Elang Emas Itu Menghunjam Bumi

Elang Emas Itu Menghunjam Bumi

  Senin, 21 December 2015 10:09
Foto dari Merdeka CoM

JOGJAKARTA – Tepuk tangan dan decak kagum terdengar di arena Gebyar Dirgantara Yogyakarta 2015 saat si ”Elang Emas” melesat ke angkasa Minggu pagi kemarin (20/12). Namun, cerminan suasana riang di kompleks Bandara Adisutjipto itu seketika menjadi hening.

Setelah melakukan aksi akrobatik dan terbang rendah (low pass), tiba-tiba pesawat Golden Eagle yang dipiloti Letnan Kolonel Marda Sarjono, komandan Skuadron XV Madium, dan kopilot Kapten Dwi Cahyadi menukik ke bawah, lalu tidak terlihat terbang lagi. Dari kejauhan, hanya terlihat asap hitam membubung. Sekitar seratus pengunjung ajang air show dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-70 Sekolah Penerbang AAU itu tahu betul bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Dalam jumpa pers dua jam setelah insiden, Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto Marsma TNI Imran Baidirus mengatakan, pesawat jatuh setelah beratraksi 15 menit di udara. Saat bermanuver, tiba-tiba pesawat jatuh di halaman timur Lanud Adisutjipto. ”Saat itu diperkirakan ketinggian 500 feet (kaki, Red). Jatuh pada pukul 09.53 WIB,” jelas Imran, kemarin.

Setelah menghunjam ke tanah, pesawat terbakar. Nahas, kedua penerbang, Letkol Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi, tidak sempat loncat keluar sebelum pesawat jatuh ke tanah. Pihaknya juga menjelaskan, insiden tersebut merupakan kecelakaan tunggal.

Imran menambahkan, dari hasil penelusuran data perawatan, saat hendak terbang, pesawat berada dalam kondisi baik dan layak. ”Pesawat tersebut ber-home base di Madiun dan dalam keadaan baik saat terbang,” terang dia.

Mengenai penyebab pasti kecelakaan, Imran menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan investigasi. Dalam proses tersebut, TNI-AU akan melibatkan pihak produsen dari Korea Selatan. ”Kami berusaha menemukan penyebab kecelakaan secepatnya,” tutur Imran.

Dia menambahkan, saat ini puing pesawat tidak boleh dipindahkan sampai ada tim investigasi yang datang. ”Kami masih menunggu tim investigasi. Tidak ada evakuasi karena sudah ditemukan jenazah keduanya,” ungkapnya.

Imran juga menjelaskan, pesawat Golden Eagle yang jatuh itu masih tergolong baru. TNI-AU membelinya tiga tahun lalu dari Korea Selatan.

 

Ditutup Terpal

Berdasar pantauan, jatuhnya pesawat T-50 Golden Eagle dalam rangkaian acara Gebyar Dirgantara Yogyakarta 2015 langsung mengundang perhatian masyarakat.

Mereka segera berbondong-bondong mendatangi TKP di ujung barat kompleks Akademi Angkatan Udara (AAU). Lokasi tersebut berbatasan langsung dengan Dusun Telogowono, Tegaltirto Berbah, Sleman.

Masyarakat yang ingin tahu kondisi pesawat dengan susah payah menyeberangi Kali Kuning. Agar melihat TKP lebih jelas, mereka masih harus memanjat pagar setinggi sekitar 2 meter yang mengelilingi kompleks AAU. Saking banyaknya masyarakat yang berdatangan, warga sekitar memanfaatkan dengan menarik uang parkir Rp 2 ribu per kendaraan.

Personel TNI-AU, rupanya, bergerak sigap mengamankan TKP. Dari balik tembok terlihat benda yang ditutupi terpal dan diduga bangkai pesawat. Benda tersebut terlihat dikelilingi garis polisi. Tidak ada aktivitas yang terlihat di sekitar TKP.

”Saya nggak lihat, tapi dengar suara dengungannya keras sekali. Makin lama makin keras, terus terdengar suara ledakan,” ujar Ratri, warga Telogowono, yang rumahnya tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat. Suara ledakan tersebut kemudian diiringi suara sirene pemadam kebakaran dan ambulans. Dia yang saat itu berada di dalam rumah langsung keluar dan melihat asap mengepul dari kejauhan.

Seorang warga lain sempat melihat pesawat bermanuver ke kanan dan ke kiri sebelum mengeluarkan asap dan jatuh. Warga lalu berdatangan untuk melihat sisa bangkai pesawat dari balik pagar tembok. Terlihat tiga benda yang ditutup terpal yang diduga merupakan bangkai pesawat. Penjelasan juga disampaikan pihak Mabes TNI-AU. Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto menyatakan, sebelum jatuh, pesawat dari Skuadron XV Lanud Iswahjudi Madiun itu sempat memperlihatkan manuver yang memukau ribuan pengunjung Gebyar Dirgantara. Namun, pada pukul 09.53, pesawat buatan Korea Aerospace Industries (KAI) itu jatuh setelah melakukan manuver low pass (terbang rendah).

Dwi menegaskan, sebelum peristiwa tersebut terjadi, pihaknya tidak menemukan tanda-tanda kerusakan pada mesin pesawat. Bahkan, dua hari menjelang pertunjukan, seluruh pesawat dan penerbang sudah mempersiapkan diri dengan baik di Jogja. ”Sabtu sudah melakukan atraksi dan sukses,” tutur Dwi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin.

Karena itu, kemarin Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna langsung membentuk panitia penyelidik kecelakaan pesawat terbang (PPKPT) yang dipimpin wakil KSAU untuk mencari penyebab insiden tersebut. Pesawat itu tergolong baru karena didatangkan pada 2013. Dengan demikian, potensi kerusakan mesin relatif kecil.

Dalam investigasi, tim dari TNI-AU akan mengundang produsen, yakni KAI. Dwi menjelaskan, setidaknya ada lima hal yang akan diteliti untuk mencari penyebab kecelakaan. Yakni, manusia, mesin, media, misi, dan manajemen. ”Mungkin hasilnya bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun,” ujarnya saat ditanya soal waktu yang dibutuhkan untuk investigasi.

Disinggung soal kemampuan pilot dan kopilot pesawat itu, Dwi memastikan bahwa keduanya memiliki kemampuan yang mumpuni. Kapten Dwi Cahyadi, alumnus AAU 2005, merupakan salah seorang penerbang andalan Skuadron XV. Sementara itu, Letkol Marda Sarjono merupakan lulusan terbaik AAU 1997 yang saat ini menjabat komandan Skuadron XV Lanud Iswahjudi. ”Diberi tanggung jawab sebagai komandan skuadron, tentu dia orang pilihan,” terangnya. Langkah yang sudah diambil, tim investigasi sudah dikirim ke Jogja untuk mencari dan menentukan penyebab kejadian itu.

Terkait dengan beredarnya video amatir di dunia maya, pihak TNI-AU belum mau berkomentar. Pihaknya masih menunggu hasil resmi dari tim investigasi. ”Sumber percayakan kepada saya. Ini baru dalam proses penyidikan. Jangan percaya video amatir,” terangnya.

Jika melihat tayangan video amatir yang beredar, pesawat itu tampak seperti kehilangan tenaga saat bermanuver ke atas. Berbeda dengan keterangan TNI-AU bahwa pesawat jatuh setelah melakukan low pass.

Sementara itu, pengamat penerbangan Dudi Sudibyo menyatakan, agak sulit menganalisis penyebab jatuhnya pesawat saat akrobatik. Sebab, adegan-adegan berbahaya sengaja dilakukan untuk memberikan suguhan bagi yang menyaksikan.

Namun, berdasar tayangan video yang dia lihat, kemungkinan kerusakan mesin pada pesawat tersebut sangat kecil. Selain pesawat masih baru, dia tidak melihat upaya pilot untuk keluar dengan kursi lontar jika memang terjadi kerusakan. ”Karena waktu dan kesempatan untuk melakukannya cukup ada,” ujarnya.

Karena itu, Dudi melihat musibah tersebut sebagai technically error. ”Dia melakukan manuver yang lux (istimewa, Red). Hanya, jarak dengan daratan terlalu rendah. Jadi, tidak ada ruang untuk dia bisa mengudara lebih tinggi,” kata mantan pemimpin redaksi majalah Angkasa tersebut.

Hal senada disampaikan Presiden Federasi Pilot Indonesia Kapten Hasfrinsyah. Menurut dia, sulit menganalisis penyebab jatuhnya pesawat akrobatik hanya melalui tayangan video. Sebab, melakukan aksi berbahaya hingga terbang rendah sudah menjadi makanan utama. ”Pilotnya juga benar-benar sudah terlatih,” ujar pilot yang sudah mengudara 38 tahun tersebut. Sementara itu, kemungkinan rusaknya mesin juga sangat minim jika melihat usia pesawat yang baru dua tahun. (far/c11/kim)