Energi Surya

Energi Surya

Minggu, 15 November 2015 09:53   997

LORENTIUS Wiro, salah seorang alumni Teknik Elektro Untan, 2015,  menyatakan di permukaan Bumi pencahayaan Matahari rerata sebesar 1000 W/m2. Radiasi rerata, di Indonesia,  per hari sebesar 5.12 kwh. Khusus di Pontianak, Irawan Rahardjo dan Ira Fitriana dalam tulisannya yang berjudul ‘Strategi Penyediaan Listrik Nasional Dalam Rangka Mengantisipasi Pemanfaatan PLTU Batubara Skala Kecil, PLTN, Dan Energi Terbarukan’, berdasarkan data tahun 1991-1993 menunjukkan bahwa intensitas radiasi sebesar 4.55 wh/m2.

Mereka berpendapat bahwa radiasi matahari berpotensi untuk membangkitkan energi listrik dan dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Khusus di Kalimantan Barat, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), berbahan baku radiasi Matahari, akan bersaing dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Bersama-sama dengan beberapa jenis energi yang lain, misalnya energi angin dan energi gelombang laut, energi surya digolongkan menjadi ‘energi terbarukan’-renewable energy. Energi terbarukan merupakan energi yang selalu tersedia di Bumi sepanjang Bumi belum musnah dibakar Matahari.

Arief Heru Kuncoro, dari Kementerian ESDM,  2011, menyatakan bahwa energi terbarukan berperan  penting dalam menjaga ketersediaan energi masa depan dan dapat membuat Indonesia mandiri dalam bidang energi. Ia memperkirakan pada tahun 2025, 25% kebutuhan energi dipenuhi oleh energi terbarukan ini. Namun, Suparman  dari Pusat Pengembangan Energi Nuklir, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) memperkirakan kontribusi energi terbarukan sebesar 17% . Tentu, sebagian di antaranya akan berbentuk energi surya.

Repit Sulistyono, dari  Indonesia Power Generation, 2011, menulis, “Assuming projected population growth in West Kalimantan province of 1.3% per year and the economic growth of 6.2%, the growth in electricity demand is expected to grow at an average of 7.6% per year”. Dengan angka-angka ini ada baiknya mulai memikirkan dengan lebih intensif pemanfaatkan energi surya.

Salim S. Maaji, Duaa Fatima S. Khan, Manas K. Haldar, Mujahid Tabassum, dari Swinburne University of Technology Sarawak Campus dan Prashobh Karunakaran dari Power Industry, Kuching, 2013, melakukan sumulasi penggabungan energi surya dan energi angin yang diintergrasikan pada jaringan Borneo: Sabah, Sarawak, Brunei dan Kalimantan Barat. Hasilnya cukup memuaskan.

Irawan Suharto, Wendhi Yuniarto, Wawan Heryawan, 2013, melakukan analisis ‘Offgrid System Energy Alternative Tenaga Surya’ untuk mengkonversi energi surya menjadi energi listrik skala kecil (kapasitas daya sebesar 500 W dan output system 220 Vac/50 Hz sinusoidal wave yang kualitasnya setara dengan output yang diberikan oleh PLN ke distribusi konsumen). Sistem Offgrid ini ditawarkan menjadi salah satu solusi kekurangan energi listrik di daerah terpencil di Kalimantan Barat.

Kho Hie Khwee, dari  Laboratorium Konversi Energi, Jurusan Teknik Elektro, Universitas Tanjungpura, 2013, menganalisis pengaruh temperatur pada kapasitas daya panel surya jenis monokristalin di Pontianak. Ternyata, energi panas dari radiasi matahari yang ikut terserap oleh panel bersama-sama dengan temperatur lingkungan sekitar panel dapat menaikkan temperatur sel-sel surya. Akibatnya,  daya listrik yang diproduksi oleh menurun. Ditemukan,  tiap kenaikan suhu satu (1) derajad Celcius pengurangan daya listrik panel sebesar 0.7113W.

Dalam agenda ‘Roadmap’ energi surya, PT PLN 2015, diprioritaskan pada daerah-daerah yang rasio elektrifikasinya rendah (kurang dari 60%) dan tidak tersdia energi terbarukan yang lain. Disebutkan bahwa sampai dengan tahun 2020 di Kalimantan Barat akan dibangun 63 Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) 40.1 MWp.

Mencermati ‘Roadmap’ PT PLN 2015 khususnya bagi Kalimantan Baratini  kiranya dapat mendorong para pakar energi surya Kalimantan Barat, khususnya Universitas Tanjungpura, untuk ambil bagian dengan harapan Kalimantan Barat menyala. Semoga!

Leo Sutrisno