Faktur Pembelian Jadi Alat Bukti Telusur Distributor

Faktur Pembelian Jadi Alat Bukti Telusur Distributor

  Kamis, 7 December 2017 10:05
RAZIA OBAT: Petugas BBPOM bersama beberapa petugas terkait memeriksa obat dan kosmetik yang beredar kawasan Jalan Asahan kemarin. Razia ini menemukan beberapa kosmetik tanpa izin edar dan harus diamankan petugas. SHANDO SAFELA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

PONTIANAK - Faktur pembelian kosmetik oleh penjual bisa menjadi bukti untuk melacak agen distributor kosmetik yang menjual kosmetik ilegal. Demikian dikatakan Kepala Balai Badan Pengawas Obat dan Makanan Kalimantan Barat, Cory Panjaitan usai menyita alat kosmetik yang tak sesuai izin yang diberlakukan di Pasar Kapuas Indah, Rabu (6/12).

Pengawasan kosmetik ilegal dan antisipasi peredaran zat berbahaya kosmetik dilakukan petugas BBPOM bersama petugas Polda Kalbar dan Satuan Polisi Pamong Praja Pontianak. Pantauan Pontianak Post, satu satu toko kosmetik tak lepas dari pemeriksaan.

Saat sidak, Kepala BBPOM Kalbar, Cory Panjaitan juga fokus pada faktur pembelian pedagang kosmetik. Ia bahkan mewanti-wanti pedagang agar faktur beli kosmetik yang didapat dari sales, agen atau distributor kosmetik penyuplai harus disimpan. 

Kata dia, jika ditemukan kosmetik ilegal atau mengandung merkuri, faktur ini bisa jadi alat melacak pemasoknya. "Tapi jika tak ada kami yang susah. Mau main tuduh bisa pencemaran nama baik. Makanya saya minta faktur ini disimpan baik-baik. Jika tidak pedagang nanti bisa diperkarakan," tegasnya.

Usai sidak, dijelaskan dia bahwa pengawasan ini dibagi tiga tim. Satu tim di Kapuas Indah, dua tim lagi memeriksa toko kosmetik di kawasan Pasar Tengah. Pengawasan ini jelasnya sebagai tindak lanjut dari sosialisasi pedagang kosmetik Pasar Kapuas Indah dan Pasar Tengah oleh BBPOM beberapa waktu lalu. "Kami mau lihat sekaligus evaluasi apakah sosialisasi yang diberikan tempo lalu ada dampaknya," terang Cory pada awak media.

Dari hasil pengawasan, laporan temuan beredarnya kosmetik ilegal dan mengandung zat berbahaya memang nihil. Namun, kata dia, ada alat kosmetik yang disita, yaitu pensil alis. Dijelaskan dia, disitanya barang tersebut dikarenakan cantuman produk masih menggunakan izin edar yang lama dengan kode CA. Harusnya kode sudah berubah NA. Dijelaskan bahwa kode CA merupakan izin edar sebelum harmonisasi Asean. 

"Kami sudah mulai harmonisasi Asean sejak 1 Januari 2012. Dengan mengikuti aturan itu artinya kosmetik yang diperjualbelikan di Indonesia, Kalbar khususnya standarnya sama dengan kosmetik di Asean," katanya.

Dia menjelaskan, sebenarnya pasar tradisional di kawasan Kapuas Indah dan Pasar Tengah ini telah dibina BBPOM. Bahkan sosialisasi ke pedagang sudah dilakukan dengan pengawasan rutin petugas tiap hari di pasar ini. Tapi, karena pasar ini diminati ibu-ibu sebagai tempat pembelian kosmetik, sehingga dikhawatirkan krim pemutih mengandung zat berbahaya beredar di sini. "Tapi sekali kami cek nihil," ungkapnya.

Kata dia, dampak pemakaian krim pemutih yang mengandung zat berbahaya itu tak baik buat kesehatan. "Selain bisa alergi, jika penggunaan berkelanjutan bisa gatal dan lama lama kulit hitam permanen. Campuran zat merkuri ini bahaya jika masuk dalam pori kulit tembus ke pembuluh darah bisa merusak ginjal," ungkapnya.

Pengecekan toko kosmetik juga dilakukan jelang Natal dan Tahun Baru. Menurutnya pada hari Natal dan Tahun Baru, masyarakat juga membutuhkan perlengkapan kosmetik. Takutnya, momentum hari raya dimanfaatkan oknum untuk mencari untung dengan menjual kosmetik ilegal dan berbahaya.

Peredaran kosmetik online juga jadi pantauan. Situ-situs penjualan kosmetik online bahkan sudah terdata. Untuk pengecekan situs kosmetik online pihaknya kerjasamakan dengan Polda. Nanti hasil pengecekan akan dikabarkan ke BPOM dan dilaporkan Kementerian Komunikasi dan Informasi. 

"Baru-baru ini saja kami menindak penjual kosmetik online. Sekarang dalam penanganan," katanya.

Salah satu pedagang kosmetik di Pasar Kapuas Indah, Afung (51) mengatakan, pengawasan yang dilakukan BBPOM Kalbar ini bagus. "Dengan begini kami (penjual) paham mana produk yang boleh dan tidak boleh dijual," katanya.

"Setahu saya kosmetik yang tidak boleh dijual itu kosmetik yang tidak ada kode NA. Kami sebelum ini sudah ada pembinaan dari BBPOM. Barang yang dijual di sini juga miliki izin semua. Asalnya dari distributor Pontianak semua. Kalau mau pesan tinggal pesan dan diantar oleh salesnya," terangnya.

Mengenai imbauan Kepala BBPOM tentang faktur pembelian yang harus disimpan diiyakan dia. Selama ini, terkadang faktur pembelian justru dibuang. Tapi setelah mendapat penjelasan, ke depan dirinya akan menyimpan faktur tersebut. Jadi jika terjadi satu hal faktur itu bisa menjadi bukti untuk mencari agen distributornya berada.(iza) 

Berita Terkait