Evakuasi Seperti Operasi Militer

Evakuasi Seperti Operasi Militer

  Sabtu, 24 Oktober 2015 12:41

Berita Terkait

JAKARTA – Penanganan bencana kabut asap di Kalimantan dan Sumatra mendapat perhatian serius pemerintah. Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, hari ini, Sabtu (24/10) akan ke Kalimantan untuk mempersiapkan evakuasi bagi masyarakat korban kabut asap. Kapal perang dipersiapkan untuk evakuasi tersebut. Luhut mengaku persiapan itu memang mirip operasi militer.

“Kami exercise. Besok kan saya pergi ke daerah, kami akan lakukan tapi persiapan-persiapan untuk itu sudah kami lakukan dengan cermat. Kami melakukan ini seperti operasi militer,” ujar Luhut di kantor presiden, Jakarta, Jumat (23/10).

Menurut Luhut, berbagai alternatif evakuasi dilakukan pemerintah. Terutama jika upaya pemasangan AC atau pembersih udara di rumah-rumah tidak berjalan maksimal. Pekan depan, imbuhnya, enam kapal perang disiapkan untuk pengungsian masyarakat. Evakuasi tidak lakukan secara massal. Kaum ibu dan anak-anak yang diprioritaskan ke kapal tersebut.

“Mungkin AC susah karena listrik. Kalau itu tidak bisa lagi pindah ke kota, misal dari Kalimantan ke Banjarmasin kami pindahkan ke situ. Kalau sampai tidak bisa kami sudah siapkan kapal untuk tampung mereka. Saya melakukan itu dengan dasar-dasar operasi militer untuk kemanusiaan,” imbuhnya.

Saat ini, kata Luhut, ada sembilan pesawat untuk penanganan karlahut. Salah satunya dari bantuan Rusia. Jenis pesawat yang digunakan adalah BE-200, air tractor dan pelikan. Pemerintah, ujarnya, berharap mendapat bantuan pesawat bombardir dari Kanada.

Luhut menyatakan, TNI Angkatan Laut telah menyiapkan kapal perang sebagai lokasi alternatif tempat pengungsian bagi para korban bencana kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan.

“Kami sudah persiapkan kapal perang maupun Pelni, untuk kalau diperlukan akan dijadikan tempat pengungsian di daerah-daerah tertentu, di Sumatera dan Kalimantan,” ujar Luhut.

Saat ini, ujarnya, sudah ada enam kapal TNI yang disiapkan. Ia sekaligus menampik sejumlah isu yang menyebut kapal-kapal tersebut disiapkan untuk penyelesaian masalah Laut Tiongkok Selatan.

“Kami siapkan ada enam kapal TNI, tiga atau dua nanti disiapkan di Kalimantan tergantung Panglima TNI instruksinya dan nanti di pantai dekat Sumatera,” imbuh Luhut.

Menurutnya, langkah evakuasi ini nantinya mengutamakan kaum ibu, anak-anak, dan lansia.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo melarang Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan untuk mendampinginya dalam kunjungan kenegaraan ke Amerika, Sabtu (24/10). Presiden Jokowi menugaskan Luhut untuk mengurusi kabut asap dan kahutla di dalam negeri.

“Presiden telah memutuskan untuk peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di bawah koordinasi Menkopolhukam, sehingga Menkopolhukam yang seharusnya persiapan berangkat ke Amerika, beliau tidak boleh berangkat karena harus menyelesaikan tanggung jawab di lapangan,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam jumpa pers di kantor presiden, Jakarta, Jumat (23/10).

Sabtu ini Luhut ditugaskan ke Kalimantan untuk menyelesaikan operasi kemanusiaan untuk penanganan kabut asap. Dia didampingi Menkes Nila Moeloek, Mensos Khofifah Indar Parawansa, dan Mendikbud Anies Baswedan. Menurut Pramono, ada 21 jajaran yang akan dikoordinasikan Luhut untuk penyelesaian masalah asap.

“Bertanggung jawab secara langsung pada presiden dan ini diharapkan akan lebih memudahkan pekerjaan yang akan dilakukan. Selain itu presiden telah meminta pada Menko PMK untukmempersiapkan hal yang berkaitan dengan bidangnya,” kata Pramono.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat gara-gara asap kebakaran hutan, sebanyak 450.431 orang terserang Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Angka ini hanya dari Juli hingga 22 Oktober 2015.  

"ISPA di Riau sebanyak 65.232 orang, 90.747 orang di Jambi, 101.332 orang di Sumatera Selatan, 43.477 orang di Kalimantan Barat, 52.213 orang di Kalimantan Tengah, dan 97.430 orang di Kalimantan Selatan,"beber Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (22/10).

Data ini hanya kiriman puskesmas dan rumah sakit di Sumatera dan Kalimantan, belum dihitung yang tidak dirawat di rumah sakit dan puskesmas. "Diperkirakan jumlah rill jauh lebih besar karena banyak tidak berobat ke puskesmas atau rumah sakit," Kata Sutopo.

‎Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes me‎nyatakan angka kematian akibat dampak kesehatan asap kebakaran hutan relatif kecil. "Ada tiga kemungkinan yang bisa berakibat fatal," ucap dia yang ditulis di blog pribadinya beberapa hari lalu. Pertama, infeksi memburuk ISPA yang berujung pneumonia. Bila daya tahan tubuh rendah, bisa fatal.

Kemudian memburuknya penyakit paru-paru dan jantung kronik terutama Lansia. Seperti PPOK eksasaserbasi Akut, Cor Pulmonale, gagal lanjut tak terkontrol.

Terakhir, ‎kematian yang timbul bukan karena penyakit tapi kecelakaan akibat kebakaran meluas maupun langsung karena apinya. (jpg)

Berita Terkait