Eksploitasi Perumahan Gusur Mata Pencaharian

Eksploitasi Perumahan Gusur Mata Pencaharian

  Minggu, 21 Agustus 2016 10:15
TERIMA BANTUAN: Imah, perempuan pencari pakis, diberi sedikit bantuan oleh SG Foundation di kediamannya. SG FOUNDATION FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Tanah luas, semak belukar yang dulunya surga bagi Imah (60), untuk mencari pakis, tak lagi hijau. Pertumbuhan pembangunan perumahan oleh pengembang tiap tahunnya mengalami peningkatan. Kini, ia harus rela berpeluh keringat hingga berjam-jam demi seikat pakis yang akan dijual. 

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

LELAH di wajah Imah, perempuan yang kesehariannya menjual pakis, jelas terlihat. Sore itu ia sedang membawa pakis hasil rambanannya. Langkahnya gontai menjinjing pakis, menelusuri jalan aspal berdebu. Peluh keringat bercucuran di wajah keriputnya pun sudah tak dihiraukan, demi berikat pakis yang jadi penyambung hidup laku terjual.

Pakis yang didapat dari semak belukar itu ia dapat tak jauh dari kediamannya, Gang Damai 4, Kecamatan Pontianak Selatan. Namun tak jarang, ia harus berjalan kaki ke semak belukar jauh dari rumah. Penyebabnya karena kini pakis sulit dicari. Lahan semak belukar tempat tanaman pakis tumbuh saat ini semakin sedikit, akibat lahan yang berubah fungsi.   

Di separoh usianya itu, ia harus berjuang mendapatkan rupiah untuk menyambung hidup dia dan sang suami yang sudah tak mampu lagi bekerja karena sakit-sakitan. Sudah beberapa tahun ini Imah harus menjadi pencari pakis. “Dulu suami kerja tukang, tapi kini sakit-sakitan, jadi tak mampu kerja. Saya cari pakis untuk keperluan hari-hari,” ungkapnya.

“Tapi sekarang pakis susah dicari. Tak seperti beberapa tahun lalu, sebelum  berkembangnya perumahan. Untuk dapat pakis, saya harus jalan jauh cari semak belukar yang ada pakisnya,” tutur Imah, sambil mengelap keringat di wajah keriputnya.

Tak mudah bagi dia untuk mendapat puluhan ikat pakis. Dari pukul 12 siang hingga terdengar azan magrib adalah waktu dia mencari pakis. Jika dikumpul, dalam sehari maksimal 30 ikat pakis mampu dihimpunnya. Namun kondisi menjadi susah bagi dia, ketika tak sedang musim pakis. Ia harus keluar masuk semak belukar yang jauh dari rumahnya, melewati beberapa kompleks perumahan. Jika nasib sedang apes, tak jarang pakis pun tak ditemuinya. 

Diceritakan dia, pertumbuhan pembangunan perumahan dari tahun ke tahun begitu tinggi. Dulu, sebelum semak belukar tempatnya mencari pakis jadi kompleks perumahan, ia tak kesulitan mendapat pakis. Cukup di sekitaran rumahnya, pakis dapat diramban. Tetapi sekarang jenis dedaunan tersebut kini sudah sulit ditemui.

Untuk harga pakis, Imah tak mematok tinggi. Perikatnya ia jual Rp2 ribu. Meski harganya tak mahal, namun pakisnya kerap tak laku karena layu. Selain dijual ke penampung, ia juga menawarkan pakis dengan penduduk kompleks sekitaran rumahnya. Kalau soal laku atau tak laku, dikatakan dia, tergantung rezeki. Jika tak laku, pakis pun dimakannya sendiri. Karena jika tak dimasak, akan layu. Agar tetap segar, biasanya Imah mencuci bersih dan merendamnya. Menurutnya, dengan cara tersebut pakis bisa bertahan agak lama. Paling tidak sampai besok pagi.

Hasil penjualan pakis ia gunakan untuk hari-hari. Terutama untuk makan dan minum. Kini ditanaman pakis inilah ia gantungkan hidupnya. Meski kini pakis sulit dicari akibat pertumbuhan perumahan terus meningkat,  sedikit pun ia tak mengeluh. “Jika kita mau berusaha, selalu ada rezeki untuk kita. Seberapa besar rezeki yang didapati harus disyukuri,” ucapnya tersenyum. (*)

Berita Terkait