Figur Walikota Pontianak 2018 yang Didambakan Warga

Figur Walikota Pontianak 2018 yang Didambakan Warga

  Kamis, 7 December 2017 09:46   72

Oleh: Dr. H. Ngusmanto. M. Si Dan Bima Sujendra, S.IP, M.Si

PEMILIHAN kepala daerah serentak di 111 daerah di Indonesia tahun 2017 telah usai dilaksanakan. Kalbar sendiri telah dilaksanakan di kabupaten Landak dan kota Singkawang. Si pemenang juga sudah diketahui. Ada yang tidak puas, ada yang senang dan ada yang kecewa. Pilkada serempak berikutnya akan berlangsung kembali pada tahun 2018.  Untuk Kalbar sendiri akan ada pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur bersamaan waktunya dengan Pilkada di lima kabupaten-kota yakni Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, Kabupaten Mempawah  dan Kota Pontianak. Malahan KPUD kota Pontianak sendiri telah mendapat dukungan yang optimal dari pemerintah kota dalam wujud dukungan dana, sehingga ia telah menerima dana sebesar Rp 16 miliar untuk melakukan berbagai persiapan. Sebenarnya, proses dan tahapan Pilwako Pontianak baru akan dimulai pada bulan Juli – Agustus tahun 2017, tetapi di media massa dan media sosial telah bermunculan kandidat yang siap untuk maju dan telah memulai penggalangan dukungan. Hasil investigasi satu pekan terakhir dengan keliling kota, mengakses internet dan minum kopi di beberapa lokasi diperoleh informasi bahwa ada beberapa figur yang mulai menyiapkan diri untuk maju dalam Pilwako. Figur tersebut antara lain Syarif Usmulyani, Satarudin, Edi Rusdi Kamtono, Herman Hofi Munawar dan yang lain masih malu-malu. Pertanyaan yang akan menjadi bahan diskusi dan renungan kali ini difokuskan pada: Figur Walikota Pontianak seperti apa sih yang menjadi dambakan warga ? Jawaban atas pertanyaan ini beragam dan salah satunya yang sangat penting berkaitan dengan rekam jejak (track record) si kandidat.

Lanjutkan dan Tingkatkan

Banyak pihak yang menilai bahwa H. Sutarmidji walikota Pontianak dua periode merupakan walikota berprestasi dibandingkan periode sebelumnya dan jika mau, prestasi ini dapat menjadi modal atau investasi yang memiliki daya tarik tersendiri, untuk memenangkan kursi Kalbar Satu (Gubernur). Apa yang bisa dijadikan indikator dan perhatian publik Kalbar ? Banyak sekali prestasi. Pembangunan infrastruktur bagus, kesehatan dan pendidikan juga okey, pelayanan publik mantap, bisnis maju, terbangunnya Smart City, Good and Clean Government dengan indikasi utama dari laporan keuangan yang selalu mendapat predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) serta mendapat berbagai penghargaan di tingkat nasional. Prestasi dan capaian ini sangat penting bagi kandidat walikota 2018. Pertanyaan yang diajukan adalah: Ada pembelajaran apa yang dapat diambil oleh kandidat walikota 2018 ? Pembelajarannya adalah kandidat walikota 2018 wajib mengacu atau berangkat dari kondisi eksisting yang telah dicapai kota  Pontianak. Untuk itu, program kandidat yang baik harus memasukkan kata-kata “siap” melanjutkan dan meningkatkan apa yang sudah ada.  Oleh karena itu,  figur Walikota Pontianak 2018 yang didambakan oleh warga adalah figur yang dapat mempertahankan prestasi, melanjutkan dan meningkatkan apa saja yang sudah dicapai walikota sekarang. Realitas ini menjadi tantangan tersendiri bagi  Syarif Usmulyani, Satarudin, Edi Rusdi Kamtono, Herman Hofi Munawar dan kandidat lainnya yang akan maju. Penyataan ini tidak dimaksudkan membatasi inovasi dan kreativitas walikota 2018 terpilih. Yang penting, ia harus lebih maju dan hebat dari apa yang telah dilakukan oleh walikota sekarang. 

Figur Yang Didambakan

Selain melanjutkan dan meningkatkan prestasi kota Pontianak seperti yang telah dijelaskan sebagai dasar pijakan maka figur yang didambakan warga berikutnya adalah figur yang memiliki rekam jejak yang hebat (bagus perilakunya, banyak pengalaman, dekat dengan dan dikenal publik, serta menjadi tokoh panutan dan kriteria lainnya). Pendukung Syarif Usmulyani sebagai representasi  kraton-kadriyah-pontianak, Satarudin ketua DPRD, Edi Rusdi Kamtono wakil walikota Pontianak dan Herman Hofi Munawar ketua komisi D DPRD kota Pontianak akan berpandangan bahwa figurnya  memiliki rekam jejak yang hebat dan siap memimpin kota Pontianak. Pendukung juga akan bilang, figurnya sangat dikenal oleh banyak warga kota. Mereka berempat juga duduk sebagai pejabat politik dan publik, sehingga jika kelak mereka menjadi kandidat walikota 2018 dan terpilih maka figur tersebut sudah mempunyai modal popularitas dan ketokohan untuk menumbuhkan dukungan dan kepercayaan warga. Besar kemungkinan juga bahwa kandidat (Satarudin dan Herman Hofi Munawar) ini akan lebih mudah mencari perahu partai politik karena ia dari parpol, sedangkan khusus Edi Rusdi Kamtono (Petahana dan atau incumbern) biasanya juga tidak sulit mencari perahu. Pengalaman selama ini, incumbern tidak sulit mencari perahu. Dalam istilah petinju, 3 (tiga) figur yang berasal dari parpol dan incumbern ini sudah masuk kategori kelas berat atau tidak mudah dikalahkan secara teoritis. Pertanyaannya: Siapa yang siap bersaing dengan figur ini, silahkan maju 2018. Hasil investigasi sepekan terakhir, ternyata ada salah satu figur yang tidak kalah bebat, siap bersaing dan berpelung besar menjadi walikota 2018. Figurnya adalah Syarif Usmulyani. 

Ada beberapa catatan menarik dari figur Syarif Usmulyani dan mengapa ia diprediksi memiliki peluang besar menjadi walikota Pontianak 2018 atau memiliki kemampuan bersaing dengan Satarudin,  Edi Rusdi Kamtono dan Herman Hofi Munawar. Pertama, ia sebagai representasi  kraton-kadriyah-pontianak. Pengalaman selama ini, kandidat dari kraton baru mencoba sebagai calon wakil walikota dan belum ada yang berhasil, sedangkan ia langsung akan maju sebagai calon walikota. Realitas ini boleh dibilang sebagai fenomena kebangkitan kraton dan sekaligus angin segar karena selama ini kraton lebih berperan sebagai pendukung. Pertanyaan kritisnya adalah sanggupkah figur ini mengayomi semua etnis, adat, budaya dan menyatukan serta memelihara dan menjaga kebhinekaan, keamanan, kenyamaan dan kesejahteraan yang telah ditunjukkan oleh kraton-kadriyah-pontianak. Situasi yang terayomi demikian tentu sangat dirindukan oleh warga. Kedua, ia ternyata orang penting di Bandara Supadio (masuk jajaran top manajemen), banyak pengalaman dan berwawasan global sebagai modal melanjutkan dan meningkatkan kota Pontianak yang lebih maju dan berkembang, sebagai kota perdagangan bertaraf internasional. Ketiga, ia akan maju melalui jalur independen (sebagai jalur dan pilihar cerdas) dan tidak menutup kemungkinan berkoalisi dan berkolaborasi dengan parpol yang ada. 

Beberapa modal yang dimiliki Syarif Usmulyani dimaksud oleh pendukungnya dipandang dapat bersaing dan bahkan dapat mengalahkan figur lain, sehingga ia bisa terpilih menjadi walikota 2018. Sumber-sumber terpercaya yang ditelusuri memberikan  informasi bahwa ia (Syarif Usmulyani) telah mendapat dukungan riil melalui pengumpulan foto copy KTP sebanyak 50 ribu warga, telah lebih dari 100 kali bertemu dengan tokoh dan kelompok-kelompok masyarakat berpengaruh di kota Pontianak, pengenalan melalui baliho dan media sosial. Temuan yang sangat menarik dari hasil investigasi adalah Syarif Usmulyani ternyata telah menjadi obrolan warga kota di beberapa warung kopi, ia sudah masuk figur yang populer namanya,  beberapa informan warga dan banyak tokoh masyarakat telah mengetahui, ia akan maju mencalonkan diri sebagai walikota 2018. Informan yang menjadi tim sukses dari figur ini juga menjelaskan bahwa mereka berjuang melalui cara door to door, yang dianggap murah biayanya dan mendapat dukungan yang lebih pasti atau secara riil.

Pesan moral bagi figur yang akan maju memperebutkan kursi walikota 2018 dan tim sukses jangan hanya siap untuk menang, melainkan harus siap juga untuk kalah. Jangan malu untuk mengucapkan selamat kepada si pemenang 2018 dan beri dukungan serta kesempatan kepada si pemenang, terus bergandeng tangan kembali dengan sesama warga kota yang dulunya berbeda pilihan pasca Pilwako. Kota Pontianak harus  tetap nyaman dan kondosif, sehingga aktivitas warga dalam bidang apapun berjalan lancar. Si pemenang jangan berubah dan cenderung menjadi petugas partai, sehingga ia lebih banyak berjuang untuk partai dan pendukungnya. Semua warga adalah anaknya (yang mendukung atau tidak dalam proses Pilwako) serta mendapat perhatian dan perlakuan yang proporsional. Jika hal ini dapat diwujudkan maka kota Pontianak tercinta akan menjadi jauh lebih hebat, bukan hanya menjadi barometer dan contoh bagi kabupaten dan kota se Kalbar, melainkan bisa se kalimantan dan bahkan Indonesia. Berpolitik secara santun atau beretika. Selamat berjuang untuk para kandidat dan harus diingat bahwa warga kota Pontianak adalah warga yang cendas dan atau telah masuk kategori menjadi pemilih cerdas. Untuk mendapat dukungan dan kepercayaan warga, jadilah pemimpin yang amanah serta menjaga dan memelihara kepercayaan. Semoga tulisan ini menjadi pembelajaran bagi kita semua. Aamiin. 

*Penulis: Dosen  FISIP  UNTAN