Fashion, Lukisan, dan Yan Khurin; Hobi yang Tembus Pasar Kanada

Fashion, Lukisan, dan Yan Khurin; Hobi yang Tembus Pasar Kanada

  Sabtu, 21 May 2016 08:53

Berita Terkait

Eksklusivitas dalam fashion ditangkap Hariyani Wisnu sebagai ladang bisnis. Lewat goresan kuas dan cat air, beragam item yang mempercantik penampilan dihasilkan olehnya.

TUMPUKAN dompet, tas, dan kain memenuhi sebagian ruang workshop sekaligus showroom Yan Khurin di Desa Gelam, Candi, kemarin (18/5). Sebagian produk tersebut dihiasi dengan lukisan yang cantik. Namun, ada pula yang belum sempurna.

Hariyani Wisnu, pemilik Yan Khurin, mengambil salah satu dompet hijau tosca yang masih dihiasi bunga mawar dengan warna dasar putih. Perempuan 36 tahun itu lantas mengambil kuas dan mencelupkannya ke dalam cat air yang sudah diramu sedemikian rupa.

Dia memasukkan unsur biru keunguan, kemudian menambahkan war na sedikit merah muda ke bagian kelopak bunga. ”Kalau seperti ini, tinggal main warna. Bentuk dasar lukisannya sudah jadi,” kata Yani sambil mem prak tikkan cara melukis di atas dompet.

Melukis adalah hobi yang membawa berkah bagi Yani. Dia bisa menyalurkan perasaan nya dengan melukis sekaligus menghasilkan uang dari kegiatan tersebut. Yani adalah penggiat produksi fashion lukis. Bentuknya beragam, mulai tas, dompet, hingga kain. Usaha yang ditekuninya sejak 2007 itu semakin membawa namanya melambung di jagat produsen fashion. Bahkan, tahun ini dia berhasil memasarkan produknya hingga ke Kanada.

Kesuksesan yang kini dirasakan tentu melalui proses yang panjang. Terlebih Yani tidak memiliki latar pendidikan di dunia fashion sama sekali. Namun, sejak kecil, ibu tiga anak itu dibiasakan mengenakan pakaian hasil desain ibunya yang kebetulan seorang penjahit. ”Dari kecil, saya jarang beli pakaian. Ibu saya bikinkan baju sendiri,” katanya. Pada 2006, Yani mulai menekuni hobi di dunia fashion. Dia membuat desain baju yang unik. Awalnya, dia masih membuat baju dengan memadukan hiasan bordir dan sulam pita atau benang. Kemudian, merambah pada lukisan di atas kain. Saat itu, dia hanya mengerjakan kepada perajin yang bisa melukis. Namun, lambat laun, dia bertekad harus bisa melukis sendiri.

Yani pun memutuskan untuk ikut pelatihan melukis di atas kain dari klinik UMKM Provinsi Jatim pada 2007. Pelatihan yang dijalani tidak lebih dari setengah hari itu akhirnya membuat Yani jatuh cinta pada lukisan. Karya pertama yang dibuatnya adalah kerudung dan baju yang dilukis. Lambat laun, berkembang pada tas dan dompet. Motifnya pun kian beragam. Mulai bunga-bunga, hewan, hingga aktivitas manusia seperti membatik dan menenun. Bahkan, belakangan ini lukisan yang paling banyak dicari pelanggan adalah gambar sang pemilik tas. Seolah tas yang ditenteng adalah cerminan diri mereka. ”Mereka merasa lebih percaya diri karena memiliki tas yang eksklusif. Tidak dimiliki orang lain,” ujarnya.

Cara penjualannya lebih banyak getok tular (dari mulut ke mulut). Biasanya, dia membuat karya sendiri dan dipakainya ke suatu acara. Kemudian, banyak orang yang tertarik. Kini pesanan lebih banyak didapat dari kalangan pejabat. Pema sa rannya sudah sampai ke penjuru wilayah Indonesia. Bahkan, tahun ini dia mendap atkan permintaan produk tas untuk dipasarkan ke Kanada. ”Jumlahnya tidak banyak, masih 100 pieces,” kata istri Adik Wisnu itu.

Warga Binaan Sukses

SUKSES di dunia bisnis tas dan kain lukis tidak membuat Hariyani lantas puas. Dia ingin menularkan ilmunya di bidang lukis kain kepada masyarakat yang memang ingin belajar. Tentu, jika peserta binaan tersebut berkembang dan maju, Yani senang.

Keinginan tersebut akhirnya bisa terwujud setelah Yani ditunjuk Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jatim sebagai instruktur lukis kain pada 2010. Hampir setiap bulan dia memenuhi undangan untuk memberikan pelatihan kepada warga binaan. Hingga kini, dia sudah mendatangi seluruh kabupaten/kota di Jatim. ”Ada teman instruktur lain juga. Tetapi, saya senang menjadi bagian dari instruktur pelatihan,” katanya. Yani mengaku sangat senang ketika dilibatkan sebagai instruktur pelatihan lukis kain oleh pemprov. Ilmu yang dimiliki saat ini bisa disalurkan kepada masyarakat luas.

Tujuannya, warga yang belum memiliki pekerjaan bisa membentuk wirausaha baru. ”Biasanya, kalau ada undangan, saya selalu usahakan bisa datang,” ujarnya. Dalam memberikan pelatihan lukis kain, selalu ada kelanjutannya. Yani tidak hanya mengajarkan cara melukis kain, tetapi juga cara mengatur manajemen dan pemasaran produknya. Bahkan, dia menerima secara terbuka jika ada peserta pelatihan yang berkonsultasi secara pribadi, baik datang ke rumah maupun melalui handphone. ”Kadang kan mereka bingung cara menjualnya. Ada juga yang bingung mencari cat air yang bagus. Sampai sekarang masih banyak yang berkonsultasi,” katanya.

Bagi Yani, bisnis yang ditekuni hingga saat ini adalah penyaluran hobi. Karena itu, dia tidak terlalu memprioritaskan keuntungan. Justru yang sekarang membuatnya bahagia adalah melihat peserta binaan bisa sukses. ”Saya tidak merasa tersaingi. Semakin banyak yang saya beri pelatihan, harapannya bisa berhasil. Saya bangga jika mereka sukses,” tambahnya. Yani menuturkan ingin memiliki showroom untuk produk fashion dengan sentuhan lukisan tangan. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mengenal produk buatannya. (ayu/c10/tia)

 

Berita Terkait