Etos Kerja Kosong

Etos Kerja Kosong

Senin, 24 July 2017 10:17   222

BAPAK Joko Widodo selaku Presiden RI di depan ratusan anggota Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di Jakarta Convention Center menyatakan, “Selama ini dipanggung kita terlalu banyak didominasi oleh jiwa-jiwa yang kosong atau jiwa-jiwa kering. Bangsa ini membutuhkan jiwa mulia, berintegritas, jujur, memiliki etos kerja dan moralitas kerja yang baik. Diyakini, satu diantara banyak prediktor kemajuan suatu bangsa adalah etos kerja yang dimiliki oleh bangsa tersebut. 

Ketika penulis berada di Jepang menyaksikan sendiri pentingnya etos dalam pembangunan bangsa, misalnya internalisasi etos “Bosido” dalam sebagian masyarakatnya yang diyakini menjadi prediktor kemajuan negara matahari terbit tersebut.

Para ahli mendefinisikan etos kerja sebagai totalitas kepribadian, karakter, watak, dan cara mengekspresi, memandang, meyakini, dan memberi makna atas sesuatu yang mendorong untuk bertindak dan mencapai hasil secara optimal sehingga pola hubungan antar manusia dengan dirinya, antara manusia dengan makhluk lainnya terjalin dengan baik. Etos kerja memiliki beberapa dimensi berikut, yakni: orientasi masa depan, menghargai waktu, tanggung jawab, hemat dan sederhana serta persaingan sehat.

Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia” mengemukakan bahwa etos bangsa Indonesia dicirikan beberapa hal berikut: hipokrit atau munafik, tidak bertanggung jawab, feodal, percaya pada tahayul dan lemah wataknya. Ensiklopedia klasik Britenica secara gamblang mengatakan bahwa bangsa ini dihuni oleh para pemalas. Namun Alatas seorang pakar sosiologi berkebangsaan Malaysia membantah keras atau tidak setuju terhadap asumsi Britanica tersebut sebagaimana dijawabnya dalam sebuah buku “Mitos Pribumi Malas”.

Seringkali dikeluhkan dan menjadi pembicaraan di tengah masyarakat kita masih banyaknya pengangguran atau belum bekerja, bahkan tidak sedikit diantara mereka telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Merespons keadaan masyarakat yang banyak menganggur tersebut, maka pemerintah dan/atau pihak swasta berusaha menciptakan lapangan kerja. Ternyata membuka atau menciptakan lapangan kerja belum juga menyelesaikan masalah karena kompleksnya persoalan ketenagakerjaan itu. 

Riset terhadap dua kelompok di masyarakat. Kelompok pertama mereka yang belum mendapat pekerjaan, sedangkan kelompok lain adalah mereka yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, seringkali kesibukan dalam pekerjaannya membuat ia kurang istirahat dan tidak sempat tidur dua hari-dua malam. 

Dua kelompok tersebut diberi tugas yang sama dengan tuntutan, target atau hasil kerja yang sama. Ternyata pekerjaan dua kelompok tersebut menunjukkan hasil kerja (kinerja) yang jauh berbeda. Kelompok pertama yang terdiri dari pekerja berpendidikan tinggi dan memiliki waktu yang cukup menunjukkan hasil kerja yang tidak jauh lebih baik dari pada kelompok pekerja yang dalam kesehariannya memiliki banyak pekerjaan atau sangat sibuk. Hal ini cukup menjadi bukti bahwa produktivitas, efektivitas dan efisiensi tidak semata-mata dipengaruhi oleh ketersediaan waktu, dana, manusia dan sumber daya lainnya.      

Kasus lain, penulis sering mendengar keluhan terhadap pegawai, baik Pegawai Negeri Sipil (PNS) di instansi pemerintah maupun pegawai swasta di berbagai dunia usaha. Para pegawai tersebut sebelum diangkat menjadi PNS dan/atau pegawai tetap atau masih berstatus honorer menunjukkan perilaku sangat baik, antara lain: rajin, disiplin, motivasi kerja tinggi dan penuh bertanggung jawab. Anehnya, setelah diangkat menjadi pegawai tetap dan PNS menunjukkan  berperilaku kurang profesional, antara lain: pemalas, tidak disiplin, kurang bertanggung jawab, dan motivasi terhadap pekerjaannya sangat rendah.

Kisah lain, penulis selaku dosen seringkali menemui mahasiswa terlambat masuk kuliah, namun mahasiswa yang keterlambatannya sangat mengganggu proses pembelajaran tersebut tanpa merasa bersalah, tanpa merasa malu, bahkan sempat tersenyum masuk ke ruang kelasnya. Demikian pula, dalam suatu rapat, sering ditemui pimpinan dan peserta rapat hadir terlambat tanpa merasa malu berdosa atau bersalah. Mereka lupa bahwa kebiasaan buruknya telah merugikan banyak pihak. Hal tersebut cukup menjadi bukti rendahnya etos kerja.  Semestinya, ketika ditemukan ada kesalahan, maka secepatnya kesalahan dan kekeliruaan tersebut dikoreksi agar kesalahan tersebut tidak menjadi kebenaran.    

Sekali lagi penulis tegaskan bahwa produktivitas, efektivitas dan efisien kerja sangat dipengaruhi atau ditentukan oleh etos kerja, bukan semata-mata disebabkan oleh ketersediaan sumber daya sebagaimana diyakini selama ini.

Pisau teoretik lainnya, dapat digunakan dalam memahami fenomena rendahnya etos kerja atau etos kerja kosong tersebut di atas, penulis kutip pendapat Atkinson, seorang pakar motivasi yang menyatakan bahwa etos atau motivasi kerja didasarkan atas: (1) keinginan untuk mencapai prestasi kerja, dan (2) ketakutan atau keinginan menghindari kegagalan atau kehilangan pekerjaan. 

Berdasarkan kerangka teoretik tersebut di atas, maka sangat beralasan, jika produktivitas rendah, kurang efektif dan kurang efisien dalam pekerjaan karena etos kerja mereka lebih disebabkan oleh keinginan menghindari kegagalan dan takut kehilangan pekerjaan, bukan dimotivasi untuk mencapai prestasi kerja yang lebih baik. 

Berdasarkan asumsi teoretik tentang etos kerja tersebut di atas, menurut penulis wacana yang digagas oleh Badan Kepegawaian Negera (BKN) mengenai guru dan bidan tidak berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) melainkan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), yakni menempatkan guru dan bidan sesuai kontrak kerja yang ditanda tangani dan perpanjangan perjanjiana kerja berdasarkan evaluasi kinerja yang bersangkutan perlu diperdebatkan sebelum menjadi sebuah kebijakan (Penulis, Dosen FKIP UNTAN dan Ketua PW KB PII Kalbar)

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019