Fokus Perjuangkan Masa Depan Anak

Fokus Perjuangkan Masa Depan Anak

  Selasa, 9 February 2016 09:38
Evi Mellianty , Tokoh Perempuan Tionghoa

Berita Terkait

Aktif di Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kalbar, Dra. Evi Mellianty sering mendampingi anak-anak yang memerlukan perlindungan. Mantan anggota DPRD tingkat 1 Provinsi Kalbar masa orde baru ini pun juga aktif di berbagai kegiatan sosial. Dia ingin setiap yang dilakukannya bermanfaat bagi orang banyak. Oleh : Marsita Riandini

Mengenakan kostum berwarna merah, Evi Meliyanti menyambut kedatangan For Her dengan ramah. Nuansa Imlek hari pertama itu begitu terasa di rumahnya. Para tamu, baik itu kerabat maupun anak-anak dari panti asuhan berdatangan. “Imlek itu selalu dimanfaatkan untuk kumpul, sebab masing-masing anggota keluarga punya aktivitas yang sibuk setiap harinya. Anak-anak sekolah saja kesibukannya banyak, apalagi orang tua yang menjadi tulang punggung keluarga. Momen ini dimanfaatkan untuk memupuk kebersamaan, terutama ketika makan bersama, termasuk pula saling berbagi,” ujar dia.

Saat ini, Evi aktif sebagai komisioner di KPAID Kalbar. Ketertarikannya di KPAID ini lantaran kepeduliannya terhadap anak-anak sebagai masa depan bangsa. “Saya sudah di KPAID ini untuk periode kedua sampai 2016 mendatang. Saya pikir inilah yang bisa saya lakukan untuk anak-anak kita. Kebetulan dengan kesendirian saya saat ini, kasih sayang bisa saya curahkan lebih untuk mereka,” lanjutnya.

Dia menyadari saat ini banyak sekali permasalahan anak. Terutama dengan kemajuan teknologi yang memberikan informasi  luas kepada anak. “Saya pikir ada korelasi antara kemajuan teknologi dengan permasalahan anak yang semakin banyak. Anak bisa dengan mudah mengakses apa saja, meskipun banyak situs yang sudah diblokir. Berita kejahatan seksual juga semakin banyak, terutama anak-anak yang menjadi korbannya,” papar dia.

Harapan dirinya, masyarakat semakin peduli dengan anak-anak mereka. “Minimal jika tidak bisa melakukan lebih kepada orang lain, tetapi lakukanlah kepada diri sendiri, keluarga juga lingkungan terdekat,” katanya. Sebagai seorang wanita, apakah sudah menjalankan perannya sebagai seorang wanita?  Begitu pula seorang ibu apakah sudah menjalankan perannya sebagai seorang ibu? “Sebagai seorang ibu misalnya, tak hanya mendidik anak itu cukup dengan menyekolahkan saja, tetapi juga mengajarkan banyak hal di setiap lini kehidupan, tentang sopan santun. Kalau sudah, maka dia harus berbagi dengan keluarganya, bagaimana menjadi teladan yang baik untuk orang sekitarnya," tutur dia.

Evi mengatakan bahwa sebagai seorang perempuan juga harus memiliki jati diri. Harus tahu siapa dirinya, dan apa yang bisa dilakukan agar bermanfaat bagi orang lain. “Kalau sudah ada jati diri, dia tidak akan terombang ambing,  apalagi terpengaruh dengan kehidupan yang dirasa tidak cocok tetapi dipaksakan. Kita harus tahu maunya begini, harus tahu mulainya dari mana. Harus punya tujuan hidup,” ulasnya.

 

Berbagi Kepedulian

Selain di KPAID, Evi juga aktif di kegiatan sosial. Baginya, dalam hidup itu menjadi orang yang bermanfaat untuk banyak orang adalah sesuatu yang bernilai tinggi. “Saya tergabung dalam Ai Xin WHK, salah satu wadah berbagi kasih dengan kepedulian. Belum banyak yang bisa dilakukan, tetapi mudah-mudahan diikuti juga dengan lainnya. Apalagi dekade terakhir, kepedulian orang Tionghoa semakin tinggi. Dulu masanya orde baru agak begitu eksklusif, tetapi sekarang sudah membuka diri dan bisa berpartisipasi untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,” terangnya.

Dalam kesibukkannya itu, dia memiliki cara tersendiri untuk membagi waktu. “Boleh dikatakan hampir setiap waktu saya tersita untuk berbagai kegiatan. Berharap itu menjadi energi positif,” katanya. Cara membaginya, lanjut dia dengan menentukan skala prioritas. “Paling penting saya harus memenuhi kebutuhan sendiri. Kebutuhan itu khan relatif. Setelah kebutuhan saya terpenuhi, baru saya memikirkan dan melakukan kagiatan lainnya. Tetapi untuk saat ini saya memang fokus pada masa depan anak-anak, khususnya anak Kalbar,” terang dia.

Sepulang dari kantor, dia menyempatkan diri membaca berita online. Kemudian istirahat melepas penat. “Paginya itu saya sempatkan untuk berolahraga. Bagi saya, olahraga itu penting agar bersemangat melakukan aktivitas. Dulu saya suka jalan pagi, tetapi sekarang karena waktunya terbatas, saya gunakan treadmill dan sepeda statis. Kalau kondisi sehat pikiran pun menjadi jernih. Saya juga hobi turun ke kampung-kampung melihat suasana kampung serta melihat orang bercocok tanam,” pungkasnya. **

Berita Terkait