelutinya nanti. Dia pun mulai memupuk cita-cita untuk menjadi pengacara yang bisa membela hak para pasien korban malapraktik.

 

Tapi, nasib berkata lain. Gandhi gagal menembus fakultas hukum. Dia malah berakhir dengan diterima sebagai mahasiswa fakultas kedokteran gigi (FKG) di salah satu kampus di Bandung.

 

Padahal, saat mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB), dia sengaja menempatkan fakultas hukum di urutan pertama dan FKG di urutan kedua.

 

’’Sengaja saya taruh di pilihan kedua agar tidak mungkin diterima karena passing grade-nya lebih tinggi. Tahunya malah masuk ke sana, ya antara accident dan karma,’’ tutur sulung tiga bersaudara itu saat ditemui di kediamannya, Desa Padamulya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Selasa (9/1).

 

Hari-hari yang berat harus dilewati Gandhi setelah itu. Sebagai mahasiswa difabel, dia mengaku sulit menjalani kegiatan kehidupan kampus. Bukan soal materi perkuliahan atau praktikum yang mengharuskan dirinya bangkit dari kursi roda. Melainkan penolakan sebagian kalangan di lingkungan perkuliahan. Hanya karena dia berkursi roda.

 

Namun, segala kesulitan itu akhirnya berhasil dilewatinya selama empat tahun berkuliah.

 

Gelar sarjana kedokteran gigi (SKG) diraih. Tapi, tak berarti kesulitan Gandhi selesai. Dia masih harus berusaha mati-matian mendapatkan tempat praktik koas-nya. Satu per satu institusi didatanginya. Namun, tidak satu pun menerimanya untuk praktik. Alasannya sama: fisik Gandhi dinilai tidak akan menunjang profesinya sebagai dokter gigi.

 

Harapan Gandhi untuk bisa menjadi dokter gigi pun hampir pupus. Dia akhirnya mencoba mengalihkan fokus ke bidang lain. Bermodal ijazah sarjana, dia pun ikut bergabung dengan tim riset di Universitas Gadjah Mada (UGM).

 

Selepas lulus pada 2009 hingga 2010, dia aktif melakukan riset tentang bioteknologi di UGM. Kebetulan, Gandhi memang punya ketertarikan di bidang molekuler. Hitung-hitung sebagai pelipur lara, dia pun menikmati hari-harinya sebagai peneliti.

 

Seminar demi seminar menjadi makanan sehari-harinya. Dari kegiatan itu juga, akhirnya Gandhi mendapat peluang mewujudkan cita-citanya menjadi dokter gigi sesungguhnya. Seorang rekan peneliti mengenalkan Gandhi kepada seorang profesor dari Jepang yang bisa membantunya menjadi dokter gigi di Negeri Sakura.

 

’’Profesor itu menyuruh saya untuk coba ujian masuk dulu. Yang dilihat kemampuan dulu, bukan fisik,’’ jelasnya.

 

Berkat usaha dan keinginan kuat untuk jadi dokter gigi, Gandhi akhirnya diterima untuk melanjutkan pendidikan dokter gigi di salah satu universitas di Tokyo. Gandhi pun hijrah ke Negeri Matahari Terbit itu.

 

Di sana, sistem pendidikan dokter gigi sama sekali berbeda dengan Indonesia. Tidak seperti di Indonesia yang ada pendidikan dokter gigi lalu dilanjutkan dengan koas. Di Jepang, pendidikan dokter gigi dan koas sudah otomatis terintegrasi.

 

’’Jadi, saya itu masuk di tengah-tengah perkuliahan. Dan harus mengambil beberapa mata kuliah S-1 lagi di sana,’’ ungkapnya.

 

Kendati tantangannya juga tidak ringan, Gandhi merasa nyaman berkuliah di sana. Di kampusnya yang baru itu, kekurangan fisik tidak jadi penghalang. Menurut dia, ada pula rekan sejawatnya dan senior yang juga berkursi roda.

 

Gandhi butuh waktu 1 tahun 8 bulan untuk bisa lulus dan mengucap sumpah sebagai dokter gigi. Sejak disumpah itu pula, dia membulatkan tekad mengabdi di tanah air sesuai dengan profesinya.

 

Sayang, lagi-lagi kekecewaan harus dialaminya di negeri sendiri. Niatnya mengabdi terhalang birokrasi. Lisensi dokter gigi yang didapatkannya di Jepang tidak berlaku di Indonesia. Kurikulum yang berbeda mengharuskan Gandhi mengurus penyesuaian ini-itu yang ujung-ujungnya tidak menghasilkan apa pun.

 

’’Mereka bilang enggak mungkin mengubah aturan hanya untuk satu orang. Saya pun tidak bisa praktik di sini,’’ jelasnya.

 

Gandhi akhirnya kembali ke Jepang dan berpraktik di sana sambil mengambil spesialis. Bedah mulut dan maksilofasial jadi pilihan Gandhi. Tapi, karir yang sudah bagus tidak membuat hidup Gandhi tenang.

 

Dia tetap merasa harus bisa berkontribusi untuk negeri sendiri. Jika tidak bisa menjadi dokter gigi, mungkin dia bisa berkontribusi melalui profesi lain.

 

Gandhi pun mencoba memanfaatkan network-nya dengan para periset di UGM. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil program master di bidang bioteknologi di UGM. Siapa tahu, melalui bidang itu, dia bisa mengabdi kepada negara.

 

Untuk bisa menyelesaikan dua program kuliahnya di Jepang dan Indonesia, Gandhi harus rela bolak-balik. ’’Ini jadi satu-satunya jalan agar saya bisa berguna untuk Indonesia,’’ ucap pemuda asal Magelang tersebut.

 

Lulus dari UGM, Gandhi kembali ke Jepang untuk merampungkan program spesialis. Setelah keduanya rampung, Gandhi mulai meniti karir di Indonesia sembari aktif berpraktik sebagai dokter gigi di Jepang.

 

Di Indonesia, Gandhi dipercaya menyusun kurikulum untuk jurusan baru di Universitas Aisyiyah (UNISA) Jogjakarta yang sebelumnya bernama Stikes Aisyiyah. Di sana pula dia akan menjadi dosen tidak tetap.

 

Berbekal pengalaman kurang menyenangkan sebagai difabel dan kerja keras yang telah dilakukannya hingga bisa sampai di titik yang sekarang ini, Gandhi sangat ingin membuka peluang bagi teman-teman difabel lainnya. Yakni, agar mereka bisa tetap menuntut ilmu dan menjadi seseorang.

 

Melalui kepercayaan yang diberikan UNISA, Gandhi mengajukan program penerimaan mahasiswa baru untuk para difabel. Rencananya diterapkan mulai tahun akademik 2016. Kuotanya total 20 kursi.

 

Nah, setelah menemukan titik terang mengabdi kepada negara sendiri, Gandhi mencoba melamar beasiswa program doktoral di bidang medical bioengineering ke Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan. Dan, lolos.

 

Kampus di ibu kota Jepang, University of Tokyo, jadi pilihan Gandhi. Alasannya tentu saja agar dia masih bisa melakukan praktik dokter gigi sambil berkuliah.

 

Gandhi mengaku, pemilihan jurusan untuk program doktoralnya memang agak nyeleneh untuk seorang dokter gigi. Tapi, dalam benaknya, bidang itu justru akan bisa memudahkan dirinya untuk melakukan tindakan sebagai dokter gigi.

 

’’Agak jauh memang. Tapi, terkadang untuk bisa meraih sesuatu itu harus dare to be different,’’ tegas pemuda berkacamata tersebut.

 

Selain itu, bidang tersebut merupakan pengembangan jurusan baru yang dirintisnya di Indonesia. Di bidang medical bioengineering itu, Gandhi akan berfokus mempelajari stem cell dan artificial organ.

 

Menurut dia, bidang tersebut cukup populer dan berkembang di luar negeri. Stem cell dan artificial organ sudah marak digunakan sebagai terapi genetis untuk mengantikan organ yang rusak.

 

’’Ini juga bisa dipraktikkan di bidang kedokteran gigi yang kebetulan berhubungan dengan spesialisasi saya. Nanti juga saya berencana mengambil spesialisasi bedah onkologi agar hasil organ dari stem cell itu bisa langsung ditransplantasi ke pasien,’’ jelasnya. (*/c5/ttg)

Berita Terkait