Empat Orang Utan Masuk Kebun Warga

Empat Orang Utan Masuk Kebun Warga

  Kamis, 19 November 2015 09:47
TRANSLOKASI: Tim dari YIARI, BKSDA, dan PT KAL, saat menranslokasikan empat individu orang utan dari perkebunan karet milik warga. YIARI FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

KUALA TOLAK – Empat individu orang utan masuk ke perkebunan karet milik warga di Jalan Siduk – Ketapang, tepatnya di kilometer 3 – 4 Kecamatan Matan Hilir Utara (MHU). Keempat individu yang terdiri dari tiga orang utan dewasa dan satu bayi ditranslokasi ke area high conservation value (HCV) PT Kayung Agro Lestari (KAL).

Untuk memindahkan keempat orang utan tersebut, terlebih dahulu harus dibius. Tim yang terdiri dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Ketapang bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ketapang dan PT KAL, berhasil menranslokasi empat orang utan tersebut, Selasa (17/11).

Keempat orang utan ini sendiri diketahui oleh warga sedang berada di kebun karet milik warga. Karena tidak ingin terjadi apa-apa terhadap primata yang dilindungi ini, warga pun melaporkannya ke YIARI. Menerima laporan warga, YIARI pun langsung mengirimkan Tim Human-Orangutan Conflict Response Team (HOCRT) untuk melakukan verifikasi dan survei.

Manager Program YIARI Ketapang, Gail, mengatakan, beberapa individu orang utan tersebut terjebak di hutan dekat perkebunan warga. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Barat SKW I Ketapang, untuk membahas operasi penyelamatan primata-primata tersebut."Dari hasil diskusi diputuskan bahwa orang utan ini akan ditranslokasikan ke area High Conservation Value PT Kayung Agro Lestari. Lokasi ini dipilih karena berada tidak jauh dari lokasi penemuan orang utan," kata Gail.

Manager Konservasi PT KAL, Nardi, mengatakan, sesuai dengan komitmen PT KAL terhadap pengelolaan dan penyelamatan lingkungan, maka pihak perusahaan mengalokasikan areal seluas 3.884 hektare sebagai areal konservasi (HCV). "Kami juga menerjunkan Tim Satgas Konservasi, untuk membantu proses translokasi dan menyediakan hutan seluas 2.330 hektare sebagai tempat pelepasan orang utan," katanya. "Kondisi hutan yang bagus serta adanya pohon pakan juga akan menjamin kelangsungan hidup orangutan di sini," lanjutnya.

Operasi penyelamatan ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB. Penyelamatan menggunakan cara senapan bius, karena orang utan yang akan dipindahkan adalah jenis satwa liar.Orang utan yang pertama diselamatkan adalah berjenis kelamin betina, berusia sekitar 6 tahun bernama Ana. Penyelamatan berjalan lancar. Dengan sekali tembak, Ana tidak sadarkan diri dan tim penyelamat siap menyambut di bawah dengan jaring. Koordinator Tim Medis YIARI Ketapang, drh Ayu, memastikan jika kondisi Ana sangat bagus, sehingga bisa langsung ditranslokasikan.

Penyelamatan kedua juga dilakukan terhadap orang utan jenis betina lainnya bernama Ina, yang hanya berjarak 500 meter dari Ana. Proses penyelamatan ini juga berjalan lancar. Ina diketahui hamil setelah drh Ayu melakukan pemeriksaan. "Hamil, karena waktu diperiksa terasa ada bentuk kepala dan badan di perut Ina. Ia mengalami dehidrasi," katanya Ayu.

Orang utan terakhir yang diselamatkan juga berjenis kelamin betina bernama Novia dan bayi orang utan berjenis kelamin jantan bernama Noval. Perlu tiga kali penembakan bius, karena obat yang digunakan tidak masuk ke tubuh orang utan betina yang diperkiran berusia lebih dari 20 tahun ini. Setelah terbius, badannya pun tersangkut di pohon, sehingga salah seorang animal keeper YIARI harus memanjat setinggi 20 meter, untuk mengambil induk orangutan dan bayinya.

Setelah semua orang utan sadar, mereka dibawa dalam kandang transportasi menuju hutan konservasi PT KAL. Hasil survei Tim YIARI menyatakan hutan konservasi PT KAL seluas lebih dari 2.300 hektare, dianggap cukup layak sebagai tempat pelepasan mereka. "Melihat kondisi hutan, pohon pakan, dan jumlah individu yang ada di sana, kami rasa HCV PT KAL layak untuk dijadikan tempat pelepasan," ujar Gail.Total bulan ini YIARI telah menyelamatkan 6 individu orang utan. Sementara di bulan Oktober lalu, YIARI melakukan 11 kali penyelamatan orangutan. (afi)

 

Berita Terkait