Food Truck Jajal Pontianak

Food Truck Jajal Pontianak

  Sabtu, 26 March 2016 12:15
FOOD TRUCK: Tak perlu terbebani biaya sewa ruko, Decky Septio Pramanda mengubah mobil klasik VW Kombi nya menjadi tempat berjualan kuliner. MIFTAHUL KHAIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Menjalankan usaha Food Truck memiliki resiko yang besar. Seorang pengusaha membutuhkan komitmen besar agar tidak berhenti di tengah jalan. Decky berusaha mengenalkan Food Truck di Pontianak. Miftahul Khair, Pontianak

LAHAN menjadi tantangan terbesar dalam usaha ini. Kalau koordinasinya cepat akan semakin bagus. Jadi akan semakin cepat mulai berjualan. Pengusaha food truck juga tidak perlu merasa terbebani oleh biaya sewa ruko. Jam buka dapat menjadi lebih fleksibel. Tidak ada target untuk melunasi sewa ini dan itu.

Proses promosi yang mudah juga menjadi keuntungan food truck. Seorang pengusaha food truck dapat mengikuti berbagai ajang pameran dan event dengan membawa truck/mobilnya sebagai penarik mata konsumen.

Food truck sendiri adalah konsep berjualan makanan dengan menggunakan sebuah kendaraan sebagai tempat usahanya. Pemesanan makanan dan pelayanannya, semua dilakukan di dalam kendaraan yang telah didesain sedemikian rupa untuk menarik konsumen.

Nyatanya, menjalankan bisnis food truck sendiri sangat menjanjikan. Omzet yang besar dengan biaya produksi yang terbilang kecil adalah sebuah peluang yang sangat mungkin diwujudkan para pengusaha muda.

Decky Septio Pramanda, pemuda asal Pontianak ini pertama memulai usaha "Dfoodtruck Pontianak" miliknya sejak Desember 2015 lalu. Dari awal dia menjalankan usaha ini bersama dua teman karibnya, Asep dan Megol, berbagi tugas di dapur.

Bisnis kuliner dengan food truck pada dasarnya membutuhkan permodalan yang cukup besar. Lantaran proses memasak harus dilakukan di dalam mobil, maka diperlukan modal untuk menyiapkan segala infrastrukturnya, seperti mobilnya sendiri, peralatan masak dapurnya, bahan-bahan untuk mengolah makanan serta jasa dekorasi mobil agar tampak menarik.

Decky menyebutkan, modal awal sekitar Rp 90 juta harus dikeluarkannya. Namun menurut dia, foodtruck yang ia jalankan tidak membutuhkan biaya besar dalam produksi sehari-harinya.

Hal itu sejalan dengan resiko dan tantangan besar yang dihadapi. Ia harus memindahkan parkir food truck-nya dua kali karena terhalang kondisi dan kenyaman tempat. “Sebenarnya asal ada tempat yang enak dan ada tempat untuk parkir motor buat pengunjung,” ujar Decky kepada Pontianak Post.

Tempat ia menjalankan usahanya kali ini, dirasa lebih baik baginya dalam menjalankan usaha itu. Ia kali ini memiliki tempat tetap di Jalan Alianyang, di sebelah Dinas Pertanian Kalbar.

Ia juga mengatakan, resiko tinggi lainnya adalah kemungkinan untuk diusir jika terjadi masalah atau tidak mendapatkan izin. Usaha food truck miliknya tidak bisa asal parkir di sembarang tempat.

Hal itu juga dipengaruhi pemerintah yang belum mengatur tentang usaha food truck. Bagi pemerintah dan instansinya, food truck dianggap seperti kaki lima atau warung lesehan sehingga pembicaraan akan legalitas usaha tidak pernah diindahkan.

Di kemudian hari, ia berencana akan mengajak teman-teman lain yang juga menjalankan usaha berkonsep food truck untuk menghadap ke pemerintah. Mereka sepakat untuk meminta sebuah tempat untuk digunakan bersama. Walaupun usaha itu dirasa sulit karena di Pontianak baru ada tiga usaha seperti dirinya. “Agar nantinya kita semua juga bisa bayar pajak ke pemerintah,” ujarnya optimis.(**)

Berita Terkait