Enam Jam Masuk Hutan, Dapatnya Hanya Secangkir

Enam Jam Masuk Hutan, Dapatnya Hanya Secangkir

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:52
TAK SEBANDING: Usman Tayib (kiri) dan Mastar Golek memperlihatkan sarang lebah buruan mereka di hutan. Khafidlul Ulum/Jawa Pos

Berita Terkait

 
Tidak mudah mendapatkan madu hutan di Sumbawa. Apalagi dalam cuaca kemarau basah seperti sekarang. Diperlukan perjuangan berat untuk menemukan madu yang diyakini bisa menjadi obat segala penyakit itu.

KHAFIDLUL ULUM, Sumbawa

Kabut tebal menutupi hampir seluruh Dusun Pamangong, Desa Lenangguar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), pagi buta itu dua pekan lalu. Saking tebalnya, rumah-rumah warga sampai tak terlihat dari pandangan mata.

Belum banyak penduduk yang keluar rumah. Mereka masih enggan menanggalkan selimut yang menghangatkan tubuh. Begitu pula saya yang hari itu menginap di pelosok dusun tersebut. Namun, rasa penasaran untuk berburu madu hutan menghilangkan rasa malas itu

Para pencari madu biasanya masuk hutan pada pagi hari. Itulah sebabnya, begitu persiapan selesai, saya pun keluar rumah untuk memulai petualangan berburu madu khas Sumbawa. Namun, seorang warga yang hari sebelumnya berjanji mengajak saya mencari madu ternyata tidak datang-datang. Sampai sekitar pukul 07.00, saya akhirnya menemui dua pencari madu yang kebetulan lewat di dekat warung tempat saya minum kopi.

Dua orang itu adalah Mastar Golek, 40, dan Usman Tayib, 64. Tek, sapaan Mastar Golek, memikul kayu yang di belakangnya terikat timba kecil berwarna oranye. Timba tersebut berisi tali tampar dan jeriken 5 liter. Selain itu, dia membawa tas hitam, parang, dan seikat kayu cabi olat. ”Kayu ini buat asap,” kata Tek. Sementara itu, Man (panggilan Usman Tayib) membawa tas putih dan parang.

Saya pun meminta izin ikut masuk hutan bersama mereka. Keduanya tidak keberatan. Saya akhirnya mengikuti dua warga Lenangguar tersebut masuk hutan lebat Sumbawa. Untuk mempercepat perjalanan, kami diantarkan beberapa orang dengan sepeda motor menuju Lanak, ladang di pinggir jalan beraspal yang menjadi akses menuju hutan. Jarak Lanak dari warung kopi tadi sekitar 3 kilometer.

”Jangan percaya dengan jarak yang disebut orang sini,” bisik Lukman, orang yang mengantarkan kami.

Dari Lanak, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sebelum masuk hutan, kami harus melewati beberapa ladang luas yang berada di atas bukit. Ladang itu lebih banyak ditumbuhi rumput. Ada sebagian yang ditumbuhi tanaman kacang hijau. Namun, tanaman tersebut kalah tinggi dengan rumput liar.

Setiap ladang ditutup dengan pagar kayu. Jadi, saat melintas, kami harus membuka pagar kayu dan kembali menutupnya. ”Ladang ini harus diberi pagar agar tidak dimasuki hewan. Kadang ada babi hutan yang masuk dan merusak ladang,” terang Tek.

Setelah melintasi ladang, kami baru masuk ke hutan. ”Berapa jauh masuknya?” tanya saya. ”Dekat kok, sekitar 1 kilo,” jawab Tek melegakan hati.

Di ”pintu” masuk hutan kami sudah disambut pohon-pohon besar. Perjalanan kami juga lebih mudah karena sudah ada jalan setapak yang bisa dilewati. Kami juga menemui banyak buah piko yang berserakan di tanah. Buah itu kesukaan monyet. Tak heran bila di sekitar buah-buah tersebut berjatuhan, kami juga mendapati monyet-monyet yang menatap kami dengan curiga.

Selain monyet, ayam hutan juga dengan mudah dijumpai. Kami harus naik turun gunung dan melintasi beberapa sungai kecil untuk sampai ke lokasi yang banyak sarang lebahnya. Kami juga melewati padang sabana yang cukup luas. Di sana banyak sapi yang dibiarkan merumput oleh pemiliknya.

Sekitar dua jam masuk hutan, kami belum juga sampai. Saya baru paham dengan apa yang dikatakan Lukman sebelum masuk hutan: jangan percaya dengan jarak tempuh yang disebutkan orang desa. Sebab, saat itu jarak yang kami tempuh bukan 1 kilometer, melainkan sudah sekitar 6 kilometer. Tek dan Man mengajak istirahat di pinggir hutan. ”Sebentar lagi sampai,” ucap Man.

Menurut Man, walaupun sudah berusia 64 tahun, dirinya masih tetap kuat masuk hutan dan naik turun gunung. ”Pelan-pelan saja. Yang penting sampai,” tuturnya.

Setelah 15 menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini medan yang kami lewati lebih sulit. Kami harus naik ke bukit yang tidak ada jalan setapaknya. Maka, kami berjalan sambil membabat belukar berduri di depan kami. Walaupun sudah berhati-hati, tetap saja tangan saya tertusuk duri. Darah mengalir. Meski begitu, kami terus masuk ke hutan lebat. Saat itu rasa haus mulai menghampiri kerongkongan, tapi saya tahan. Apalagi, saya juga lupa membawa bekal air minum.

Setelah menempuh medan berduri, kami akhirnya sampai di pohon beringin cukup besar yang tingginya sekitar 25–30 meter. ”Kita sudah sampai,” ucap Tek sambil meletakkan barang bawaannya.

Saya penasaran dengan sarang lebah yang akan diambil madunya oleh Tek dan Man. Tek lalu mengajak saya berjalan sekitar 30 meter dari pohon beringin itu. Dia kemudian membabat ranting pohon di atas kami. Setelah dedaunan dan ranting ditebang, baru terlihat sarang lebah yang menggantung di dahan pohon beringin. Cukup besar. Luasnya sekitar 30 cm x 1 meter.

Saya melihat wajah Tek dan Man berbinar. Mereka tidak sabar untuk memetik madu yang ada dalam sarang itu. Keduanya lalu menyiapkan peralatan untuk naik ke pohon. Tek memotong dedaunan. Selanjutnya daun itu diikat. Dia kemudian memasukkan kayu cabi olat di tengah ikatan daun tersebut. Dia juga memasukkan karet ban. Daun yang sudah kering itu pun dibakar. Asap mengepul.

Sementara itu, Man mengikat timba di pinggangnya. Tali tampar yang cukup panjang diikat pada timba tersebut. Man juga membawa ikatan daun yang mengepulkan asap. Asap itu digunakan untuk mengusir lebah.

Dengan lincah Man mulai memanjat pohon beringin. Hanya sekitar lima menit, Man sampai ke dahan yang ada sarang lebahnya. Dia lantas memukul-mukulkan daun berasap untuk mengusir lebah yang siap menyengat tubuh orang yang akan mengambil madu.

”Lowas, lowas,” teriak Man dari atas pohon. ”Lowas,” ucap Tek. Air mukanya berubah. Dia tidak secerah sebelumnya. Saya sempat bertanya mengapa.

Menurut Tek, sarang lebah telah lowas, sudah mulai mengering dan tidak ada isinya. Saya ikut lemas. Sudah jauh-jauh masuk hutan, ternyata tidak ada madunya. Man kemudian membawa turun sarang lebah. Betul saja, sarang itu sudah mengering. Namun, masih ada sedikit madunya.

Saya sempat mencicipi cairan berwarna kuning kecokelatan itu. Rasanya manis dan sangat segar. Berbeda dengan madu yang dijual di pasaran. Untuk sarang 1 meter tersebut, madunya hanya sekitar satu cangkir.

Tek kembali mengajak kami masuk ke hutan untuk mencari sarang lebah yang lain. Sekitar 30 menit mencari, belum juga ditemukan pohon yang menjadi sarang lebah. Rasa haus kembali menyerang. Ternyata tidak ada di antara kami yang membawa air minum. Tek dan Man berusaha mencari air dengan menebang pohon. Namun, batang pohon itu tidak mengeluarkan air. Terpaksa kami menahan haus.

Kami memutuskan cepat-cepat turun gunung dan keluar dari hutan. Siang itu matahari begitu terik. Padang rumput yang sebelumnya sejuk berubah menjadi panas. Setelah keluar dari hutan, kami sampai di ladang milik Arsyad, warga setempat. Kami mampir di rumah Arsyad. Pria bertubuh jangkung itu lalu memberi kami air putih dan kopi hitam. Dahaga pun sirna.

Arsyad mengatakan, sehari sebelumnya ada dua orang yang juga melintas di ladangnya. Mereka masuk hutan mencari madu. Namun, saat pulang, mereka juga tidak mendapat madu. ”Sebenarnya sekarang sudah musim (madu), tapi masih hujan. Jadi, ya jarang ada madu,” terang dia.

Biasanya, kalau cuaca normal, mulai Juli sudah banyak sarang lebah yang telah menghasilkan madu. Tak harus masuk hutan, di pohon dekat ladang Arsyad saja sering ada sarang lebah yang siap diambil madunya.

Tek bercerita, bila musim madu tiba, umumnya dirinya bisa membawa pulang 5–20 liter madu setiap kali berburu. Satu sarang bisa menghasilkan lebih dari 5 liter madu. Madu-madu murni itu dimasukkan ke botol-botol berukuran 650 mililiter dan dijual Rp 60–70 ribu. ”Lumayan lah, uangnya bisa dipakai untuk makan,” ujarnya.

Sementara itu, fasilitator Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) Julmansyah menjelaskan, kondisi cuaca sekarang di Sumbawa masih belum menentu. ”Istilahnya kemarau basah. Sebenarnya sudah masuk musim kemarau, tapi kadang masih turun hujan,” katanya.

Dampaknya, pepohonan di hutan tidak berbunga. Hanya sedikit lebah yang membuat sarang. Produksi madu hutan pun sedikit. ”Dalam kondisi seperti itu, sulit berharap bisa panen madu hutan 3 sampai 5 ton semusim,” ujar dia. (*/c9/ari)

Berita Terkait