Figur Pemuda, Pahlawan di Era Generasi Millennial

Figur Pemuda, Pahlawan di Era Generasi Millennial

  Kamis, 9 November 2017 09:55   81

Oleh: WIDIA PERMATA SARI

FIGUR menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sama dengan tokoh. Figur bagi sebagian orang yakni dia yang sulit didekati dan ilmunya bisa diambil. Padahal tidak demikian, tanggal 28 Oktober kemarin negara Indonesia baru saja merayakan Hari Sumpah Pemudanya. Hari itu menjadi hari penting bagi rakyat untuk mengenang kembali sumpah pemuda yang pernah diserukan oleh pemuda negeri tentang kesatuan penggunaan identitas, bahasa, dan bangsa sebagai komunikasi nasional negara Indonesia. 

Sosok pemuda dibalik pernyataan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berasal dari golongan muda. Yaitu Mohammad Yamin, Joko Marsaid, Amir Sjarifudin, Soegondo Djojopuspito, Johan Mohammad Cai, R. Katjasoengkana, R.C.I. Sendoek, Johannes Leimena, Mohammad Rochjani Su’ud, dan sebagainya yang namanya tidak terbilang dihadiri oleh 700 peserta pada waktu itu.

Itulah figur mereka, tidak sembarang mengucapkan sumpah. Butuh pengorbanan yang amat sangat untuk mengucapnya agar persatuan dapat tercipta. Mereka bisa dikatakan pejuang zaman dahulu yang tidak kalah sama Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro yang merupakan pahlawan Indonesia. Mereka sama-sama memperjuangkan kemerdekaan dan kesatuan bangsa di bumi pertiwi ini. Tidak heran sosok mereka dikenang dan selalu menjadi inspirator bagi rakyat dan generasi penerusnya. Berbeda dengan figur pada zaman sekarang yang telah mendapat julukan sebagai publik figur seperti selebriti dan artis papan atas.

Di bulan depannya, lagi-lagi rakyat Indonesia kembali mengenang Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November sekarang ini. Peringatan ini juga tidak jauh-jauh dari figur pemuda, mengenai sosok pemuda, pada Surah Al-Kahfi Allah menceritakan perjalanan pemuda ashabul kahfi menghindari dari siksaan raja yang zalim. Mereka dikejar, lalu dicari keberadannya untuk menuruti apa yang diperintahkan oleh raja untuk masuk ke dalam keyakinan dia. Kalau tidak mau mengikuti keinginan raja tersebut mereka akan dibunuh. Akhirnya ashabul kahfi pun mencari perlindungan sehingga ditemukannyalah sebuah gua kemudian masuk ke dalam sana sampai tertidur hingga beratus-ratus tahun.   

Sebagaimana Allah berfirman, “Maka kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama beberapa tahun”(Al-Kahf 11). Betapa berat perjuangan mereka sampai mengorbankan saudara kerabatnya supaya tetap teguh di jalan Allah. Kisah ini juga mengingatkan umat kepada awal baru lahirnya era reformasi. Hari ketika pemuda bangkit dari keterpurukannya melihat negaranya dikuasai oleh pemimpin yang dianggap telah terlalu lama berada dikursi tahta presiden. Tidak berhenti sampai disitu, pemuda yang tergolong mahasiswa ini rela mempertaruhkan dirinya demi keadaan Indonesia yang lebih baik. Ada beberapa dari mereka yang tewas terenggang nyawa. 

Oleh karenanya, revolusi mental perlu digalakkan untuk pemuda zaman sekarang atau yang biasa mereka sebut kids zaman now biar lebih semangat dalam bertahan memperjuangkan nilai-nilai bangsa seperti membaca dan menulis. Melahirkan generasi baru, wujud kecintaan hamba pada tuhannya. Menghadirkan anak-anak muda, bentuk kasih-sayang pemerintah sama rakyat yang dipimpin. Sayang, masih ada rasa tabu di antara para pemimpin tanah air untuk mendatangkan sosok penting dari luar maupun dalam negeri ke bangsa ini dengan harapan bisa memberi kontribusi dan pelajaran hidupnya kepada anak-anak muda di Indonesia. 

Banyak kegiatan yang bisa diselenggarakan di bumi pertiwi tercinta yaitu mungkin dengan bedah buku atau pelatihan-pelatihan kepenulisan yang dapat menampilkan sosok sang penulis. Bisa juga menghadirkan tokoh politik, akademisi, komedian cerdas kayak Cak Lontong. Walau tidak begitu banyak yang mengenal ketokohannya, dia cukup dikagumi dan menjadi pahlawan di era generasi millennial ini, misalnya Tere liye, Asma Nadia, Habiburrahman El-Razy, Kang Maman (Notulen ILK Trans7), Najwa Shihab (sekaligus Duta Baca Indonesia), dan masih banyak lagi figur-figur lainnya.

Dari kisah ashabul kahfi (sekelompok 9 pemuda) tersebut, penulis mengajak semua, marilah kita sebagai rakyat Indonesia menjaga identitas bangsa kita. Dengan melestarikan budaya, bahasa, dan mempererat tali persatuan kita. Selama ini kita sudah menjauhi jati diri negeri kita. Tanpa sadar kita sudah mengoyak peradaban tanah air kita, yang hampir terkikis oleh budaya asing, bahkan cenderung ke arah sekularisasi. Gara-gara budaya tersebut yang masuk ke Nusantara yang berusaha merusak ingatan rakyat, terutama pemuda dalam mengingat pahlawan-pahlawan zaman dahulu atau tokoh yang bisa mempengaruhi daya fikir, wawasan, serta motivasi dan inovasi mereka agar bisa seperti figur yang mereka sukai. **

*) Penulis: Mahasiswa Manajemen Dakwah IAIN Pontianak