Fight Againts The Sperm Whale

Fight Againts The Sperm Whale

  Kamis, 10 December 2015 09:34
Gambar dari Internet

Berita Terkait

Siapa yang tahu tentang paus sperma? Anybody knows? FYI buat yang belom tahu, paus sperma atau paus kepala kotak merupakan hewan bergigi terbesar di dunia, bisa dikatakan kalo paus sperma adalah paus raksasa. Sobat X pasti bertanya-tanya kok movie freak malah ngebahas tentang ikan paus? Tenang guys, si paus sperma ini berhungan dengan film “In The Heart of The Sea” yang bakal tim X bahas bareng Gusti Rahman Adhiarza. Doi ngaku  film ini keren banget. Pengen tahu lebih jauh? Pantengin terus ya guys! By: Indry Agnesty

Film “In The Heart Of The Sea” bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada tahun 1820. Saat itu ada sebuah kejadian yang dihadapi para kru sebuah kapal. Kapal tersebut diawaki oleh kapten bernama George Pollard Jr (Benjamin Walker), Owen Chase (Chris Hemsworth), Matthew Joy (Cillian Murphy) dan seorang awak kabin bernama Thomas Nickerson (Tom Holland). Mereka harus menghadapi ikan paus sperma di perairan Essex, Inggris.
Para kru kapal harus menghadapi serangan ikan Paus raksasa yang ingin menghancurkan kapal mereka. Beberapa kru bernasib nahas dimakan oleh ikan paus yang ganas tersebut. Yang masih selamat harus bisa bertahan dan menghadapi serangan paus sampai ke perairan Amerika Selatan. Berbagai cara dan upaya dilakukan agar mereka bisa kembali pada keluarga mereka. Apakah mereka berhasil melarikan diri dari ikan paus raksasa itu? Ataukah justru mereka semua menjadi mangsa ikan paus?
Sinopsis filmnya aja udah keren banget kan guys? Gusti Rahman Adhiarza juga sependapat sama tim X, apalagi cowok yang kuliah di Teknik Arsitektur Untan ini mengaku udah nonton “In The Heart of The Sea”. “Seru banget! Banyak menampilkan aksi di atas kapal. Jadi tahu kalo gerakin kapal itu nggak mudah dan butuh kerja sama yang baik. Apalagi ceritanya mereka berburu paus,” cuap cowok yang akrab disapa Gusti ini.
Baginya film ini memiliki alur cerita yang ringan. “Cuma kayak terasa ada loncatan aja dari bagian awal ke tengah. Tapi oke-oke aja sih, karena jalan ceritanya juga mudah dimengerti,” papar Gusti. Dibintangi oleh aktor dan aktris papan atas Hollywood membuat film ini jadi bertambah nilai plusnya. “Tokoh-tokoh yang meranin oke banget, dapet semua perannya. Aktingnya baik, cuma bagian awal kebanyakan nyorot ke muka pemainnya,” ungkap Gusti.
Efek visual dalam film ini juga diapresiasi banget sama Gusti. “Cuma bisa bilang ‘menakjubkan’ buat efek visualnya. Terasa banget deh berhadapan dengan paus sepanjang 30 meter,” jelasnya. Film yang mengambil latar belakang tahun 1820 ini all out banget dalam hal riasan make up dan wardrobe para tokohnya. “Penggunaan make up dan wardrobe para pemain yang kental banget dengan style ala abad 19 bikin kita ngerasa kayak lagi berada di masa itu,” tutur cowok 19 tahun ini.
“Overall is good. Walaupun menurutku ada beberapa scene yang agak ngebosanin tapi hal itu masih bisa diterima. Moral value dari film ini juga bagus,” tutup Gusti. Tak ada gading yang tak retak, tak ada film yang tak cacat. Mungkin peribahasa ini cocok buat gambarin konklusi dari film ini, karena nggak ada film yang sempurna sama kayak nggak ada manusia yang sempurna. Bukankah kesempurnaan itu relatif? #eaaaaa. Film ini bisa jadi pertimbangan buat kamu tonton bareng teman, keluarga atau pacar saat weekend. Selamat menonton!**

 

Berita Terkait