Fashion Is My Passion

Fashion Is My Passion

  Senin, 16 April 2018 11:00

Berita Terkait

DUNIA mode Indonesia kini semakin berwarna dengan hadirnya para desainer muda yang memiliki ciri khas tersendiri pada koleksi busananya. Begitu juga di Kalimantan Barat. Hadirnya para desainer muda Kalbar ini tentu beri angin segar bahwa dunia fashion bisa dijajaki sedini mungkin. Mereka hadir dengan karya yang unik dan kreatif.

Ethnic & Edgy

Ketertarikan Abdul Hadi akan dunia fashion sudah tumbuh saat usianya 15 tahun. Saat itu, cowok asal Putussibau ini kerap mengamati busana-busana unik yang digunakan para artis di televisi. Seni yang telah mendarah daging membuat Hadi mulai memberanikan diri berkreasi dengan bahan seadanya, tanpa teknik dan pola.

Duduk di bangku SMA, Hadi mulai mengembangkan minatnya. Nggak hanya berlatih membuat pola, Hadi juga terjun langsung belajar teknik jahit lewat internet dan buku-buku panduan. Bersyukur, ia mendapatkan dukungan besar dari orang tua hingga dihadiahi mesin jahit ketika mendapat juara kelas.

Ketika memulai karirnya, Hadi bertemu salah satu desainer, Jainur Santoso, dan sempat dimentori. Saat hijrah ke Pontianak tahun 2015, Hadi mulai memberanikan diri menunjukkan hasil karyanya. Cowok 21 tahun ini semakin mengasah skill-nya dengan mengikuti ajang Pontianak Fashion Design Competition yang diadakan IFC Chapter Pontianak. Ia pun meraih juara 2. Prestasi ini semakin memotivasinya, Hadi semakin serius dan produktif menghasilkan karya.

“Kini, sudah lebih dari 10 mini collection atau mini series yang saya hasilkan dengan style yang lebih ke arah Korean, Harajuku, dan Japanese,” ungkapnya.

Mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Untan ini dikenal dengan mode fashion casual yang unik dan edgy. Selain itu, busananya juga dikenal androgyny, sporty dan unisex. Namun, tetap dikemas dengan sentuhan wastra Indoneaia (kain-kain ethnic). Karena Hadi termasuk generasi muda yang cinta akan motif-motif etnik yang ada di Indonesia. (ghe)

Busana Muslim dengan Kain Corak

Sebelum mengenyam pendidikan di SMKN 5 Pontianak, khususnya jurusan tata busana. Dwi Lasmi Lestari sudah aktif membuat baju untuk boneka Barbie-nya. Berawal dari situ, Dwi bercita-cita menjadi seorang desainer.

Demi menghasilkan mode fashion yang mumpuni, gadis berhijab ini nggak hanya rajin berlatih. Dwi juga aktif dalam ajang perlombaan, seperti Lomba Instruktur Kursus Busana Kerja Tingat Kota Pontianak Tahun 2015 dan Lomba Kompetensi Peserta Didik Menjahit Baju Kebaya Pengantin Tingkat Provinsi Kalbar Tahun 2015. Dwi pun meraih juara.

Akhir tahun lalu, dare kelahiran Pontianak ini juga berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Pontianak Fashion Design Competition 2017. Dunia fashion berhasil membuatnya mendapatkan banyak pelajaran dan teman baru.

Di antara banyaknya kiblat fashion, Dwi memilih fashion muslim yang cenderung simple. Mode simple yang ditawarkan Dwi juga cukup unik, ia mengaplikasikan fashion muslimnya dengan kain corak. Baik corak insang, sambas, dan batik. 

“Biasanya aku juga mengaplikasikannya dengan kain kotak-kotak atau motif abstrak lainnya,” ujar Dwi. Baginya, terjun sebagai seorang fashion designer bukan sekadar impian. Nggak perlu harus sekolah mode untuk bisa mendapatkan ilmu di dunia fashion. Asalkan memiliki skill, seseorang bisa terjun dan menghasilkan ragam mode fashion andalannya. (bibiana)

Berita Terkait