Evakuasi Kelempiau

Evakuasi Kelempiau

  Kamis, 19 May 2016 09:30
Kelempiau

Berita Terkait

PONTIANAK- Setelah menerima penyerahan burung elang oleh warga di Pontianak, tim evakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat kembali menerima satwa liar berupa primata jenis Kelempiau dari seorang warga. 

Kepala Balai KSDA Kalbar Sustyo Iriyono mengatakan, proses evakuasi terhadap satwa Kelempiau berdasarkan informasi masyarakat yang ingin menyerahkan secara suka rela. Mendapat laporan itu, tim evakuasi BKSDA Kalbar_Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang turun ke lapangan untuk melakukan evakuasi satwa tersebut di Jalan A Kadir Kasim, Sekip Lama Kecamatan Singkawang Tengah, Singkawang, Selasa (17/5) pukul 11.55.

"Kami kembali melakukan evakuasi terhadap satwa liar, kali ini berupa primata jenis Kelempiau," kata Sustyo, kemarin.

Satwa tersebut, kata Sustyo telah dipelihara oleh pemiliknya, Dira Saputri warga Dr. Wahidin Sudiro Husodo Gg. Roda, Desa Baning, Kecamatan Kota Sintang, Kabupaten Sintang selama empat bulan. "Menurut keterangan sang pemilik, satwa itu hasil penyelamatan dari perburuan di area perkebunan di Sintang," katanya.

Saat dilakukan evakuasi, lanjut Sustyo, Kelempiau jantan itu dalam kondisi perut kembung dan berat badan kurus.  Saat ini, satwa tersebut dititip-rawatkan Lembaga Konservadi di Taman Satwa Sinka Zoo - Singkawang. "Untuk saat ini kami titip rawatkan di Lembaga Konservadi di Taman Satwa Sinka Zoo - Singkawang," pungkasnya.

Kelempiau (Hylobates albibarbis) adalah sejenis kera arboreal yang menyebar terbatas (endemik) di pedalaman Kalimantan, terutama di daerah bagian barat daya pulau di antara aliran sungai Kapuas (Kalbar) dan Barito (Kalteng). 

Dalam bahasa lokal dikenal sebagai kalaweit atau kalawet, dan dalam bahasa Inggris disebut Bornean white-bearded gibbon; Bornean agile gibbon; atau southern gibbon. Perkataan kalawet sendiri berasal dari bahasa Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah artinya "kera tanpa ekor".

Untuk status konservasinya, Kelempiau ini dikategorikan ke dalam status Genting (Endangered, EN) oleh IUCN, sebagian penyebabnya adalah hilangnya atau berkurangnya luas hutan rawa gambut yang menjadi habitat kera ini. (arf)

Berita Terkait