Faskes Urus Izin Pengolaan Limbah B3

Faskes Urus Izin Pengolaan Limbah B3

  Kamis, 22 March 2018 11:00
WORKSHOP: Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie saat berbicara di Workshop pengelolaan limbah B3 yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Singkawang. ISTIMEWA

Berita Terkait

SINGKAWANG-Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie meminta seluruh fasilitas kesehatan di Kota Singkawang segera mengurus perizinan pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Pernyataan tersebut disampaikanya pada workshop pengelolaan limbah B3 yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Singkawang. “Saya harap mereka semua baik rumah sakit, puskesmas, klinik dan balai pengobaan di Kota Singkawang untuk patuh dan taat terhadap setiap limbah medis yang dihasilkan,” ujarnya Rabu (21/3) kemarin.

Menurutnya limbah medis yang dihasilkan jika dibuang sembarangan tentunya dapat membahayakan kesehatan masyarakat karena terpapar oleh virus yang mungkin dibawa oleh limbah peralatan medis.

Ada banyak keuntungan yang bisa didapat ketika faskes telah mengurus perizinan pengolahan limbah B3, satu diantaranya adalah berpengaruh terhadap proses nilai akreditasi pada visitasi rumah sakit maupun puskesmas.

“Taraf rumah sakit tentunya akan naik sehingga tentunya kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit dan puskesmas tersebut juga akan naik,” ujarnya.

Saat ini baru RSUD Abdul Azis yang telah memiliki ijin pengolahan limbah medis B3 dari Kementerian Lingkungan Hidup, sementara beberapa rumah sakit lainya seperti RS Harapan Bersama dan RS Tingkat Empat yang sedang dalam proses.

Sementara itu,  Kementerian Lingkungan Hidup RI melansir dari total rumah sakit se indonesia yang berjumlah 2701 unit, baru 92 Rumah Rumah Sakit di antaranya telah mengantongi izin pengolahan limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Menurut Kepala Seksi Pengolahan Limbah B3 Direktorat Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Sortawati Siregar, M.Si mengatakan faskes yang belum memiliki ijin pengolahan limbah medis B3 memberlakukan limbah medisnya dengan bekerjasama dengan pihak ketiga, membuang sembarangan dan membakar tanpa ijin.

“Lewat dari 24 jam limbah medis yang dibuang akan menjadi patogenesis dan mencemarkan lingkungan,” ujarnya   saat menjadi narasumber workshop Pengolahan Limbah B3 ini.

Bahkan terdapat beberapa kasus yang terjadi lantaran limbah medis di buang sembarangan, beberapa diantaranya diambil oleh anak-anak untuk dijadikan terompet.

“Bayangkan jika seperti itu, virus yang menyebar tersebut langsung masuk kedalam tubuh,” ujarnya.

Dirinya mengharapkan bagi rumah sakit yang telah memiliki incinerator untuk segera mengurus ijin pengolahan limbah medis B3 nya.

“Kabarnya sudah ada rumah sakit yang punya incinerator tapi belum punya ijin. Nanti akan saya lihat dan verifikasi dokumennya mana saja yang mungkin masih kurang,” ujarnya.

Menurutnya ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa bahwa mengurus ijin pengolahan limbah medis B3 susah. Hal tersebut memang terjadi jaman dulu, namun saat ini proses pengurusanya sudah mudah dan tak makan waktu lama.

“Nanti bisa dibuktikan, dua sampai tiga bulan ijin sudah bisa dikeluarkan,” pungkasnya. (har) 

Berita Terkait