Etika dan Kebebasan Mahasiswa

Etika dan Kebebasan Mahasiswa

  Sabtu, 20 February 2016 09:41   3,660

Oleh: Muh.Arif Rahman

“Hidup seorang intelektual pada hakikatnya adalah mengenai pengetahuan dan kebebasan”

-Edward W. Said-

            DARI Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Edward W. Said adalah seorang intelektual dan cendikiawan yang berkarya dalam bidang kebudayaan, sastra, musik, dan politik modern. Dalam salah satu karyanya (Buku Peran Intelektual kumpulan pidato Edward W. Said, 1998), ia mempertanyakan peran para kaum intelektual. Buah pemikiran Edward memang sangat menarik untuk dikaji oleh para cendikiawan dan kaum intelektual seperti misalnya mahasiswa. Namun disini penulis bukan ingin membahas perspektif para cendikiawan, mahasiswa ataupun yang lainnya terhadap pemikiran Edward. Namun penulis hanya ingin menekankan kepada rekan mahasiswa yang menyandang sebagai ‘kaum intelektual’ bahwa pengetahuan dan kebebasan yang dimilikinya harus digandengkan dengan etika.

Mahasiswa memang diharapkan mampu membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik, generasi penerus bangsa. Keluarga dan masyarakat memandang mahasiswa merupakan generasi yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi, berfikir dengan cerdas dan bertindak sesuai rencana-rencana. Penulis mengatakan pula, mahasiswa adalah kaum yang punya kebebasan dan merdeka. Mahasiswa bebas dalam berekspresi, menyampaikan pendapat, memilih golongan atau organisasi tertentu, bebas berkumpul dan lain sebagainya.

Pada dasarnya mahasiswa selalu ingin bersuara, mempertahankan pendapatnya, berdiskusi, berfikir kritis, mengkritik dan turun aksi ke jalan.  Kebebasan berfikir, berekspresi dan berpendapat memang hak setiap orang. Hal tersebut telah tertuang dalam peraturan perundang-undangan, UUD Republik Indonesia 1945, pasal 28 menyatakan: “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang“. Serta Pasal 28 E ayat (3): “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat“.

Namun sebagai kaum intelektual, dalam menjalankan tugasnya seperti yang penulis sebutkan sebelumnya, mahasiswa harus pula memperhatikan batasan-batasan dan etika. Mahasiswa dan etika sangat berkaitan erat. Jika mahasiswa mengetahui peranan etika, maka mereka dapat bertindak dengan sewajarnya, seperti ketika menyampaikan pendapat di muka umum, berinteraksi dengan dosen bahkan saat melakukan aksi di jalan.

Haryo Kunto Wibisono dkk, dalam sebuah catatannya menuliskan bahwa Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” dalam bentuk tunggal yang berarti kebiasaan. Etika merupakan dunianya filsafat, nilai, dan moral yang mana etika bersifat abstrak dan berkenaan dengan persoalan baik dan buruk. Dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan terutama tentang hak dan kewajiban moral, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan nilai mengenai benar atau salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Walaupun etika dan moral seringkali dianggap sama, namun kenyataanya keduanya berbeda. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), sedangkan moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Artinya disini, etika merupakan ilmu atau kajian tentang sistem nilai-nilai yang berlaku dan moral merupakan penilaian perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.

Etika adalah sebuah ilmu, bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan bagaimana kita harus hidup, bukan etika melainkan ajaran moral. Etika ingin mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral (Franz M. Suseno, 1987:14).

Jika berbicara tentang etika dan kebebasan mahasiswa, yang menjadi pertanyaan dalam kehidupan mahasiswa saat ini adalah apakah kebebasan mahasiswa sudah memperhatikan nilai etika ataupun moral? Apakah mahasiswa saat ini ada yang tidak merasakan kebebasan? Atau adakah mahasiswa yang tidak memilki etika? Semua itu kembali pada masing-masing mahasiswa. Mereka yang merasakan, mereka yang berfikir dan mereka yang bertindak.

Namun dewasa ini, bila kita perhatikan dan cermati secara umum dan luas, bukan hanya mahasiswa, perkembangan teknologi memang memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya. Melalui internet dan media sosial misalnya, manusia dengan leluasa berkata apa saja untuk siapa saja. Tanpa mempertimbangkan nilai etika, moral dan dampak atas kebebasannya, mereka menghina, menghujat, mempropaganda bahkan memprovokasi melalui tulisan-tulisan di media sosial atau media di internet lainnya. Seperti akhir-akhir ini sedang marak terjadi kecelakaan pada gender, suku bahkan keyakinan dan lain sebagainya. Itu merupakan hasil dari penggunaan kebebasan di era kemajuan teknologi seperti saat ini.

Dalam dunia mahasiswa, sering kali penulis mendengar kasus-kasus mahasiswa yang terjerat Undang-undang ITE, disangkut pautkan atas tuduhan pencemaran nama baik berbasis teknologi. Penulis bukannya ingin mengkaji tentang Undang-undang tersebut dan tidak membahas bagaimana tata cara mengkritik berbagai kebijakan kampus, menyampaikan pendapat kepada pejabat kampus atau siapapun itu. Namun penulis hanya ingin menekankan bahwa sebagai ‘kaum intelektual’ hendaknya mahasiswa berfikir lebih cerdas, tidak mudah terprovokasi dan mempertimbangkan segala sebab akibat sebelum bertindak. Penulis bukan pula membela mahasiswa dan menyudutkan pihak kampus atau sebaliknya.

Di zaman serba canggih dan modern ini sebuah etika memang sangat diperlukan, bukan hanya pada diri mahasiswa namun pada masyarakat luas pada umumnya. Franz M. Suseno menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Etika Dasar ‘Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral’ (Kansius, 1987), ada sekurang-kurangnya empat alasan mengapa etika zaman kita semakin perlu.

Pertama, kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik, juga dalam bidang moralitas. Setiap hari kita bertemu orang-orang dari suku, daerah dan agama yang berbeda-beda. Kita berhadapan dengan sekian banyak pandangan moral yang sering dan saling bertentangan dan semua mengajukan klaim mereka pada kita. Kedua, kita hidup dalam masa transformatif masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan itu terjadi di bawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan kita, yaitu gelombang modernisasi.

Ketiga, tidak mengherankan bahwa proses perubahan sosial budaya dan moral yang kita alami ini dipergunakan oleh pelbagai pihak untuk memancing dalam air keruh. Mereka menawarkan ideologi-ideologi dan etika dapat membuat kita sanggup untuk menghadapi itu dengan kritis dan objektif. Keempat, etika juga diperlukan oleh kaum agama yang disatu pihak menemukan dasar kemantapan mereka dalam iman dan kepercayaan mereka, di lain pihak sekaligus ingin berpartisipasi tanpa takut-takut.

Kita memang tidak bisa lari dan menghindar dari kehidupan zaman seperti ini. Namun kita, masyarakat dan mahasiswa pada khususnya hanya bisa mengendalikan kehidupannya masing-masing. Menggunakan pengetahuan dan kebebasan yang ada untuk berfikir dan melakukan tindakan-tindakan yang beretika dan bermoral. Semoga rekan-rekan mahasiswa dapat mempertanggung jawabkan julukannya sebagai ‘kaum intelektual’, kaum yang berpendidikan, bebas, beretika dan bermoral. Salam Perubahan!

 

Penulis

Anggota LPM Mimbar Untan